
Orin menunggu guru tersebut didalam ruangannya seperti yang pak Marcel ucapkan. Orin tampak mengawasi seisi ruangan tersebut, semuanya tertata rapi dan bersih. Karena bosan hanya duduk saja akhirnya Orin pun mengeluarkan ponselnya yang sedari tadi disimpan di tas. Dia membulatkan matanya ketika melihat banyaknya pesan serta panggilan dari Aneta. Sekarang dia benar-benar merutuki saudara sepupunya yang sudah menelepon hingga dini hari itu.
"Dasar kak Jerry si*lan gara-gara dia bilang mau pindah ke Indonesia jadi gue yang susah. Kayaknya kalau dia bener-bener pindah kesini bakalan nyusahin gue deh? Kan kak Noel nggak ada disini siapa lagi yang mau bantuin dia disini!" Monolog Orin pada dirinya sendiri.
Karena bosan melihat isi ponselnya yang hanya begitu-begitu saja dia pun merebahkan kepalanya di atas meja. Tiba-tiba saja rasa kantuk pun menyerangnya hingga dia melupakan jika harusnya dia tidak tertidur dan menunggu guru killer.
Dilain tempat Marcel sudah selesai untuk memberikan pelajaran tambahan pada muridnya. Dia segera kembali untuk menemui Orin. Ketika sudah sampai di ruangannya, dia membulatkan matanya ketika melihat Orin yang sedang tertidur dengan mulut sedikit terbuka bukannya menjijikan tapi itu malah membuatnya semakin cantik.
Untuk sesaat Marcel terpesona akan kecantikan yang dimiliki Orin tapi dengan segera dia membuang pikiran-pikiran tersebut. Menurut Marcel mereka dari level yang sangat jauh berbeda. Orin dari keluarga kaya raya sedangkan dirinya anak dari panti asuhan yang tidak jelas siapa orang tuanya. Dan juga kedatangannya di sekolah tersebut memiliki misi khusus dari seseorang yang mengutusnya.
"Ehem...!" Suara deheman Marcel yang menggema di ruangan tersebut tapi itu juga tidak membangunkan tidur pulas Orin.
Berkali-kali Marcel mengeluarkan suara tapi Orin tak kunjung juga membuka matanya membuat Marcel menggelengkan kepalanya. Orin tidur sudah seperti orang pingsan saja. Dengan terpaksa Marcel pun harus membangunkan Orin dengan menggoyang-goyangkan bahu indahnya.
"Bentar mom Orin masih ngantuk banget nih! lima menit lagi ya!" Rancau Orin tanpa melihat siapa kini yang sedang mengguncang bahunya itu.
Tanpa disadari Marcel pun sedikit menarik bibirnya merasa lucu dengan tingkah Orin yang suka membantah dan ketika sedang tidur pun dia juga masih membantah.
"Bangun Orin ini sekolah bukan kamar kamu!"
Mendengar suara berat nan khas itu seketika membangunkan kesadaran Orin yang tengah menari-nari di alam mimpi. Dengan segera dia berdiri dimana membuat kepalanya berdenyut seketika dan dengan refleks Marcel menangkap tubuh Orin yang tidak seimbang.
Setelah mendapatkan kesadarannya dengan segera Marcel pun melepaskan bahu Orin dimana membuat badan mungil Orin terjatuh ke lantai.
__ADS_1
"Aw...!" Pekiknya ketika pantatnya mencium dinginnya lantai ruangan Marcel.
"Maaf refleks!" Ucap Marcel tanpa dosa kemudian melangkahkan kakinya menuju kursi kebesarannya, berlama-lama dekat dengan Orin membuat hatinya berdebar tak karuan.
"Orin Quenby Winata siswi yang pernah menjuarai debat bahasa Inggris tingkat nasional tapi mendapatkan nilai C bahkan D dalam matematika?" Tanya Marcel dimana membuat Orin membuka mulutnya karena terkejut. Bahkan mereka baru bertemu dua kali tapi sudah sejauh itu Marcel tahu tentang dirinya.
Orin pun hanya terdiam tak menjawab, apalagi yang harus dijawab karena memang benar adanya yang diucapkan Marcel. Tapi yang tidak dia mengerti apakah semudah itu mengetahui kekurangannya.
"Jadi hukuman apa yang pantas untuk siswi yang sudah telat dua kali sepertimu?"
"Jangan dihukum lagi dong pak, kemarin mom sudah menghukumku dan rasanya badanku juga masih sakit semua!" Protes Orin yang benar saja hukuman lagi? Oh tidak tidak dia tidak akan membiarkan itu.
"Ck siswi sepertimu jika dibiarkan akan menulari para siswa-siswi lainnya." Jawab Marcel tanpa memperdulikan keterkejutan Orin lagi. Baru sebentar saja Orin bersama Marcel tapi sudah dibuat terkejut dua kali oleh ucapan pedas Marcel. Orin semakin tidak mengerti kenapa juga Tuhan menciptakan manusia model seperti Marcel.
Ingin rasanya dia memaki pria bermulut pedas di depannya itu tapi entah kenapa untuk membantah saja rasanya dia tidak sanggup. Melihat sorot matanya yang tajam tetapi teduh itu sedikit membuat hatinya tergelitik. Tapi Orin tidak memperdulikan itu apalagi dia baru merasakan hal itu.
"Sebaiknya saya memberikan kamu hukuman untuk belajar privat khusus pelajaran matematika dengan saya!"
"Tidak tidak!" Jawab Orin dengan cepat. Yang benar saja Orin harus bertemu setiap hari dengan laki-laki sedingin gunung es dan mulutnya sepedas cabai itu.
"Lalu kau mau aku memberitahukan ini semua dengan kedua orang tuamu, lalu mereka akan menarik semua fasilitas yang sudah mereka berikan?"
Damn! Laki-laki didepannya ini memang memang sangat mengejutkan. Selain dingin dan bermulut pedas dia juga seperti mampu membaca pikiran orang lain atau jangan-jangan memang dia seorang cenayang.
__ADS_1
"Jangan beritahu mom dan dad!" Mohon Orin sembari mengatupkan kedua tangannya didepan dada. Ucapan Marcel memang benar adanya mommynya kemarin sudah mewanti-wanti jika Orin kembali membuat masalah dia akan menarik semua fasilitas yang sudah dia terima.
"Baiklah jika itu keinginanmu maka tidak ada pilihan lain, kau harus ikut jam tambahan privat bersamaku!" Orin pun hanya bisa mengangguk patuh. Dia sudah benar-benar kehilangan kata-kata biasanya jika dia mendapat masalah seperti ini dia akan meminta bantuan pada daddynya dan semua masalah selesai. Tapi untuk guru barunya itu Orin sedikit kesulitan.
"Pergilah jadwalnya aku akan memberitahumu nanti dan kau sudah sepakat jadi tidak bisa untuk menolak lagi."
Dengan perasaan kesal dan bercampur aduk Orin keluar dari ruangan yang sekarang dia juluki sebagai neraka dunia itu. Bisa-bisanya guru tersebut mengusir dirinya dengan begitu saja. Oh tidak itu sangat memalukan.
Orin pun menyusuri sepanjang koridor sekolahnya dan sampai akhirnya dia sampai di ruangan kelasnya. Teman-temannya pun memandang Orin dengan iba, mereka sudah sedikit banyak tahu tentang guru baru yang terkenal killer itu. Sedangkan Orin tidak pernah perduli dengan gosip yang ada di chat WhatsApp dimana membuatnya mendapatkan kesialan seperti ini.
"Lemes banget Rin kayaknya habis dari ruangan pak Marcel?" Goda Aneta yang sekarang sudah duduk disampingnya itu.
"Maksud lu?" Tanya Orin masih tidak mengerti dengan pertanyaan Aneta tersebut.
"Ya tuh badan lu loyo amat kayak hab...!" Belum sempat Aneta melanjutkan ucapannya Orin yang sudah mengerti arah ucapan Aneta pun segera memotongnya.
"Jangan pikirin yang macem-macem deh, gue lagi kesel banget tau sama tuh orang. Masa gue disuruh les privat sama dia sih, nyebelin banget!"
"Salah lu sendiri ngapain tadi telat, kan udah gue telponin juga dari pagi!"
"Lu telponnya telat Bambank, harusnya lu kasih tahu gue dari semalem. Nih juga gara-gara kak Jerry yang nelpon gak tahu aturan!"
"Kak Jerry? Kakak sepupu lu yang di Italia itu?" Tanya Aneta dengan antusias. Sedikit banyak Aneta tahu tentang Jerry karena beberapa kali dia pernah bertemu ketika Jerry berkunjung ke Indonesia dan Orin juga kadang bercerita tentang kehidupan Jerry.
__ADS_1
"Hem, udah jangan banyak tanya gue mau lanjutin tidur lagi!" Jawab Orin kemudian kembali memejamkan matanya tidak memperdulikan Aneta yang menggerutu padanya.