
Pagi ini tidak seperti pagi-pagi sebelumnya, Orin terbangun dengan sendirinya tanpa bantuan dari alarm ponsel maupun alarm hidupnya yaitu sang mommy. Dengan masih mengumpulkan nyawanya dia melihat sebentar ponselnya masih jam lima pantas saja ponselnya belum berbunyi.
Perlahan dia mulai menampakkan kaki telanjangnya di dinginnya lantai kamar. Ini pertama kalinya dia bangun tanpa ada teriakan dari ratu rumah itu. Dia pun perlahan berjalan ke arah jendela kamarnya, dari sini dia bisa melihat matahari yang masih malu-malu untuk terbit.
Dia tidak mengerti dengan dirinya sendiri, entah kenapa sekarang rasanya dia sangat bahagia dan bersemangat untuk melakukan apapun. Setelah membuka korden dan jendela Orin pun berjalan kamar mandi, dia ingin segera menyegarkan tubuhnya sebelum bertempur hari ini.
Kurang lebih tiga puluh menit dia menyelesaikan ritual mandinya setelah itu dia segera bersiap-siap. Pukul enam tepat dia mulai turun kebawah untuk menyapa serta sarapan bersama dengan kedua orang tuanya.
"Pagi mom dad!" Sapanya kemudian ikut duduk di samping sang Daddy yang sedang membaca tabletnya.
"Pagi sa...yang!" Jawab mommy Retha terkejut begitu pula dengan sang Daddy yang sampai menurunkan kacamatanya untuk melihat putri tersayangnya itu.
"Wah nasi goreng mommy emang menggoda selera banget deh!" Ucapnya yang seraya tetap tersenyum yang sejak dia turun dari lantai atas senyum itu tak pernah luntur dari bibir manisnya.
"Sayang kau baik-baik saja kan?" Tanya Retha ragu, apa ada sesuatu yang terjadi tadi malam hingga membuat putri semata wayangnya jadi seperti ini.
"Orin baik-baik saja mom, kenapa sih mommy kayak terkejut gitu? Apa karena aku bangun pagi sendiri? Ya Tuhan mom aku tuh pengen jadi anak gadis yang baik gitu kayak yang biasa mommy omongin." Jawabnya sambil menyuapkan nasi goreng buatan mommy Retha ke dalam mulutnya. Orin bukanlah anak yang pemilih dalam hal makanan apalagi dengan masakan mommynya dia tidak pernah menolak anggap sajalah dia seperti omnivora atau pemakan segalanya.
"Masalahnya bukan itu sayang tapi hari ini hari Minggu dan mau kemana kamu dengan seragam itu?" Tanya Arga yang kini mulai bersuara dan menaruh tabletnya, sepertinya ada yang salah dengan putrinya.
"Hari Minggu dad?" Tanyanya dengan terkejut.
"Ya coba lihat kalendar ponselmu!" Orin pun segera mengambil ponsel yang ada di saku kemejanya.
__ADS_1
"Ya Tuhan...!" Ucapnya kemudian dengan cepat dia segera meninggalkan meja makan.
"Orin mau kemana nak?" Tanya mommy Retha.
"Aku malu ma, mau ganti baju." Jawabnya sambil tetap berlari ke kamarnya. Daddy Arga pun hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah putrinya itu.
"Kok bisa sih dad, Orin sampai lupa hari libur mana tadi kayaknya udah semangat banget lagi!" Tanya Retha pada suaminya yang sedang minum kopi buatannya itu.
"Entahlah mom Daddy juga tidak tahu. Coba nanti mommy cari tahu, ada apa dengan Orin!"
Sementara itu Orin segera menutup pintunya ketika sudah sampai di dalam kamar. Nafasnya putus-putus sudah seperti anak kecil yang ketahuan mencuri mangga di rumah pak RT.
"Orin bodoh banget sih lu, kenapa sampai lupa kali hari Minggu sih! Kan jadi malu sama mommy dan Daddy." Gerutunya pada dirinya sendiri itu. Dia pun segera mengembalikan tas Tote bag ke tempat semula setelah itu melepaskan sepatunya.
"Pasti gue udah gila nih, bener-bener gila. Gie harus searching nih ciri-ciri orang gila kayak mana!"
"Kenapa juga sama gue nih, biasanya kalau ke sekolah paling males. Kenapa sekarang jadi semangat banget apalagi ngarep buat ketemu pak Marcel!"
"Aaaaa mommy Daddy!"
Disisi lain seseorang laki-laki tengah menikmati secangkir kopi di teras rumahnya. Pandangannya menerawang jauh entah kemana dan tanpa disadari terkadang dia juga menyunggingkan senyumnya dimana membuat orang yang melihat bisa beranggapan jika dirinya sedang terkena gangguan jiwa.
"Aduh den Marcel dari tadi bik Ira lihat kok senyum-senyum sendiri. Aya main ieu teh?" Tanya bik Ira pembantu rumah tangga Marcel yang biasanya membantu pekerjaan rumahnya.
__ADS_1
"Eh nggak ada apa-apa bik!" Jawabnya malu-malu sembari menutupi semburat merah pada wajahnya. Usianya bukan lagi belasan tahun tapi entah kenapa jika menyangkut tentang perasaan membuatnya jadi seperti pria yang baru pertama kali jatuh cinta.
"Yang bener den? jangan bohongin orang tua nanti dosa lo?"
"Beneran bik, bik Ira ih nggak percaya sama saya!"
"Hahaha ya udah deh bik Ira pura-pura percaya sama den Marcel aja. Bik Ira udah siapin sarapan buat den Marcel, saya mau pamit ke pasar dulu beli persediaan sayur yang udah hampir habis semua!" Pamit bik Ira pada sang majikan yang menurutnya tingkahnya pagi ini tidak seperti biasanya.
"Marcel antar saja ya bik?" Tawar Marcel pada Bik Ira orang yang beberapa tahun ini menemani dirinya di rumah itu. Meskipun terkadang Marcel sendiri merasa kesepian sebab bik Ira hanya akan datang pagi hari ketika Marcel masih tidur dan pulang sore hari yang terkadang Marcel masih belum pulang dari mengajar.
"Jangan den, nggak usah bik Ira nanti ngrepotin. Lagian bik Ira juga nggak mau kejadian kayak kemarin terulang kembali!" Jawabnya sambil mengingat kejadian beberapa Minggu lalu dimana Marcel dikerubuti oleh teman-teman sesama asisten rumah tangga dimana membuat bik Ira tidak enak hati.
Marcel pun hanya terkekeh mengingat ibu-ibu yang tidak segan-segan untuk mencubit lengan bahkan memeluk dirinya itu.
"Makanya den jadi orang jangan ganteng-ganteng amat deh biar nggak dikerubuti sama ibu-ibu kayak waktu itu!"
"Hahaha Marcel itu biasa aja kok bik."
Seperti itulah Marcel selalu rendah hati kepada siapapun. Dia tidak pernah menunjukkan kekuatannya pada orang lain. Dia lebih suka dianggap sebagai orang yang biasa saja.
"Ya udah bik Ira berangkat mang Ujang udah nungguin di gerbang depan!"
"Hati-hati bik!"
__ADS_1
Setelah kepergian bik Ira, Marcel pun masuk ke dalam rumahnya untuk melahap sarapan yang sudah dibuat oleh bik Ira. Rencananya hari ini dia akan mengunjungi kafenya, selain untuk mengecek rutinan juga untuk melepaskan penat dan menghilangkan sedikit pikirannya tentang Orin yang sejak tadi malam benar-benar menghantuinya.
Selesai sarapan dia segera kembali ke kamar untuk bersiap-siap. Karena hari libur dia pun menggunakan pakaian kasual tidak serapi biasanya ketika mengajar. Tak lupa dia meninggalkan note yang ditempel di lemari pendingin untuk sang asisten rumah tangga sebab bik Ira tak bisa menggunakan ponsel jadi jika Marcel pergi tiba-tiba dia akan meninggalkan pesan disitu agar bik Ira tidak kebingungan mencarinya.