
Sementara itu di lain tempat, Marcel yang baru saja menyelesaikan panggilannya tampak mengerutkan keningnya heran karena tidak ada Orin. Dia hanya melihat seorang waiters perempuan berdiri disamping kursi yang sempat mereka duduki tadi.
"Maaf mbak, dimana calon istri saya?"
"Maaf pak, beliau sudah keluar beberapa waktu yang lalu," Marcel menautkan kedua alisnya, apakah dia terlalu lama melakukan panggilan hingga membuat Orin lelah menunggu dan memilih untuk meninggalkannya. Tapi sejauh ini Orin bukan tipe gadis yang seperti itu.
"Tapi tadi calon istrinya menitipkan ini pada saya!" Ucapnya kemudian memberikan secarik kertas yang tadi diminta oleh Orin dan juga dompet milik Marcel.
"Oh terimakasih," Jawabnya kemudian mengambil dompetnya dan membuka kertas tersebut.
Marcel membelalakkan matanya melihat isi kertas itu, dia benar-benar merutuki kecerobohannya. Pasti Orin sekarang sedang marah padanya.
Marcel meremas kertas itu dengan kasar lalu membuangnya ke segala arah. Dia segera berlari keluar dari kafe itu tanpa menghiraukan waiters yang menatapnya tajam.
"Dasar pelanggan aneh, nggak ceweknya nggak yang cowok! Udah nggak pesen sekarang malah buang sampah sembarangan!" Gerutu waiters tersebut kemudian meninggalkan tempatnya berdiri sejak tadi.
Marcel segera berlari kearah parkiran, mengambil mobilnya lalu bergegas menuju ke rumah kekasihnya. Sepanjang perjalanan Marcel sudah mencoba untuk menghubungi Orin namun sialnya ponsel gadis itu tidak aktif lagi. Dia benar-benar merutuki kebodohannya, seharusnya dia bicara saja jujur sejak awal sehingga hal seperti ini tidak akan terjadi apalagi pernikahan mereka sudah berada di depan mata.
Dia sendiri sebenarnya tidak berniat untuk membohongi Orin, hanya saja dia ingin menjelaskan diwaktu yang tepat. Tapi sampai saat ini waktu yang tepat itu tak kunjung datang, entah waktu yang memang kurang tepat atau dirinya yang sudah terlalu nyaman dengan statusnya sekarang hingga melupakan segalanya.
Setelah perjalanan cukup lama, mobil yang ditumpangi Marcel pun sampai di depan kompleks perumahan Orin. Jantungnya berdegup kencang, dia tidak bisa memprediksi bagaimana respon Orin setelah mengetahui hal itu. Yang dia tahu hanya Orin pasti marah besar padanya.
Marcel menggaruk kepalanya yang tidak gatal, mencoba menyusun kata sebagai penjelasan nantinya. Dia tahu, mungkin ucapannya di masa lalu memang melukai hati gadis itu. Tapi sebenarnya dia tidak bermaksud untuk itu, dulu dia sakit kehilangan ingatannya ternyata juga membuatnya kehilangan Orin.
"Permisi!" Kata Marcel menunggu asisten rumah tangga Orin membuka pintu. Tak lama kemudian salah satu asisten itu membukakan pintu dan menyuruhnya masuk.
Awalnya Marcel ingin segera menuju kamar Orin, tapi pria itu mengurungkan niatnya. Bagaimana pun juga, sekarang keadaanya telah berbeda. Jika dulu dia memang tinggal disini dan tempat ini sudah setiap hari dikunjunginya. Tetapi sekarang sudah berbeda, dia sudah dewasa dan apalagi sekarang hubungan mereka tidak sedang baik-baik saja.
"Dimana mommy Retha?"
"Beliau sedang ada di dapur tuan, sedang membuat kue!" Kata asisten rumah tangga tersebut. Mommy Retha memang sedikit aneh dari wanita kaya lainnya. Bila diluar sana banyak emak-emak sosialita yang sedang berlomba-lomba untuk memamerkan harta yang mereka miliki namun berbeda dengan mommy Retha, beliau lebih banyak menghabiskan waktunya untuk acara-acara amal di panti asuhan ataupun acara sosialisasi korban bencana alam.
"Mom!" Sapa Marcel pria itu sudah ada di dapur. Wajahnya sudah merah padam merasakan gelisah dan kecewa pada dirinya sendiri.
"Ya, kau datang? Ada apa? Tadi Orin pulang dan langsung masuk ke kamarnya? Kalian bertengkar?"
"Ini sudah lebih dari bertengkar mom, Orin mengetahui jika aku adalah Angga. Dia sangat kecewa padaku!" Ucapnya frustrasi sambil mengacak rambutnya yang sedikit panjang.
__ADS_1
"Ha? Bagaimana bisa?" Tanya mommy Retha khawatir, sungguh saat ini mereka sangat khawatir dengan hubungan keduanya. Mommy Retha sudah mengenal Marcel luar dalam tentu saja mommy Retha merestui hubungan mereka tanpa ba-bi-bu.
"Aku ceroboh mom, aku mau ke atas dulu semoga dia mau mendengarkan penjelasanku!"
Mommy Retha hanya bisa memijat pelipisnya, pernikahan yang tinggal menghitung hari sekarang sedang terancam. Tidak. Mereka harus menurunkan ego masing-masing agar pernikahan ini tetap terlaksana tapi mengingat sifat keras kepala Orin, mommy Retha meragukan akan hal itu.
"Rin...!" Hening. Tidak ada sahutan dari dalam.
"Sayang keluarlah ada yang ingin aku bicarakan!" Ucap Marcel lagi sambil mengetuk pintu Orin berharap gadis itu mau mendengar penjelasannya.
"Bagaimana?" Tanya mommy Retha yang baru saja sampai di depan kamar Orin.
Marcel hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Laki-laki itu benar-benar merasa terpuruk sekarang.
"Sayang, ini mommy. Cepat buka pintunya!"
Masih tak ada jawaban dari Orin, gadis itu benar-benar enggan untuk mengatakan sesuatu dimana membuat mommy pun semakin khawatir.
Sementara itu di dalam kamarnya, Orin benar-benar merasa kecewa. Tidak hanya kecewa pada Marcel yang membohonginya tetapi juga kecewa dengan kedua orangtuanya yang dirasa sudah bersekongkol dengan Marcel.
"Pulanglah dulu Cel, nanti mommy yang akan bicarakan ini padanya! Mommy juga merasa bersalah padanya!" Kata mommy Retha karena hari sudah semakin sore dan Orin juga masih enggan untuk membuka pintunya.
"Tapi mom aku belum mendapatkan maaf darinya!" Ucap Marcel dengan sendu, bahkan sejak tadi air matanya sudah ingin keluar tapi dengan segera Marcel menepisnya.
"Kau tahu kan bagaimana sifat Orin, anak itu akan sulit untuk dibujuk. Lebih baik kembalilah untuk saat ini, istirahatkan dirimu masih ada hari esok yang lebih panjang!"
Marcel hanya mengangguk, benar yang dikatakan mommy Retha. Orin adalah gadis dengan tingkat keras kepala yang tinggi. Dan benar juga dia harus melewati hari esok yang entah bagaimana.
"Sebaiknya makan malam disini saja terlebih dahulu, bersihkan dirimu dan tunggu daddy. Kita akan makan malam bersama?"
"Tidak mom, aku pulang saja. Masih ada pekerjaan yang menungguku!" Ucapnya sendu kemudian perlahan melangkahkan kakinya meninggalkan pintu berwarna putih yang masih tertutup rapat itu.
*****
Pagi hari, Orin turun dari kamarnya. Wajahnya sedikit berantakan dan sembab mungkin gadis itu menangis semalaman.
"Pagi!" Sapanya pada kedua orang tuanya kemudian duduk ditempat yang biasa dia gunakan.
__ADS_1
"Pagi sayang, mau makan apa? Roti atau nasi goreng?" Tanya mommy Retha dengan lembut. Sementara itu Daddy Arga hanya tersenyum memandang gadis kecilnya yang sekarang sudah menjelma menjadi wanita itu.
Lihatlah bagaimana Orin bisa marah dengan kedua orangtuanya, mereka terlalu baik untuk mendapatkan marah darinya!
Daddy Arga pun melanjutkan sarapannya, tadi malam beliau sudah diberitahu mengenai apa yang terjadi dengan Marcel dan juga Orin. Dan pagi ini Daddy Arga sudah memutuskan masalah ini hanya akan mereka selesaikan berdua, entah bagaimana hasilnya Daddy Arga hanya ikut saja karena tidak mungkin kan dia memaksa putrinya untuk memaafkan Marcel yang memang bersalah meskipun tidak sepenuhnya salahnya.
"Dad ada yang ingin aku katakan!" Ucapnya dan Daddy Arga pun menghentikan suapanya. Benarkan, tidak perlu memaksa Orin untuk sesuatu hal karena gadis itu akan mengatakan sendiri pada akhirnya.
"Apa yang ingin kau katakan sayang?" Tanya Daddy Arga sambil memandang Orin.
"Aku ingin melanjutkan kuliah di Bandung." Jawabnya, keputusannya sudah bulat. Semalaman penuh dia memikirkan hal ini dan hasilnya sesuai dengan apa yang dia katakan tadi.
"Jangan membuat keputusan ketika sedang emosi Orin, pikiran lagi keputusanmu dengan baik-baik!" Peringat Daddy Arga agar putrinya itu tidak akan menyesali keputusan yang sudah dibuatnya karena emosi sesaatnya.
"Aku sudah memikirkan ini sejak semalam dad, aku akan mengambil jurusan seni!" Putusnya sementara itu keluarganya sendiri tidak keberatan dengan jurusan yang akan diambil oleh Orin sebab sebagai keturunan keluarga Winata perempuan tidak diwajibkan untuk bekerja.
"Pikirkan lagi sayang, kau bahkan tidak pernah tinggal berjauhan dengan mommymu ini! Bagaimana bisa dalam semalam kau mengambil keputusan sebesar ini?" Tanya mommy Retha mencoba untuk mempengaruhi pikiran putrinya.
"Biarkan sayang, Orin sudah dewasa. Sebagai orang tua kita hanya perlu mendukung keputusannya. Bukankah kau tidak mendengar jika dia sudah memikirkan hal ini dengan baik-baik Hem?"
"Tap-"
"Tidak perlu khawatir mom yang dikatakan Daddy benar, aku sudah dewasa dan bisa mengambil jalan hidupku sendiri. Dan untuk tempat tinggal mommy tidak perlu khawatir, aku akan tinggal bersama om dan Tante!"
"Bagus Orin, ini adalah keputusanmu sendiri Daddy dan mommy sudah pernah mengingatkanmu akan hal ini. Jika kedepannya kau akan berubah pikiran, Daddy tidak akan mengizinkanmu untuk berhenti di tengah jalan. Kau harus tetap melanjutkan pendidikanmu sampai selesai."
"Orin mengerti dad," Orin sudah membulatkan tekadnya untuk menjauh Marcel seperti yang pernah laki-laki itu katakan padanya dulu.
"Ada yang ingin kau katakan lagi? Masalah om dan tantemu biar mommymu yang memberitahu dan untuk dokumen-dokumen yang kau perlukan dan administrasi asisten Leo yang akan membantumu!"
"Emm...!" Sejenak Orin ragu untuk mengungkapkan isi hatinya tapi dia sudah tidak bisa mundur kembali hatinya terlalu kecewa.
"Mengenai pernikahan aku meminta Daddy untuk membatalkannya. Aku tidak ingin menikah dengan pembohong sepertinya!"
"Baik semua yang kamu inginkan akan terjadi, pertanggung jawabkan ucapanmu hmm?" Orin hanya mengangguk sebagai jawaban. Sementara itu mommy Retha tidak dapat membujuk putrinya lagi. Sebenarnya tadi malam mereka juga sudah membahas hal ini dengan suaminya, mereka sudah sangat tahu tabiat dari anak-anaknya tapi hanya saja ketika mendengar sendiri dari putrinya rasanya mommy Retha tidak sanggup harus berjauhan dengan putrinya.
Selesai mengatakan itu daddy Arga segera pergi ke perusahaan, sudah banyak pekerjaan yang menantinya. Sementara itu Orin kembali ke kamarnya, mau kemana lagi dia juga sudah tidak bersekolah lagi. Ingin menemui sahabatnya tapi dia merasa malas dan hanya ingin membandingkan tubuhnya saja.
__ADS_1