Istri Tuan Arga

Istri Tuan Arga
63


__ADS_3

Keesokan paginya Arga sudah bersiap-siap terlebih dahulu, dia tidak ingin Retha marah lagi padanya karena terlalu lama menunggu. Kini Arga sudah siap dengan celana jeans warna hitam serta kemeja yang dibiarkan keluar. Arga tampak lebih santai dari biasanya meskipun wajahnya tetap kentara dengan wajah dinginnya.


Kemudian dia menunggu Retha yang masih menyelami alam mimpinya. Dia menunggu sang istri di sofa sambil memeriksa beberapa berkas. Meskipun hari ini adalah hari Minggu tapi sepertinya Arga tidak bisa lepas dari pekerjaannya sedikitpun.


Tak selang beberapa lama, akhirnya manusia tukang tidur alias Retha pun terbangun. Dia meringis melihat suaminya sudah tampak rapi sedangkan dirinya masih kusut dan jangan lupakan air liur yang menempel dipipinya.


"Sudah bangun?" Tanya Arga tatkala melihat istrinya mulai duduk ditepi ranjang.


"Sudah, kau mau memakai kemeja itu untuk berkencan denganku?"


Arga pun mengernyitkan keningnya, memangnya ada yang salah dengan pakainya. Dia rasa pakainya sudah cukup santai untuk berkencan.


"Memangnya ada yang salah dengan pakaianku?" Tanya Arga dengan wajah kebingungan.


"Sangat salah, kau pikir aku mau berkencan dengan om-om!"


Arga pun mendelik kesal, padahal dia sudah mencari pakaian yang cocok untuk berkencan tetapi menurut istrinya dia masih saja memakai pakaian yang salah.


Kemudian Retha pun berdiri dan membuka sebuah lemari pakaian. Di sana dia mengambil sebuah papper bag berukuran besar setelah itu menyerahkannya pada Arga.


"Pakai ini, aku mau mandi dulu!" Ucap Retha sambil menyerahkan sebuah papper bag pada Arga. Kemudian Retha berlalu masuk ke dalam kamar mandi.


Arga pun penasaran pakaian apa yang sudah disiapkan untuk dirinya. Dia hanya berharap Retha tidak menyuruhnya untuk menggunakan pakaian yang aneh-aneh.


Seketika Arga membulatkan matanya tatkala melihat sebuah celana jeans warna hitam yang sobek dibeberapa bagaian lalu sebuah kaos berwarna hitam dan juga jaket levis. Tak lupa Retha juga menambahkan sebuah topi dan sepatu sneaker didalamnya.


"Apa-apaan ini, dia mau membuatku terlihat seperti gembel?" Gerutu Arga sambil membolak-balikkan celana serta jaket tersebut.


Setelah cukup lama akhirnya Retha pun keluar dari kamar mandi. Dia melihat Arga masih juga belum berganti pakaian dengan pakaian yang tadi dia berikan.


"Kenapa belum ganti?" Tanya Retha sambil memilih outfit apa yang cocok dia gunakan untuk saat ini.


"Tidak mau, ini akan membuatku terlihat seperti gembel sayang. Lihat celananya sobek dimana-mana." Kata Arga. Memang Arga sangat mencintai kebersihan dan juga kerapian maka menurutnya pakaian seperti itu akan membuatnya seperti urakan dan membuang kharismatik yang ada pada dirinya.


"Ya sudah kalau tidak mau tidak apa, aku akan pergi sendiri dan berkencan dengan orang lain saja!" Gertak Retha kemudian dia memakai sebuah kemeja berwarna putih lengan pendek serta ada lubang di bagian bahunya. Arga merutuki siapa pembuat baju laknat yang memperlihatkan bahu mulus istrinya itu. Yang lebih membuat Arga geram adalah celana yang dipakai Retha, celana itu juga terdapat sobekan dibeberapa bagian.

__ADS_1


"Jangan pakai baju itu!" Kesal Arga pada istrinya itu. Retha hanya mengangkat bahunya acuh dia tidak perduli dengan kekesalan Arga.


Kemudian Arga pun bangkit menuju walk in closet untuk mengganti pakaiannya. Sedangkan Retha merias tipis wajahnya agar tidak terlihat pucat. Entahlah menurutnya beberapa hari ini wajahnya terlihat pucat.


Tak lama kemudian Arga sudah selesai berganti pakaian kemudian berdiri dibelakang Retha. Sontak membuat Retha terkejut dengan pemandangan yang ada dibelakangnya.


Kini Arga terlihat lima tahu lebih muda dari usianya. Arga yang biasanya tampil rapi sedangkan hari ini dia tampil seperti seorang preman. Tak lupa sebuah sneaker yang lebih memperlihatkan ketegasannya.


"Sayang lihatlah kau tampak begitu tampan hari ini, andai saja setiap--"


"Jangan harap aku memakai pakaian seperti ini setiap hari." Geram Arga sambil merapikan jaket Levis serta topinya.


Retha pun mencebik kesal, belum selesai dia berbicara tapi Arga sudah memotong pembicaraannya. Mengesalkan bukan?


Kemudian Retha kembali merapikan sedikit riasan yang tadi berantakan karena terpesona melihat penampilan baru suaminya itu. Setelah itu dia juga mengambil sebuah sneaker serta tas branded yang baru dia beli.


"Ayo!!!" Ajak Retha kemudian mereka turun kebawah.


"Tidak sarapan dulu?" Tanya Arga yang melihat Retha berlalu.


"Sarapan diluar saja, aku ingin makan bubur ayam diluar saja."


"Kau saja yang menyopir, hanya ingin berdua saja denganmu!"


"Baiklah."


Kemudian mereka memasuki mobil Mercedes C-CLASS. Hari ini Retha ingin benar-benar quality time dengan suaminya tanpa ada gangguan dari anak suaminya itu.


Mobil yang mereka tumpangi pun perlahan meninggalkan garasi rumah membelah jalanan ibukota yang terlihat sudah cukup padat karena hari ini hari Minggu.


"Mau makan dimana?" Tanya Arga tanpa mengalihkan pandangannya lurus ke depan.


"Makan bubur ayam di sebelah stasiun kota saja!"


"Kenapa tidak makan di restoran saja?" Tanya Arga pada istrinya yang memilih makan di pedagang kaki lima yang kebersihannya tidak terjamin itu.

__ADS_1


"Tidak mau, aku hanya mau makan disana!" Kata Retha kemudian dia memutar tubuhnya menghadap ke jendela.


Arga pun hanya bisa menghela nafas, entah kenapa akhir-akhir ini Retha gampang sekali merajuk. Akhirnya dia hanya menuruti kemana yang Retha mau.


Setelah perjalanan cukup panjang akhirnya mobil yang mereka tumpangi hampir sampai di stasiun kota.


"Dimana tempatnya?" Tanya Arga sambil mencari-cari tempat yang dimaksud.


"Disana lurus saja sedikit lagi."


Akhirnya mobil yang mereka tumpangi sampai disebuah tempat makan yang terlihat cukup bersih. Mereka pun keluar setelah Arga selesai memakirkan mobilnya. Mobil mewah Arga sontak menjadi perhatian banyak orang yang melintas disana. Arga tak mau ambil pusing toh dia sudah sering menjadi pusat perhatian.


Mereka pun mencari tempat duduk yang masih kosong. Terlihat disana sudah banyak orang yang sedang sarapan. Kemudian mata Retha menemukan tempat kosong yang berada di pojok. Retha pun mengajak Arga untuk kesana.


"Mau berapa porsi mbak?" Tanya seorang pelayan pada mereka.


"Dua." Jawab Retha.


"Tidak satu saja, aku tidak mau."


"Kau harus coba dulu sayang." Ujar Retha pada suaminya itu.


Tak lama kemudian dua porsi bubur ayam sudah tersedia. Retha tampak antusias untuk segera menyantapnya berbanding terbalik dengan Arga yang tampak enggan hanya untuk melihat bubur itu saja.


"Ini enak!" Ucap Retha sambil tetap menyantap bubur ayamnya.


"Sayang ayo dimakan?" Ajak Retha pada suaminya.


"Kau saja aku sedang tidak lapar!" Kilah Arga sebetulnya dia lapar tapi melihat tempatnya yang kurang nyaman membuat dia enggan untuk makan.


Tanpa pikir panjang Retha menyendok bubur ayam tersebut lalu memasukkan paksa ke mulut Arga.


"Bagaimana?" Tanya Retha pada Arga.


Arga tampak mengernyitkan keningnya menimbang-nimbang rasa bubur ayamnya.

__ADS_1


"Emm sedikit enak," Ucapnya kemudian meraih sendok ditangan Retha lalu menyuapkan kemulutnya sendiri. Tak butuh waktu lama semangkuk bubur ayam Arga sudah tandas.


Retha hanya bisa melipat bibirnya menahan tawanya. Tadi bilang tidak mau sekarang dia malah yang sudah habis duluan, ucap Retha dalam hati.


__ADS_2