
Makan malam romantis ala guru dan murid pun selesai. Awalnya Marcel mengira jika dia mengendarai motor sangatlah efektif dan efisien. Namun ternyata dirinya salah besar. Contohnya sekarang saja dia ingin mengantar Orin pulang tapi tidak memungkinkan jika mengendarai motor mengingat Orin yang sedang menggunakan dress yang lumayan tinggi diatas lutut apalagi dia hanya membawa satu buah helm.
"Tidak apa pak saya bisa pulang dengan sopir!" Ucap Orin menenangkan dari rasa ketidakenakan yang Marcel rasakan.
Orin tahu Marcel ingin bertanggung jawab sepenuhnya pada dirinya apalagi sekarang mereka baru saja menjalin hubungan khusus tentu saja dari diri mereka masing-masing ingin terlihat lebih baik di depan pasangannya. Meskipun mereka sendiri juga tahu jika pasangan mereka juga orang baik-baik.
"Maaf ya! Harusnya tadi aku nggak bawa motor!" Sesal Marcel. Kini bahasanya sudah tidak terlalu formal lagi meskipun masih terdengar kaku.
"Tapi kalau kamu nggak pakai motor semakin lama dong datangnya!" Jawabnya bagaimanapun juga dia tidak ingin Marcel merasa kecewa dengan dirinya sendiri di awal perkencanan.
"Kalau begitu aku antar sampai mobil ya!" Orin pun mengangguk mereka keluar restoran secara beriringan sembari Marcel menggenggam tangan Orin layaknya Orin anak kecil yang harus dipegangi ketika berjalan.
Setelah sampai di mobil Marcel pun segera membukakan pintu untuk Orin dimana membuat Orin merasa seperti putri raja saja. Setelah Orin duduk di jok belakang Marcel segera menutup pintu itu.
"Aku kawal dibelakang ya, aku belum lega kalau nggak memastikan kamu selamat sampai rumah!"
"Nggak perlu pak kan sudah ada mang Asep juga." Jawab Orin tidak enak.
"Aku mohon jangan nolak ya!" Pinta Marcel tentu saja dia harus memiliki 1001 cara untuk menjadi pria yang Orin dambakan.
__ADS_1
"Baiklah!" Jawab Orin kemudian tersenyum. Dia benar-benar tidak menyangka jika Marcel akan seposesif ini. Awalnya dia berfikir jika hubungannya akan terasa hambar sebab sikap dingin dari Marcel. Namun kenyataan yang ada sekarang Marcel begitu peduli dengan dirinya. Menurut Orin jika seseorang itu posesif berarti dia memang benar-benar mencintai pasangannya dan takut kehilangan kekasihnya.
"Pak bawa mobilnya hati-hati ya!" Ucap Marcel pada mang Asep yang sejak tadi menunggu Orin di dalam mobil.
Setelah itu Marcel segera kembali ke parkiran untuk mengambil motor. Dan mereka pun bergegas meninggalkan restoran tempat yang mungkin akan mereka jadikan tempat keramat saksi bagaimana mereka menyatakan perasaan yang selama ini mereka pendam masing-masing.
Cukup lama akhirnya mereka pun sampai di depan rumah mewah bernuansa putih. Orin lebih dulu menyuruh mang Asep untuk berhenti di depan pintu gerbang. Lalu dia keluar untuk menemui Marcel terlebih dahulu sekedar mengucapkan terimakasih.
"Masuklah sudah malam dan segera tidur, angin malam tidak baik untuk kesehatanmu!" Perintah Marcel setelah dia mematikan suara deru motornya.
"Baiklah baiklah pak guru posesif. Pulanglah dengan hati-hati! Sampai berjumpa besok!" Marcel pun tersenyum. Rasanya dia ingin berlama-lama dengan Orin dan tidak ingin berpisah barang sedetikpun. Tapi harus bagaimana lagi hubungan mereka belum sejauh itu. Apalagi mereka baru beberapa jam menjalin hubungan.
"Selamat malam juga pak guru!" Jawab Orin tak lama kemudian Marcel mulai memacu motornya meninggalkan kompleks rumah Orin. Hari ini perasaannya sangatlah bahagia lebih dari ketika dia mendapat nilai tinggi di kampusnya dulu. Jika setiap hari dia seperti ini mungkin dia akan lupa jika usianya sudah hampir menginjak kepala tiga.
Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya senyum itu luntur dari bibir Marcel. Andai saja dia bisa berbagi kebahagiaan ini dengan kedua orangtuanya atau keluarga terdekat lainnya mungkin akan terasa lebih lengkap tapi apa daya dari dulu dia tidak mengerti siapa orang tua kandungnya. Yang dia tahu hanya orang yang selama ini merawatnya. Memberikan segala kebutuhannya tanpa berkurang sedikitpun. Lagipula dia sudah tidak ingin tahu lagi siapa orang tua kandungnya. Baginya dia sudah cukup kecewa dengan orang tuanya yang tega membuangnya di panti asuhan. Lalu untuk apa memikirkan orang yang bahkan tidak peduli dengan perasaan kita hanya akan membuang-buang waktu saja. Toh sekarang dia juga punya orang-orang yang peduli padanya meskipun mereka tidak punya ikatan darah sekalipun dengannya.
Sementara itu dilain tempat setelah kepergian Marcel, Orin segera berlari menuju kamarnya. Untuk saat ini dia tidak ingin bertemu dengan siapapun apalagi dengan orangtuanya. Sungguh dia masih merasa malu apalagi nanti jika mereka melihat guratan merah di pipi Orin. Oh tidak tidak dia tidak siap akan hal itu.
Sesampainya di kamar Orin segera melepaskan dress yang dia gunakan. Dalam hatinya dia sungguh sangat bangga dengan mommynya yang selalu menggunakan dress di setiap saat. Bagaimana dengan dirinya yang baru sebentar mengenakan pakaian itu tubuhnya sudah terasa lelah rasanya dia sulit bernapas karena harus sering menahan nafas agar tidak terlalu terlihat perutnya yang tidak seperti roti sobek itu. Menurutnya cantik memang butuh perjuangan.
__ADS_1
Setelah membersihkan diri serta berganti pakaian, dia segera merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Rasanya masih seperti mimpi tapi nyata. Ah memikirkan hal itu lagi membuat Orin menjadi malu. Baru pertama kalinya jatuh cinta lagi setelah sekian lama dan rasanya sungguh tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.
"Nggak nggak gue harus tidur! Bisa-bisa gue gila kalo kayak gini terus!"
"Ya Tuhan kenapa pas gue nutup mata malah wajahnya terpampang jelas gitu sih!"
Akhirnya mungkin karena memang sudah lelah Orin pun tertidur. Dia hanya berharap jika hari esok akan menyambutnya dengan suka cita seperti tadi malam.
*****
Pagi hari seperti hari-hari sebelumnya, Orin bangun sendiri kemudian membersihkan dirinya sebelum turun ke bawah untuk membantu mommy dan asisten rumah tangganya memasak. Sebenarnya bukan membantu sih Orin lebih banyak membantu dengan do'a. Bagaimana tidak terkadang gadis itu bangun setelah makan sudah tersaji semua di meja makan. Kalau tidak biasanya dirinya hanya menjadi penonton sembari memakan beberapa buah.
"Pagi mom dad!" Sapa Orin ketika dia sudah sampai di meja makan. Sama seperti hari-hari sebelumnya mereka lebih sering bertemu dan berinteraksi di meja makan karena mereka memiliki kesibukan masing-masing apalagi Daddy Arga yang harus mengurus semua perusahaan yang sudah opa berikan padanya. Jadi di meja makanlah tempat mereka bertemu, berbincang-bincang, bercanda dan terkadang saling menyudutkan satu sama lain.
"Pagi sayang, udah mandi belum?" Tanya mommy Retha yang sedang menuangkan segelas susu di gelas Orin.
"Ih mommy kan Orin udah cantik gini, jadi udah pasti udah mandi dong!" Jawab Orin kesal sembari mengerucutkan bibirnya dimana membuat orang tuanya tertawa. Ternyata Orin masih sama, terlihat sangat manja dan mudah merajuk di depan keluarganya.
"Oh iya sayang tadi malam katanya kakak telepon kamu tapi nomor kamu tidak aktif memang ponsel kamu kemana? Udah rusak lagi?"
__ADS_1