Istri Tuan Arga

Istri Tuan Arga
38


__ADS_3

"Ehem neng ini satenya!"


"Eh i-iya pak, terimakasih." Ucap Retha gugup.


"Suaminya ya neng? biasanya kesini bukan dengan yang ini?"


Arga yang mendengar itupun kebingungan dengan ucapan penjual sate tersebut.


"Re..... jelaskan apa maksudnya?" Tanya Arga berbisik ditelinga Retha.


"Iya pak, ini suami saya. Adik sedang dirumah tidak ikut."


"Oh silahkan dimakan neng satenya."


Retha pun kembali menatap Arga kebingungan kenapa suaminya tiba-tiba bersikap dingin lagi.


"Dengarkan aku, aku kesini biasanya dengan adikku."


"Benarkah?"


"Iya mana mungkin aku berbohong. Cepat makan satenya nanti keburu dingin."


Akhirnya mereka pun makan dalam diam.


"Untung saja Arga mempercayaiku, kalau tidak bisa bisa mati aku. Dasar tukang sate mulutnya ember. Dan kenapa aku juga bodoh ini kan tempat biasa aku makan dengan Daniel." Batin Retha sebal.


Setelah menandaskan satu piring sate miliknya kemudian Retha meminum teh hangat yang tadi dipesan. Dilihatnya sang suami hanya makan beberapa tusuk sate saja. Tak ambil pusing Retha meraih piring sate Arga lalu memakan sisa sate yang belum disentuh suaminya itu. Arga hanya tersenyum melihat tingkah istrinya.


"Tidak baik membuang makanan!" Ucapnya ketus.

__ADS_1


Selesai menandaskan dua porsi sate, Arga segera mengajak Retha untuk pulang. Karena hari semakin malam dan dingin mulai memasuki tubuhnya.


"Ayo pulang!" Ajak Arga pada sang istri.


Retha pun bangkit menuju mobil meninggalkan Arga yang sedang menyelesaikan pembayaran. Didalam perjalanan Retha baru teringat jika dia tadi siang diajak suaminya untuk memilih beberapa gaun.


"Oh iya Ar, bagaimana dengan gaun yang akan aku pakai, apa kau sudah memilihkan untukku? Aku tidak mau mencoba-coba lagi!"


"Sudah aku memesankan gaun khusus untukmu." Jawabnya datar.


"Memesan? Apa maksudmu? Lalu kenapa kau tadi menyuruhku untuk mencoba gaun-gaun itu jika kau memesannya!" Ucap Retha sedikit meninggikan suara geram dengan tingkah sang suami.


"Tadi kupikir kau akan cocok dengan gaun itu, ternyata tidak kau semakin cantik dengan gaun itu dan aku tidak suka."


"Lalu kenapa kau membeli gaun itu jika aku tidak akan memakainya?"


"Tidak tahu. Aku hanya ingin membelinya saja!"


Setelah sampai dirumah Retha segera masuk ke dalam rumah dan menuju ke kamarnya. Dia benar-benar sedang marah dengan Arga. Bisa-bisanya laki-laki itu menyuruhnya mencoba gaun-gaun yang indah itu tetapi dia malah memesankan yang lain.


Sesampainya dikamar Retha segera melepaskan jaketnya. Dia masuk ke kamar mandi untuk membasuh muka guna mengurangi rasa kekesalannya pada suaminya. Setelah selesai membersihkan wajahnya dia segera masuk kedalam selimut. Membungkus dirinya dari kaki sampai ke ke kepala.


Arga yang baru saja masuk ke dalam kamar disuguhi pemandangan mengejutkan dari sang istri. Dia hanya tersenyum simpul melihat kelakuan istrinya. Arga pun menuju walk in closet untuk mengganti pakaiannya setelah itu dia kembali naik ke atas ranjang. Dipeluknya sang istri dari luar selimut.


Sebelum naik ke atas ranjang tadi tak lupa dia mematikan AC dikamarnya. Dia dengan sengaja menyalakan penghangat ruangan yang ada didalam kamar.


Tak beberapa lama kemudian Retha yang berada dibawah selimut tiba-tiba merasakan panas. Dia ingin membuka selimut yang membungkus badannya tapi dia juga terlalu gengsi untuk melakukan itu. Akhirnya Retha hanya bisa menggulingkan badannya ke kanan dan kiri agar sang suami melepaskan pelukannya.


"Ada apa?" Tanya Arga pura-pura tidak tahu.

__ADS_1


"Tak ada," Jawabnya ketus.


Retha pun membuka sedikit selimutnya hingga menutupi lehernya. Dilihatnya AC dikamar dengan keadaan mati. Retha mendengus kesal ini pasti ulah Arga, pikir Retha.


Akhirnya Retha bangkit dari tidurnya guna mencari remote AC. Dia sudah mencari keseluruhan laci yang ada dikamarnya tapi tak kunjung menemukan remote AC tersebut.


"Tidurlah ini sudah malam, apa yang kau lakukan?" Tanya Arga yang sekarang sudah duduk menyenderkan tubuhnya dikepala ranjang.


"Jangan pura-pura tidak tahu, aku tahu ini pasti ulahmu kan?"


"Ulahku? memang apa yang sedang terjadi?"


"Kau mematikan AC-nya lalu kau menyalakan penghangat ruangnya. Ini tidak lucu Arga bisa-bisa kita nanti akan matang terpanggang disini!" Kata Retha menggebu-gebu.


"Tapi aku tidak merasa kepanasan sama sekali." Ucapnya santai. Bagaimana Arga tidak kepasan sedangkan sekarang dia hanya memakai celana pendek dan bertelanjang dada. "Jika ku merasa panas, lepas semua bajumu. Jangan menyalahkan AC atau aku!"


Retha yang mendengar itupun mendengus kesal. Kemudian dia berjalan menuju pintu untuk keluar. Mungkin tidur di kamar lain adalah pilihan yang tepat.


Saat sampai didepan pintu Retha memutar gagang pintu namun sialnya ternyata pintu terkunci dan lebih parahnya lagi tidak ada satupun kunci yang menggantung disana. Retha semakin geram dibuatnya.


Arga menahan tawanya agar tidak pecah melihat istrinya begitu gelisah.


"Kenapa? Bukan kah kau tadi ingin keluar?" Tanya Arga yang sekarang sibuk dengan ponselnya.


"Pintunya terkunci. Sebenarnya apa maumu?"


Arga pun menepuk-nepuk ranjang disampingnya dengan maksud agar Retha duduk disebelahnya. Retha yang mengetahui itu segera menghampirinya. Setelah Retha duduk disampingnya Arga segera mengerucutkan bibirnya tanda agar sang istri menciumnya. Arga yang merasa tak mendapatkan respon pun mendengus kesal.


"Cium dulu, nanti aku akan menyalakan AC-nya!"

__ADS_1


Dengan tidak sabaran akhirnya Retha pun mencium bibir Arga karena dia sudah merasa sangat panas. Tapi saat hendak menjauhkan pertautan bibir mereka dengan segera Arga menekan tengkuk Retha.


Disela-sela ciuman mereka Arga mengatakan "Jangan marah padaku, aku hanya tidak mau jika banyak orang yang memandangimu, hanya aku saja yang boleh memandang mu."


__ADS_2