
Sampai tiba-tiba datang seseorang wanita yang tiba-tiba saja memeluk Arga dengan erat dimana membuat tubuh Retha membeku seketika.
Retha pun dibuat melongo oleh seorang gadis yang tampilannya bisa dibilang glamor karena gaun serta sepatu mahal yang dia kenakan.
Tidak hanya Retha yang dibuat terkejut sampai tubuhnya terasa kaku untuk berpindah tempat, Hans pun merasakan hal yang sama. Mulutnya terbuka membentuk huruf O karena terkejut. Sedangkan Arga dia hanya diam meskipun tangannya masih memeluk pinggang Retha.
Rasanya Retha ingin pergi saja dari sana, mungkin tempat itu memang tidak cocok dengan dirinya. Dia pun menyesal telah menerima ajakan Arga sehingga dia mendapati pemandangan yang merusak mata dan juga memporak-porandakan hatinya.
"Aku sangat merindukanmu, sudah lama kita tidak bertemu!" Ucap gadis itu yang masih menempelkan kepalanya di dada Arga. Rasanya Retha ingin menjambak rambut panjang gadis itu. Tapi Retha urungkan dia tidak ingin membuat suaminya tambah malu, kehadirannya saja sudah menjadi sorotan sejak tadi. Dan banyak dari mereka yang berbisik-bisik setelah Arga dan dirinya melewati mereka.
Jika dilihat-lihat kembali gadis itu tampak lebih muda dari Retha, kulitnya putih bersih, dan bentuk tubuh yang jauh lah di atas Retha. Ah Retha pun kembali menyesal seharusnya dia tidak berada disini sekarang tapi di rumah berguling-guling di atas kasur empuk kesukaannya.
Rasanya Retha ingin mundur dan berlari sejauh-jauhnya tapi tangan Arga masih memeluk pinggangnya dengan erat. Sampai suara mengaduh dari gadis itu memecah lamunan semuanya.
"Bocah bo*oh jaga sikapmu, Arga sedang bersama istrinya!" Desis Hans tapi masih bisa didengar oleh orang-orang yang ada disekitarnya.
"Ah maaf kak tadi aku tidak melihatmu, perkenalkan aku Bella adik kak Hans!"
Tidak melihat? Yang benar saja. Badan Retha sudah seperti gajah tapi gadis itu bilang tidak melihat. Sepertinya Hans memang perlu memeriksakan mata adiknya itu.
__ADS_1
"Re atas kebodohan adikku aku minta maaf!"
Retha pun mengerjapkan matanya bingung, ingin rasanya dia memaki gadis itu karena telah seenaknya memeluk suaminya tapi dia tidak memiliki keberanian seperti itu. Dipandangi oleh kaum elit saja sudah membuat nyalinya ciut.
"Ah ya tak apa." Jawab Retha gugup.
"Kak istrimu cantik sekali!" Ujar gadis itu. Entah tulus atau tidak Retha juga tak mengerti karena dia tidak pandai untuk membaca raut wajah seseorang.
"Tentu saja istriku pasti cantik dan tentu saja tidak banyak tingkah sepertimu!" Kata Arga yang sepertinya juga kesal dengan adik Hans itu.
"Ya terimakasih. Kau juga sangat cantik Bella!" Ucap Retha dengan tulus.
"Apa kau mau tahu hubungan antara diriku dan suamimu?" Tanya Bella. Pikiran Retha mulai bercampur aduk kembali. Mungkinkah mereka pernah menjalin hubungan yang spesial? Mungkin saja, bukankah mereka berasal dari keluarga yang sama-sama kaya.
"Hey kau jangan bilang macam-macam ya bocah kecil!"
"Kita lihat saja nanti kak, jika kak Arga memberiku hadiah spesial aku akan mengatakan yang sebenarnya!"
"Kau tetap saja, apa jangan-jangan kakakmu Hans tidak pernah memberimu uang ya?" Tanya Arga pada keduanya.
__ADS_1
"Enak saja dia tidak pernah kekurangan uang." Kesal Hans kemudian. Yang benar saja adiknya kekurangan uang bahkan dia saja selalu memberikan lebih pada adiknya.
"Sudah kalian laki-laki monoton disini saja, aku akan mengajak kak Retha untuk berkeliling."
"Ayo kak!" Bella pun meraih lengan Retha tetapi Retha masih diam membatu sembari menatap ke arah Arga untuk meminta persetujuan.
"Ikutlah dengannya, dia tidak akan menggigit!"
"Dan untukmu Bella jangan membuatnya terlalu lelah, dia sedang mengandung buah cinta kita!" Kata Arga sambil tersenyum ketika melihat wajah merona Retha. Dia yakin jika Retha sekarang pasti sudah merasa malu karena ucapannya yang vulgar itu.
"Terserah orang yang sedang jatuh cinta saja, ayo kak ikutlah denganku!"
Mereka berdua berjalan meninggalkan tempat berlangsungnya pesta ulang tahun tersebut. Menghilangkan dari hiruk-pikuknya dunia untuk sesaat. Menyusuri lorong-lorong sampai bertemu dengan sebuah kolam renang dan beberapa meja kursi dipinggirnya.
"Kita duduk di sana kak!" Bella tetap menggenggam tangan Retha. Retha merasakan hangat dari genggaman itu tidak ada gejolak permusuhan lagi dari mereka. Retha hanya menurut kemana Bella akan mengajaknya. Mereka pun duduk berhadapan dengan meja sebagai pemisah.
"Ehm sebelum aku menceritakan tentang hubunganku dan kak Arga, aku akan memperkenalkan diriku secara resmi terlebih dahulu!" Ucapnya kemudian mengulurkan tangannya dan dengan senang hati Retha menyambutnya. Gadis itu tersenyum, senyumnya semanis gulali.
"Perkenalkan namaku Arabella Alexander adik dari Hans Alexander!"
__ADS_1
"Sudah siap untuk mendengarkan ceritaku?"
"Tentu saja Bella." Jawab Retha yang mulai antusias. Dia harus menyiapkan hati jika mereka berdua memang memiliki hubungan khusus.