Istri Tuan Arga

Istri Tuan Arga
74


__ADS_3

"Sayang!" Ucap Arga spontan dia pun berjalan mendekat kearah istrinya. Kini kecemasannya mulai bertambah, semoga saja Retha masih ingat dengannya.


Retha pun masih terdiam, dia merasakan kepalanya berdenyut kencang. Arga segera menghampiri lalu memeluk erat sang istri.


Dokter Kenan pun tak luput dari rasa keterkejutannya, dia segera berjalan dan hendak memeriksa keadaan Retha.


"Kau mau apa?" Tanya Arga ketika dokter Kenan hendak meletakkan stetoskop didada Retha.


Dokter Kenan tampak mengernyit heran, Arga ini bodoh atau bagaimana dia kan dokter jadi wajar bukan jika dia memeriksa keadaan pasien pasca operasi.


"Memeriksa keadaan Retha lah mau apa lagi, kau ini bagaimana sih?" Kesal Dokter Kenan pada Arga.


"Jangan periksa disitu ditempat lain saja!"


"Terserah aku tidak peduli denganmu!" Gerutu dokter Kenan yang semakin sebal dengan Arga.


"Hey kenapa kalian malah ribut seperti ini? Ken cepat periksa keadaan Retha dan Arga jangan membuat rusuh!" Ucap mama Rani yang tidak mengerti dengan tingkah dua pria dewasa namun seperti balita ini. Sedangkan Retha dia hanya diam saja memandang mereka semua dengan seksama. Kepalanya saja terasa amat sangat pusing apalagi jika harus memikirkan tingkah tidak tahu diri mereka.


"Jangan mencuri kesempatan dalam kesempitan, periksa dengan cepat!" Gerutu Arga kemudian.


Dokter Kenan pun mendengus kesal, Arga benar-benar membuatnya kesal berkali-kali lipat. Padahal dia hanya memeriksa keadaan Retha bukan mengajaknya berkencan ataupun selingkuh.


"Bagaimana Retha apa yang kau rasakan sekarang?"


"Pusing." Kata Retha, Arga yang mendengar itupun dia tampak bernafas lega. Retha mengetahui namanya sendiri itu berarti dia tidak melupakan dirinya kan?


"Sayang apa kau ingat denganku?" Tanya Arga penuh dengan kehati-hatian.

__ADS_1


Retha tampak menautkan kedua alisnya, begitu juga dengan para orang tua yang ada disana tidak mengerti apa yang mereka perbuat.


"Iya." Jawab Retha lirih tubuhnya masing terpasang selang ventilator dan juga saat ini dia masih berada di bawah ruang ICU tentunya dengan kelas atas.


Akhirnya Arga menghela nafas lega begitu juga dengan dokter Kenan.


Tiba-tiba saja Arga merengkuh tubuh Retha dan memasukkannya kedalam pelukan hangatnya.


"Maafkan aku sudah membuat kalian semua khawatir!"


"Tidak sayang, aku yang seharusnya minta maaf sudah lalai menjaga dirimu dan baby kita." Kata Arga kemudian mencium kening Retha. Retha pun menggerakkan tangannya untuk mencabut selang ventilator yang menghubungkan ke hidungnya. Rasanya dia begitu risih dengan adanya alat itu.


"Jangan dilepas dulu Re!" Ujar dokter Kenan kemudian Retha pun menggelengkan kepalanya.


"Aku risih!" Ucap ibu hamil itu dengan keras kepalanya.


"Arga...!"


"Tidak sayang kau tidak perlu minta maaf, kau tidak bersalah ingat itu!"


"Tapi Ar...!"


"Shuttt... sayang jangan memikirkan hal lain sekarang yang terpenting kesehatanmu dan baby kita!" Ujar Arga lagi seolah-olah dia tidak memberikan ruang untuk Retha mengungkapkan perasaannya.


"Kau sangat bau!"


Arga membulatkan matanya tak percaya, dia sedang menahan pilu pasca kecelakaan istri tersayangnya itu tapi yang dikhawatirkan malah membuatnya takjub.

__ADS_1


Tak hanya Arga semua orang yang ada disana membelalakkan matanya tapi sedetik kemudian mereka tertawa terbahak-bahak.


"Sayang kau bercanda kan aku sudah mandi tadi, kalau tidak percaya tanyakan pada mama!"


"Tapi kau masih bau sana jauh-jauh dariku!"


Mama Rani pun kemudian mengambil alih tempat Arga. Beliau mengelus sayang rambut Retha begitu juga dengan Bu Mira.


"Terimakasih sayang kau masih bertahan untuk kita semua!" Kata mama Rani beliau tidak mampu menahan senang dalam hatinya hingga meneteskan air matanya.


"Kalian lah yang membuat aku kuat ma, bu! seharusnya aku yang berterimakasih karena kalian selalu ada untukku!"


"Tidak sayang kita adalah keluarga jadi apapun yang terjadi kita harus saling menguatkan!" Ungkap Bu Mira sembari mengecup pelipis Retha.


Sementara itu Arga gusar sendiri bagaimana tidak Retha bahkan tidak mau berdekatan dengan dirinya. Kemudian Arga pun menarik jas kebesaran yang digunakan dokter Kenan.


"Ada apa?" Tanya dokter Kenan kebingungan.


"Memangnya aku bau ya?" Tanya Arga balik dengan wajah bodohnya.


"Tidak."


"Jangan berbohong kata Retha aku bau!" Gerutunya.


"Bodoh! itu hormon orang hamil jadi memang seperti itu!"


"Iya kah?" Tanya Arga penasaran.

__ADS_1


"Ck, jika Retha sudah sehat sebaiknya kau bertanya pada dokter kandungan mereka lebih tau tentang itu." Setelah mengatakan itu Dokter Kenan berpamitan karena mendapatkan pasien baru.


__ADS_2