
Ivanka hanya bisa tersenyum miris, ternyata orang kaya sama saja memandang orang lain dengan sebelah mata. Memang banyak orang kaya yang tulus tetapi juga banyak yang memandang rendah orang lain.
"Maaf nyonya Hera aku tidak menginginkan secuil pun harta yang kau miliki. Aku hanya ingin hidup tenang dengan suamiku sekarang."
"Cih, ternyata selain hina kau juga munafik. Sekarang aku jadi curiga sebenarnya apa yang telah Frans berikan padamu hingga kau lancang menolak penawaranku!" Geram Hera diusianya yang sudah tidak muda lagi terkadang emosi dengan gampangnya singgah dalam dirinya. Dia harus bisa mengatur emosi jika tidak dia sendiri yang akan naik darah.
"Frans memberikan cinta dan juga kebahagiaan yang tidak dapat ditukar dengan uang." Jawab Ivanka mantap. Terkadang kita harus membungkam mulut-mulut orang yang berpendidikan tapi tidak bermoral seperti ini. Mereka menjunjung tinggi nilai-nilai pendidikan tapi melongsorkan nilai moral yang ada dalam diri mereka.
"Hei ja*ang jangan menyombongkan dirimu terlalu tinggi karena Frans lebih membelamu derajatmu tidak lebih tinggi dari anjing peliharaan dirumahku!" Hardiknya tidak tahu malu.
Begitulah sifat dan sikap segelintir orang kaya, mereka seperti koin yang memiliki dua sisi berbeda. Dimana di satu sisi mereka diharuskan menjadi orang kaya dengan martabat tinggi dan di sisi lain orang kaya dengan moral yang bobrok.
"Lantas untuk apa anda terlalu lama dirumah orang hina dan rendahan sepertinya saya. Di sini tidak cocok untuk anda dan menantu terhormat anda!" Ucapnya sambil melirik kakak iparnya yang sejak tadi hanya diam dan menjadi pengamat perdebatan mereka.
"Ayo ma kita pergi wanita tak berpendidikan dan anaknya yang tidak jelas itu hanya akan membuat mama marah saja!" Sindirnya pada Ivanka.
"Wow kakak ipar ternyata kau bisa bicara kupikir kau wanita bisu ternyata mulutmu lebih menjijikan dari wanita tak berpendidikan ini!" Sarkasme Ivanka tak mau kalah sudah cukup dirinya dihina dan dicaci-maki. Dia tidak akan marah jika hanya dirinya saja yang dihina karena sejatinya dia juga beranggapan memang bukan wanita mulia. Tapi jika anaknya diikutsertakan dalam perdebatan tiada akhir ini dirinya merasa marah. Anak dalam kandungannya memang merupakan sebuah kesalahan. Kesalahan sang ibu bukan kesalahan sang anak. Jadi mereka tak pantas untuk menghakimi anak yang tampak saja juga belum.
"Persetanan dengan kau wanita murahan jangan anggap hidupmu akan tenang!" Kesal Hera dia pun mendorong tubuh Ivanka sekuat tenaga hingga membuat Ivanka terhuyung ke belakang dan terjatuh di atas lantai.
"Awhhh...!" Rintihan Ivanka saat bokonganya sudah menyentuh kerasnya keramik lantai. Dia pun memegang perutnya, merasakan nyeri yang amat sangat yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
"Tolong... tolong aku!" Ucapnya lemah, dress yang dipakai sudah menampakkan air ketuban yang sudah pecah dan juga darah yang mengalir mulai mengalir di pahanya.
"Mati saja kau perempuan tidak tahu diri!" Kata Hera lagi kemudian mereka meninggalkan Ivanka yang tengah meringis menahan nyeri serta sakit yang bersamaan.
Dengan kekuatan yang masih tersisa dia merangkak menuju meja dimana ponselnya terletak. Percuma jika dia minta tolong tetangganya kebanyakan adalah orang kantoran dan beberapa mahasiswa juga pasti mereka sedang tidak berada di tempat.
__ADS_1
"Awhhh kamu yang kuat ya sayang kita hubungi papamu dulu!" Kata Ivanka yang sudah mulai melemah. Kesadarannya pun sudah hampir terenggut tapi tekadnya masih kuat dia tidak boleh lemah anaknya sedang membutuhkannya.
Darah yang keluar dari arah dalam paha Ivanka sudah banyak. Bahkan dress warna birunya sudah merembes dan berubah warna.
"Halo!" Ucapnya lemah ketika panggilannya sudah diterima oleh sang suami.
"Ada apa sayang?" Tanya Frans dengan nada khawatir pasalnya dia bisa mendengar dengan jelas jika Ivanka menahan rasa sakit.
"Tolong segera pulang ke rumah!" Katanya dia sudah tidak bisa melanjutkan kata-katanya lagi. Kesadarannya sudah hilang sepenuhnya dia pingsan karena tidak bisa menahan rasa sakit berlebih.
Diseberang telepon sana, dengan segera Frans keluar dari ruangannya. Untung hari ini tidak ada tugas berat yang harus dia selesaikan. Dia dengan segera menuju ke tempat atasannya meminta izin untuk pulang terlebih dahulu karena keadaan mendesak. Setelah mendapatkan persetujuan dari sang atasan dia segera berlarian layaknya anak ayam yang tertinggal oleh induknya. Menabrak sana sini dan tak tentu arah. Frans pun segera menuju ke parkiran dimana mobilnya berada.
Dia sangat beruntung karena perusahaan meminjamkan mobil perusahaan untuknya sebagai kompensasi atas kerja keras yang sudah dia capai. Meskipun hanya sebuah mobil biasa tapi itu lebih dari cukup untuknya sekarang.
Frans mengendarai mobil sudah seperti orang yang kehilangan akal sehatnya. Bagaimana tidak dia sudah tidak peduli lagi dengan rambu-rambu lalulintas dan makian dari sopir lain yang mobilnya hampir bersinggungan dengan mobilnya. Sekarang yang menjadi fokusnya adalah Ivanka semoga Ivankanya bisa menunggu kedatangannya.
Sesampainya didepan pintu apartemen kakinya terasa seperti jelly, lemas tak bertulang. Dia melihat dengan mata kepalanya sendiri Ivanka tengah bersandar pada sofa ruang tamu dan tubuh bagian bawahnya berlumuran darah. Dengan sekuat tenaga Frans pun menghampiri Ivanka, dia menepuk pelan pipi Ivanka guna membangunkan wanita itu.
"Sayang bangunlah aku sudah sampai!"
"Hei Ivanka ini aku, cepat buka matamu sayang!"
Rasanya dunia seakan runtuh, Ivanka masih memejamkan matanya tidak merespon kehadirannya. Frans pun segera menggendong tubuh Ivanka menuju rumah sakit dengan mobilnya sendiri. Akan lebih lama jika dia menghubungi ambulance.
Sesampainya dirumah sakit, dia segera berteriak meminta bantuan pada suster yang ada. Dan Ivanka mulai sedikit mengerjapkan matanya dimana membuat Frans merasa cukup sedikit lega meskipun belum sepenuhnya.
"Jangan terlelap lagi sayang, jangan tinggalkan aku, kau mengerti bukan?"
__ADS_1
"Frans kumohon berjanjilah untuk selalu menyayangi putraku! apapun yang terjadi inilah takdir kita jangan menyalahkan siapapun."
Ivanka pun berlalu masuk ke dalam ruang operasi tenaganya yang sudah terkuras banyak tidak memungkinkan untuk melahirkan secara normal dan juga pendarahan yang masih saja keluar.
Diluar ruangan Frans sudah tampak kacau, dia tidak berani membayangkan apa yang terjadi setelah ini. Dia berjalan mondar-mandir didepan pintu ruang operasi tiada henti. Tadi setelah perawat memintanya untuk menandatangani operasi Ivanka dirinya semakin kacau saja.
Sudah tiga jam lamanya dia berdiri didepan pintu itu namun tak kunjung ada pergerakan dari dalam dimana membuat dirinya semakin gelisah.
Tak lama kemudian seorang dokter perempuan pun keluar dari ruangan itu. Wajahnya menampilkan raut kesedihan.
"Selamat tuan putra anda sudah lahir!" Ucap sang dokter. Frans yang mendengar itu sedikit merasa lega putranya bisa selamat.
"Bagaimana dengan istri saya dok?" Tanya Frans antusias.
"Maaf tuan untuk istri anda kamu sudah berusaha semampunya tapi ternyata Tuhan berkehendak lain. Istri anda tidak bisa diselamatkan."
Dunia Frans seakan runtuh, Ivankanya meninggalkannya untuk selama-lamanya.
"Kau salah dokter, istriku kuat pasti dia tidak akan mati dengan semudah itu!"
"Tapi tu-" Belum sempat dokter tersebut menyelesaikan ucapannya Frans pun segera menerobos masuk ke dalam untuk menemui Ivanka.
flashback off
Rumus dari sebuah rasa cinta adalah kepercayaan dan juga keikhlasan. Sekuat apapun seseorang mencintai itu bukanlah sebuah jaminan untuk merasakan hal yang serupa.
Ada saatnya seseorang untuk merelakan bukan berarti dia sudah lelah ataupun kalah dalam perjuangan tetapi karena takdir memiliki jalannya sendiri. Tidak ada keinginan manusia yang bisa mengubah takdir yang sudah Tuhan gariskan. Dan ada beberapa hal yang memang perlu dibiarkan tanpa perjuangan.
__ADS_1
Setelah keadaanya kembali stabil, Frans pun kembali untuk melihat sang putra. Dia tidak boleh larut dalam kesedihan karena kepergian Ivanka. Ada sang putra yang sekarang sedang menunggu dekapan hangat tubuhnya.