
"Pa-pak Mar-marcel?" Ucap Orin dengan terbata. Oh kali ini dia benar-benar merutuki mulutnya yang ceroboh itu. Sudahlah rasanya urat malu Orin sudah putus saat di depan Marcel.
"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Marcel sambil berjalan menuju ranjang tempat Orin.
"Masih sangat pusing pak!" Bohongnya entah kenapa mulutnya malah mengatakan hal itu.
"Ini tadi Aneta menitipkan bekalmu pada saya!" Kata Marcel dia sendiri masih sedikit gengsi jika harus mengatakan yang sebenarnya.
"Oh ya terimakasih pak!"
"Mau saya suapi?" Orin pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Wajahnya merona menahan malu dan juga gugup secara bersamaan.
Perlahan Marcel pun duduk di tepi ranjang lalu membuka kotak makan tersebut. Didalam kotak makan tersebut terdapat lima buah sandwich.
"Aaa...!" Kata Marcel menyuruh Orin untuk membuka mulutnya. Sandwich-nya masih sama buatan bi Yana tapi kenapa sekarang rasanya jadi beda! Lebih nikmat gimana gitu 😁
Tak terasa Orin sudah menghabiskan tiga buah sandwich. Sepertinya jika Marcel yang menyuapinya dalam satu Minggu saja pakaian yang ada di dalam almari kamarnya tidak akan muat. Apalagi dengan memandang wajah tampan Marcel dari dekat seperti ini ketampanannya bahkan terlihat berlipat ganda.
"Sudah pak saya kenyang!"
"Kenyang lah kamu sudah menghabiskan tiga buah sandwich besar!" Jawab Marcel sambil menggelengkan kepalanya, gadis kecil didepannya ternyata mampu menghabiskan makanan sebanyak itu. Sementara Orin benar-benar merasa malu dengan apa yang sudah dia lakukan. Salahkan saja mulutnya yang tidak berhenti mengunyah itu.
"Minum dulu!" Perintah Marcel sambil menyodorkan satu buah botol air mineral.
"Terimakasih!" Jawabnya lagi
"Emm maaf tadi saya tidak sempat menolongmu!" Ucap Marcel menyesal. Tadi saat Orin tergeletak pingsan ditengah lapangan dia hanya mampu menjadi penonton tanpa bisa menyentuh gadis itu. Bukan dia tidak mau tapi saat hendak menghampiri Orin ternyata Alex telah tiba terlebih dahulu dan dengan sigap laki-laki itu membawa Orin ke UKS.
__ADS_1
"Ya tidak apa-apa pak!"
Hening. Mereka terdiam dengan pemikiran masing-masing menambah suasana yang semakin canggung.
"Orin seperti apa calon suami idamanmu?" Tanya Marcel tiba-tiba. Marcel sendiri terkejut dengan pertanyaan yang dia lontarkan. Sebenarnya pertanyaan itu sudah ada dipikirannya sejak lama tapi dia sendiri tidak berniat untuk menanyakan secara langsung. Entah kenapa dengan cerobohnya dia bertanya seperti itu. Dia benar-benar merasa bodoh hari ini.
"Maksud pak Marcel?" Tanya Orin bingung sebetulnya bukan hanya bingung tapi Orin juga sama terkejutnya dengan sang guru.
"Ah sudah lupakan, itu tidak penting." Jawabnya kikuk.
"Apa kamu sudah baikan? Mau saya antar pulang?"
"Tidak perlu pak terimakasih!" Jawab Orin menolak halus permintaan Marcel. Sebenarnya dalam hati dia ingin mengiyakan ajakan Marcel tapi menurut sumber dari internet yang dia baca jika ingin mengetahui seseorang itu mencintai dirinya atau tidak kita harus menarik ulur perasaannya.
"Oh ya sudah, saya pamit terlebih dahulu masih mau mengajar di kelas lain!"
"Cepat sembuh!" Ucapnya tulus sambil membelai pipi Orin dimana membuat Orin menegang seketika. Sentuhan tangan Marcel membuat getaran berbeda pada tubuh Orin. Sebelumnya Orin sendiri belum pernah merasakan hal ini, dia sering bersentuhan dengan laki-laki lain tapi tidak pernah ada yang mampu menimbulkan getaran tersendiri seperti yang dia rasakan saat ini.
**********
Hari berganti hari, Minggu berganti Minggu kedekatan Marcel dan Orin semakin terlihat. Meskipun mereka berdua belum terikat suatu hubungan tapi keduanya sudah seperti memiliki chemistry sebagai sepasang kekasih.
Malam ini Orin tengah menikmati bulan dan bintang yang senantiasa menemani langit gelap. Udara dingin menusuk kulit putihnya saat dia menikmati indahnya malam dari balkon kamarnya.
"Dingin benget sih!" Ucapnya sambil bergidik saat angin membelai kulitnya.
"Dingin-dingin gini enaknya makan yang hangat-hangat tapi apa ya?"
__ADS_1
"Kayaknya makan Ramen di kedai om Rama enak nih!" Monolog Orin pada dirinya sendiri. Setelah mendapatkan ide untuk pergi ke kedai ramen milik om Rama salah satu teman daddynya yang sudah menjadi langganan keluarganya, Orin pun bergegas untuk berganti pakaian.
Malam ini Orin menggunakan celana Jogger pants tentu saja dari merk terkenal lalu dipadupadankan dengan hoddie berwarna abu-abu tak lupa sepatu slip on yang turut membalut kakinya. Setelah itu dia mengambil dompet yang berada di atas nakas.
"Mom... mommy?" Teriak Orin sembari menuruni tangga untuk mencari keberadaan sang mommy.
"Mommy di dapur sayang." Jawab mommy Retha kala itu yang sedang membuat secangkir kopi tentu saja untuk sang daddy.
"Ada apa mencari mommy?" Tanyanya ketika Orin sudah berada di dapur.
"Orin mau pergi beli ramen, mommy mau titip sekalian atau tidak?"
"Tidak usah mommy sama daddy udah kenyang. Kamu mau beli sendiri?" Tanya sang mommy ketika melihat penampilan Orin sudah rapi tadi gadis itu sudah menggunakan pakaian tidurnya saat makan malam.
"Tidak mom, aku minta diantar mang Asep aja, lagian habis hujan gini males benget nyetir sendiri."
"Kenapa nggak minta mang Asep atau yang lain buat beliin? Atau pesan grabfood?"
"Orin pengen makan disana mom biar lebih nikmat."
"Oh ya udah kalau gitu tadi sepertinya mang Asep masih di depan kamu panggil aja!"
"Oke mom, Orin berangkat dulu!" Ucapnya sambil mencium pipi sang mommy. Itulah kebiasaan kedua anak mommy Retha mereka akan mencium pipi kedua orang tuanya saat ingin berpergian bahkan Noel pun melakukan hal yang sama. Kata mommy Retha dulu itu adalah menandakan kasih sayang.
"Hati-hati sayang jangan pulang terlalu malam!" Peringatnya pada sang putri. Mommy Retha pun tersenyum senang sebab sudah banyak perubahan yang Orin lakukan, sekarang gadis itu tidak terlalu manja seperti sebelum-sebelumnya meskipun sifat manjanya belum hilang.
Orin pun berjalan keluar menuju pos penjaga untuk memanggil Mang Asep yang tengah bermain catur dengan penjaga yang lainnya. Setelah memanggil mang Asep Orin pun kembali masuk ke dalam mobilnya. Didalam mobil Orin sudah membayangkan kelezatan dari kuah ramen yang menjadi favoritnya itu.
__ADS_1
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih tiga puluh menit akhirnya Orin pun sampai di kedai ramen Yummy salah satu cabang kedai yang di miliki oleh om Rama. Orin pun segera keluar dari dalam mobil karena sudah tidak sabar untuk menikmati hangatnya kuah ramen saat musim dingin seperti ini.
Orin pun mengedarkan pandangannya untuk mencari tempat-tempat yang kosong sebab meskipun kota Jakarta selesai diguyur hujan peminat ramen justru semakin membludak apalagi musim hujan seperti ini. Tak lama kemudian Orin pun menemukan tempat kosong yang berada di ujung sana. Tempatnya memang agak jauh dengan tempatnya dia berdiri sekarang dengan langkah seribu dia pun segera menghampiri tempat tersebut. Namun saat sudah berada di tempat tersebut matanya membulat ketika melihat seseorang yang berada di depannya dan orang itupun hendak duduk ditempat yang sama dengan dirinya.