Istri Tuan Arga

Istri Tuan Arga
S2-episode 57


__ADS_3

Dan mulai saat itulah Angga menjadi semakin dekat dengan keluarga Orin. Bahkan mereka memboyong Angga dan juga neneknya untuk tinggal di paviliun samping rumah mereka. Awalnya tentu saja Angga menolak, merasa tidak enak dan juga berlebihan. Tapi melihat sorot memohon dari mata Orin, Angga pun tak kuasa. Laki-laki itu menuruti semua yang diinginkan Orin.


Semakin hari Orin semakin menempel saja pada Angga, bahkan Noel yang notabenenya kakaknya sendiri tidak sedekat itu dengannya. Setiap hari tidak ada satupun tingkah Orin yang membuat Angga kesal. Angga hanya menganggap jika Orin hanya butuh perhatian dari orang-orang yang lebih dewasa darinya sebab orang tuanya sibuk begitu dengan kakaknya.


"Kakak mau berangkat ke sekolah?" Tanya Orin kecil yang masih berusia enam tahun itu.


Angga yang sudah hendak mengendarai motornya itu pun kembali turun melihat Orin yang berdiri di sana. Dia kembali melepaskan helmnya berjalan menghampiri Orin. Hari ini dia lupa berpamitan dengan gadis kecil itu sebab terburu-buru.


"Iya, maaf lupa tidak ke rumah utama dahulu. Kakak sedikit buru-buru karena ada sedikit urusan." Ucapnya lalu mengacak rambut Orin yang masih berantakan karena baru bangun tidur itu. Kini Angga sedikit bisa bernafas lega, Orin sudah banyak berubah setelah kejadian penculikan itu. Dulu Orin hanya berdiam diri di kamar. Tidak mau bicara dengan siapapun kecuali dengan keluarganya. Namun semakin hari Orin mulai berangsur melupakan kejadian tersebut. Tepatnya tiga bulan setelah kejadian itu Orin baru mau keluar dari kamarnya dan menyapa beberapa pelayan yang ada. Selain itu Orin juga mulai mau belajar kembali meskipun harus homeschooling.


"Untuk kakak tadi nenek bilang kakak belum sarapan hanya minum susu saja!" Kata Orin kemudian menyerahkan kotak bekal makanan pada Angga.


"Terimakasih!" Jawabnya dengan senang hati kemudian menyimpan kotak bekal tersebut ke dalam tasnya. Mungkin kebanyakan anak SMA seusianya akan merasa malu jika ketahuan membawa bekal apalagi mereka seorang pria tapi itu tidak berlaku untuk Angga. Laki-laki dengan tinggi 180 sentimeter itu lebih senang membawa bekal ke sekolah apalagi yang memberikan bekal tersebut adalah Orin gadis kecil yang sudah membuat jungkir balik dunianya sejak awal bertemu.


"Jangan bandel ya! Kasihan Miss Merry!" Miss Merry adalah guru Orin, terkadang beliau mengeluh jika Orin beberapa kali mengerjai gurunya tersebut. Dulu Angga juga sempat melakukan homeschooling beberapa bulan karena Orin benar-benar tidak mau ditinggal olehnya. Karena Daddy Arga merasa tidak enak akhirnya memutuskan Angga juga mengikuti homeschooling sama seperti putrinya meskipun dengan guru yang berbeda. Seluruh keluarga Orin tidak pernah menganggap Angga dan neneknya adalah orang luar. Mereka sudah menganggap Angga dan neneknya seperti keluarga sendiri.


"Kakak juga jangan genit-genit ya!" Ucapnya sambil mengedipkan sebelah matanya dimana membuat Angga semakin gemas saja.


"Hey kau belajar darimana kata-kata seperti itu?" Tanya Angga dengan nada terkejut seolah-olah dirinya memang sedang terkejut. Karena gemas dia pun mencubit pipi gembul Orin. Sementara Orin hanya tertawa mendengar ucapan Angga.

__ADS_1


Dia senang Angga sekarang benar-benar berada di dekatnya. Entah kenapa dia merasa lebih senang berada di dekat Angga dengan Noel. Mungkin karena Noel adalah orang yang dingin dan menurut Orin hidupnya flat-flat saja. Noel jarang bermain, sebagian waktunya di habiskan untuk belajar dan belajar. Tak jarang dia mendapati sang kakak yang tertidur diatas bukunya. Diwaktu liburnya terkadang hanya diisi dengan berlatih bermain golf, berkuda dan yang lainnya yang biasa dilakukan oleh para tuan muda.


"Masuklah kembali dan beristirahat sebelum Miss Merry datang!"


"Baiklah baiklah tapi nanti sepulang sekolah jangan lupa bawakan aku ice cream sebagai tanda terimakasih sudah menyiapkan bekal untukmu!"


"Jangan terlalu banyak makan ice cream nanti mommy akan memarahimu!" Peringat Angga pada gadis kecil itu. Sementara Orin tetap pada sifat keras kepala dan tidak mau dibantahnya. Awalnya lidah Angga terasa lucu memanggil orang tua Orin dengan sebutan mommy dan Daddy. Merasa lucu saja sementara orang tua kandungnya saja membuangnya dan sekarang ada orang tua lain yang malah dengan suka rela dipanggil oleh mommy dan Daddy. Takdir Tuhan memang tidak bisa ditebak oleh akal manusia.


Angga pun hanya menyebikkan bibirnya, padahal dia tidak meminta Orin membuatkan bekal untuknya dan bisa-bisanya dia meminta tanda terimakasih padanya.


"Siap tuan putri, sekarang masuklah ini masih pagi dan kau tidak memakai alas kaki hmm?" Orin pun menyengir. Karena begitu senangnya hingga membuatnya lupa menggunakan alas kaki.


Disepanjang perjalanan Angga tidak bisa melepaskan senyumnya ketika mengingat kata-kata yang diucapkan oleh Orin. Orin selalu mengatakan jika Angga harus menunggunya hingga besar setelah itu mereka menikah sebab menurut Orin, Angga adalah pria idaman setiap wanita. Angga orang yang baik, pandai dan juga mudah bergaul. Awalnya dia merasa kikuk dengan ucapan gadis itu, dia sendiri juga tidak tahu harus bagaimana menanggapi ucapan Orin. Tapi lama-kelamaan akhirnya dia pun terbiasa dengan ucapan Orin.


Tapi kenyataan pula lah yang menyadarkan Angga. Mereka orang kaya begitu pula dengan Orin berbanding terbalik dengan dirinya. Dia hanya anak miskin yang tidak tahu siapa orang tuanya. Sedari kecil dia hanya hidup dengan nenek dan kakeknya. Mereka bilang jika dulu menemukan Angga di depan emperan toko yang sudah tutup. Jika dibandingkan dengan laki-laki teman-teman Orin tentunya dia sangatlah jauh. Maka dari itu lebih baik diam memendam rasa cintanya pada Orin. Cukup melihat gadis itu tertawa setiap hari saja sudah membuat hatinya menghangat. Begitulah awal pertemuan Anggara Marcelio Artanegara atau sekarang yang sering Orin sebut sebagai pak Marcel.


Flashback off


Marcel pun terjun bebas dari lamunannya sampai gak sadar jika seseorang mengamatinya sejak tadi. Sampai suara orang tersebut yang mampu mengembalikan Marcel dari alam bawah sadarnya.

__ADS_1


"Mandi dulu Cel, biar mommy yang jaga Orin! Setelah itu sarapan lah dengan daddy!"


"Baiklah mom!" Jawabnya kemudian meninggalkan Orin yang masih setia untuk memejamkan matanya tersebut.


Tak butuh waktu lama, Marcel pun sudah kembali segar dengan pakaian barunya. Sebenarnya bukan miliknya, tapi milik Noel dan karena Noel sedang tidak ada maka dia lah yang memakai. Lagipula pakaian Noel juga banyak yang ditinggal di rumah. Selesai membersihkan diri Marcel pun turun ke lantai satu untuk menikmati sarapannya. Di sana sudah tampak Daddy Arga juga menikmati sarapannya.


"Pagi dad!" Sapa Marcel kemudian duduk di sisi Daddy Arga yang biasa Orin tempati.


"Pagi Cel, makanlah terlebih dahulu! Jika kau kurus dalam satu malam saja pasti Orin akan mengintrogasimu habis-habisan ketika sadar nanti!" Marcel pun terkekeh meskipun dengan suasana seperti ini Daddy Arga masih saja membuat lelucon agar dirinya tersenyum.


Marcel pun mengambil nasi goreng yang sudah disediakan kemudian memakannya dengan lahap. Meskipun pikirannya masih tertuju dengan Orin tapi setidaknya urusan perut juga harus terpenuhi.


"Kau masih belum berniat mengungkapkan siapa dirimu?" Tanya Daddy Arga kini mereka sudah selesai dengan urusan perut mereka masing-masing.


"Aku masih belum berani dad, aku takut dia akan menjauhiku!"


"Kenapa berpikir seperti itu?"


Marcel pun hanya mengangkat bahunya, sampai saat ini dirinya memang belum siap mengungkapkan jati dirinya. Tapi satu yang Marcel sukai bahkan sejak awal orang tua Orin tidak keberatan hubungannya dengan Orin.

__ADS_1


__ADS_2