
Setelah membukakan pintu untuk Orin, Marcel segera mengambil beberapa kantong plastik berisi bahan makanan yang sudah mereka beli. Sebenarnya di dalam lemari pendingin dirumahnya, Marcel selalu menyediakan bahan makanan sebab dia selalu menyuruh bibi membeli bahan makanan untuk satu Minggu kedepan. Tapi dia tidak tahu adakah bahan yang akan dia butuhkan hari ini di lemari pendinginnya oleh sebab itu lebih baik dia membeli saja terlebih dahulu.
Mengingat saat mereka sedang membeli bahan makanan tadi membuatnya tersenyum. Bagaimana tidak, melihat wajah Orin yang benar-benar tidak mengerti mengenai bahan makanan membuatnya menggelengkan kepalanya. Apalagi tadi ada sedikit insiden yang membuatnya ingin tertawa terbahak-bahak tapi dia urungkan melihat wajah murung Orin.
"Ke dapur lah terlebih dahulu dan siapkan bahan-bahannya, aku akan menyusul setelah mengganti baju!" Ucapnya kemudian berlalu meninggalkan Orin yang kini sedang berjalan ke arah dapur.
Rumah Marcel tampak sepi, bagaimana tidak Marcel selalu menyuruh asisten rumah tangganya untuk pulang ketika malam tiba. Dia tahu jika asisten rumah tangganya juga memiliki keluarga yang harus diurus sedangkan dirinya sebenarnya bisa mengurus dirinya sendiri sebab sudah lama dia hidup sendiri. Ya hidup sendiri tanpa orang tuanya.
Sedangkan untuk satpam rumah dia tidak memilikinya karena sudah ada satpam kompleks yang akan menjaga lagipula dia bisa masih memiliki tangan yang kuat untuk sekedar membuka dan menutup gerbangnya. Apakah dia tidak memikirkan keselamatan rumahnya bila ada perampok datang? Jawabnya tidak karena perumahan yang dia tempati tidak sembarang orang bisa masuk kecuali mereka yang para penghuni itu sendiri dan juga orang-orang yang sudah memiliki janji temu dengan empunya rumah.
Sesampainya di dapur Orin meletakkan kantung-kantung tersebut di atas meja set kitchen. Dia tampak menggaruk keningnya yang tidak gatal.
"Ini yang harus disiapin apa aja ya?" Gumamnya sambil mengeluarkan beberapa bahan makanan yang ada di dalam kantung tersebut.
Tak mau kehilangan muka didepan calon suaminya lagi, Orin segera mengeluarkan ponsel pintarnya. Mengetikan sesuatu disana tak lama kemudian apa yang di inginkan pun muncul.
"Jadi yang harus disiapin ayam, bawang bombai, bawang putih, gula, air, garam, minyak, daun bawang dan kecap manis!"
Mengingat kecap manis membuat Orin mengingat insiden memalukan di supermarket tadi. Untung calon suaminya pengertian jika tidak entah sekarang dimana Orin akan menaruh wajahnya karena malu bukan kepalang.
flashback
*Sesampainya di Supermarket, mereka berdua pun segera turun. Tak lupa Marcel mengambil troly untuk menaruh belanjaan yang akan mereka beli. Karena hari ini mereka berencana akan memasak ayam kecap, jadilah mereka memilih ayam terlebih dahulu. Sementara Orin hanya mengikuti saja karena dia benar-benar tidak mengerti masalah dapur. Sungguh calon istri yang mengenaskan!
"Kamu mau bagian yang mana paha atau dada?" Tanya Marcel ketika mereka mereka sudah sampai di depan lemari pendingin untuk menaruh berbagai macam jenis daging tersebut.
"Aku mau yang paha saja!"
"Baiklah."
"Jika aku harus memilih mungkin aku akan memilih dada atau pahamu saja!" Batin Marcel dengan pikiran liarnya. Entah kenapa sekarang dirinya memikirkan hal-hal seperti itu yang membuatnya menjadi bersemu.
Selesai memilih daging mereka menuju rak bumbu. Disana sudah berjajar berbagai jenis bumbu masakan yang Orin sendiri tidak ketahui namanya.
__ADS_1
"Sayang bisa tolong ambilkan kecap manis? Aku akan mengambil minyak goreng terlebih dahulu!"
"Yang besar atau kecil?" Tanya Orin antusias. Dia sangat senang sebab Marcel mau mengajarinya memasak dan itu pengalaman yang menyenangkan bukan. Jika biasanya dia hanya melihat mommynya memasak tapi kali ini dia akan terjun langsung dan berkutat dengan pisau dapur sendiri.
"Yang besar juga tak apa." Jawab Marcel kemudian Orin meninggalkan Marcel dan mencari si kecap manis itu berada.
Saat sedang mencari-cari kecap manis tersebut, dengan tidak sengaja Orin bertemu teman lamanya. Teman semasa sekolah menengah pertamanya dahulu.
"Orin?" Sapa pria itu.
"Emm Ryo ya?" Tanyanya mengingat wajah pria didepannya yang memang terasa tidak asing itu.
"Ah iya aku Ryo. Wah sudah lama tidak bertemu, bagaimana kabarmu?"
"Aku baik-baik saya Yo, bagaimana dengan kabarmu sendiri?"
"Bisa kau lihat bukan jika diriku juga baik-baik saja dan bertambah tampan sekarang!" Jawab Ryo dengan narsis karena memang sifatnya yang terkenal narsis itu.
"Ah ternyata kau masih sama menyebalkan!" Mereka pun tertawa bersama mengingat masa kecil mereka dahulu sampai seorang wanita menghampiri Ryo dan langsung memandang sinis ke arah Orin.
"Ah iya Mel, kenalkan dia Orin teman lamaku!"
Orin mencoba tersenyum meskipun merasakan kesal pada wanita didepannya ini. Bukannya kesal karena dia dekat dengan Ryo tapi kesal karena wanita itu memandangnya dengan sinis. Memang apa salahnya bukankah ini pertama kalinya mereka bertemu? Tapi kenapa wanita itu seakan-akan sudah mengibarkan bendera permusuhan padanya.
"Tidak perlu. Ayo kita pergi! Aku tidak mau melihatmu berdekatan dengan wanita kegatelan seperti ini lagi!" Ucapnya ketus seraya melirik sinis pada Orin yang sejak tadi hanya memandangnya saja.
"Mel, dia teman lamaku bukan orang yang baru aku kenal!"
"Cih, wanita modelan seperti ini sudah bisa aku tebak. Awalnya memang teman lama, lama-lama dia akan merayumu juga! Dasar tidak tahu diri!"
Orin yang dikatai seperti itu pun meradang karena kesal. Bagaimana bisa dirinya hanya menyapa teman lamanya tapi wanita ini bisa-bisanya mengatainya tidak tahu diri. Hell, jika bukan karena ditempat umum dan ada cctv mungkin sudah merobek mulut wanita itu.
"Em sepertinya aku harus segera kembali, calon suamiku pasti sudah menungguku!" Jawabnya tidak kalah ketus lalu menekan kata 'calon suami' agar wanita itu dengar.
__ADS_1
Orin pun meninggalkan dua insan manusia itu begitu saja, sebenarnya dia merasa tidak enak dengan Ryo tapi wanita gila disebelahnya itu sudah membuatnya darah tinggi. Karena kesal Orin pun mengambil asal kecap yang ada disana tanpa melihat tulisannya. Yang penting besar, sudah itu saja. Lagipula dia juga ingin segera pergi dari tempat itu.
"Ini!" Ucap Orin dengan nada yang tidak bersahabat. Tenyata pertemuannya dengan wanita tadi masih membuatnya emosi.
"Sayang kenapa lama sekali dan ini salah!" Ucap Marcel sambil menyodorkan kembali kecap yang sudah diambil Orin.
"Apalagi yang salah sih, ini kecap bukan warnanya hitam berarti itu kecap kan?"
"Iya aku tahu tapi in...!"
"Ini apa, ah sudahlah aku akan mencobanya agar dirimu percaya!" Dan benar saja Orin membuka tutup kecap tersebut lalu sedikit menaruhnya diatas telapak tangannya. Dan saat Orin melakukan hal itu ternyata seorang pegawai supermarket tersebut melihat kearah Orin.
Setelah menaruh kecap tersebut Orin pun segera memasukkannya kedalam mulutnya. Dia mengerutkan keningnya, kenapa rasanya berbeda dengan kecap yang biasa dia minta pada mommynya?
"Kenapa rasanya begini?"
"Itu kecap asin sayang bukan manis!" Jawab Marcel sambil menahan tawanya kemudian menunjukkan kemasan dimana disana tertulis kecap asin bukan manis.
Wajah Orin pun merah padam sungguh sangat memalukan. Ini semua karena wanita menyebalkan tadi!
"Maaf aku tidak tahu!" Jawabnya sambil menundukkan kepalanya.
"Tak apa, kita cari bersama-sama saja hmm?" Orin pun menganggukkan kepalanya tanda setuju. Saat mereka hendak meninggalkan tempat itu, seorang pegawai supermarket mendatanginya.
"Maaf kak, kakak sudah melakukan pelanggaran! Barang yang belum dibeli tidak bisa dicoba terlebih dahulu!"
Orin pun kembali terhenyak, karena emosi dia tidak memikirkan hal-hal yang akan diperbuatnya. Sungguh emosi adalah hal yang akan merusak segalanya.
"Maaf mbak, istri saya tadi sedang sedikit emosi dan mengenai hal ini saya akan bertanggung jawab sepenuhnya!" Kata Marcel pada pegawai tersebut. Akhirnya pegawai tersebut pun mengerti setelah mendengar penjelasan Marcel.
"Maaf aku sudah membuat semuanya kacau!" Sesal Orin kemudian menundukkan kepalanya.
"Tak apa, semuanya sudah beres. Ayo kita pulang!" Ucap Marcel sambil mengelus sayang surai kecoklatan milik Orin. Sebenarnya ada yang ingin Marcel tanyakan pada Orin, kenapa wanita itu tiba-tiba saja datang dengan raut wajah kesal. Tapi Marcel mengurungkannya karena tidak ingin kembali membuat Orin kesal*.
__ADS_1
flashback off