
Pagi ini Orin benar-benar dilanda kegabutan yang hakiki bagaimana tidak baru beberapa jam yang lalu si kembar dijemput oleh opa dan Omanya untuk dibawa ke rumah mereka. Katanya rindu dengan Andrew dan juga Andrea padahal mereka tidak bertemu secara langsung baru dua hari dan setiap hari pun mereka melakukan panggilan video. Usia si kembar yang sudah menginjak satu tahun dan memang sedang aktif-aktifnya dengan rasa keingintahuan yang tinggi memang membuat semua orang gemas.
Karena tidak tahu harus melakukan apa akhirnya Orin pun hanya merebahkan tubuhnya di atas ranjang sembari bermain dengan ponsel. Di rumahnya sedang sepi hanya ada dirinya dan dua orang asisten rumah tangga. Sementara suaminya sudah berangkat bekerja sejak tadi pagi. Akhir-akhir ini Marcel memang sibuk dengan proyek restoran yang kian berkembang bahkan dirinya hanya akan ada waktu untuk keluarga pada hari Minggu saja itupun jika Orin tidak merajuk karena sering ditinggal lembur.
Katanya Marcel sudah tua dan harus menjaga kesehatan tubuhnya, bergadang malam tidak baik! Ah Marcel rasanya ingin ******* habis mulut cerewet istrinya itu.
Akhirnya Orin memutuskan untuk melihat salah satu restoran yang letaknya tidak jauh dari rumahnya saja. Lagipula sudah lama dia tidak kesana dan sekedar untuk refreshing menjadi gadis dalam sehari. wkwk
Setelah selesai bersiap-siap dan memesan salah satu taksi online karena sopir di rumahnya sedang kurang sehat, Orin berpamitan pada kedua asisten rumah tangganya yang kala itu sedang membersihkan ruangan keluarga.
"Bi aku pergi keluar ya mau cek restoran yang di deket sini, di rumah nggak ngapa-ngapain aku bosen!" Keluhnya pada dua wanita paruh baya itu. Orin tentu saja sudah akrab dengan kedua asisten rumah tangga itu karena sebelum bekerja di rumahnya mereka terlebih dahulu bekerja di rumah mommynya sejak dia kecil.
"Baik non, tapi pak Harto sedang sakit apa mau bibi panggil kan sopir dari rumah besar saja?"
"Tidak usah bi, Orin sudah pesan taksi online. Lagipula deket situ kok!"
"Oh baiklah non!"
"Ditinggal dulu ya Bi!" Pamitnya kemudian melenggang meninggalkan rumah dan masuk ke dalam taksi online yang sudah menunggu di depan rumahnya.
"Sesuai aplikasi mbak?"
"Iya pak!"
Mobil pun berjalan keluar dari komplek menyuguhkan pemandangan gedung-gedung berjajar di sepanjang perjalanan. Sekitar lima belas menit kemudian taksi online yang ditumpangi Orin sudah sampai di salah satu restoran milik suaminya. Restoran tersebut baru buka beberapa bulan yang lalu. Setelah membayar ongkos taksi online tersebut Orin segera masuk ke dalam sekedar untuk melihat-lihat kinerja karyawannya.
"Pagi Bu!" Sapa salah satu pegawai yang sedang bertugas di dekat pintu keluar masuk untuk memberi salam bagi para pengunjung.
"Iya pagi, Rere ada di dalam?" Tanyanya pada karyawan tersebut. Rere adalah kepala manajer restoran tersebut yang kebetulan adalah salah satu teman seangkatan SMA-nya dulu hanya saja mereka tidak terlalu dekat karena memang berbeda kelas. Tapi dengan seiring berjalannya waktu mereka menjadi akrab karena peringai Orin yang asyik dan Rere sendiri yang mudah bergaul dengan siapa saja.
"Ada Bu, Bu Rere ada di ruangannya. Mari saya antar Bu!"
__ADS_1
"Tidak perlu!" Jawabnya sambil menggelengkan kepalanya. "Panggilkan saja dia saya tunggu di sana!" Ucapnya sambil menunjukkan meja kosong yang berada di dekat dengan tempat parkir mobil.
"Baik Bu!" karyawan tersebut pun pergi meninggalkan Orin, sementara ibu satu anak itu berjalan ke arah meja yang sudah ditunjuk olehnya.
"Bu mau minum apa?" Tanya karyawan lain melihat atasan mereka yang sedang berkunjung secara tiba-tiba tentu saja membuat mereka berspekulasi yang tidak-tidak.
"Lemon tea saja!"
"Baik Bu!" Karyawan itu pun pergi tak lama kemudian datang lah seorang wanita dewasa dengan setelan kerjanya.
"Pagi Bu Orin!" Sapanya dengan sopan tak lupa senyuman manisnya.
"Ba-bu-ba-bu!" Jawab Orin dengan kesal mendengar sapaan dari bawahan suaminya itu.
"Haha jangan cemberut seperti itu! Aku masih bekerja dan kamu atasan aku jadi aku berkewajiban memanggil kamu ibu kan?"
"Nggak, buat kamu pengecualian. Udah ah aku lagi pengen senang-senang jangan buat aku kesal!"
"Di boikot sama opa Omanya huh!"
"Udah pesan minum?"
"Udah tadi, gimana sama restoran rame?"
"Rame banget Rin, apalagi ada menu baru yang emang lagi viral. Kadang-kadang para karyawan juga sedikit kewalahan karena banyak pengunjung yang datang secara bersamaan."
"Nanti aku usulin buat tambah karyawan gimana?" Tanyanya kemudian meminum lemon tea yang baru saja diantar oleh karyawan miliknya.
"Boleh tapi kalau bisa yang udah pengalaman aja jadi nggak perlu training lagi."
"Iya bisa diatur itu nanti."
__ADS_1
Mereka pun terlibat percakapan yang mengasyikkan sampai tatapan Orin tertuju pada dua orang yang baru saja melewati pintu masuk. Meskipun hanya sekilas Orin sangat hafal dengan salah satu orang itu. Itu adalah suaminya. Marcel dan seorang wanita yang mungkin usianya beberapa tahun diatasnya. Cantik dan juga anggun. Berbeda dengan dirinya yang masih terlihat seperti anak-anak. Tiba-tiba pikiran buruk melintas di kepalanya.
"Itu Marcel kan?" Tanyanya pada Rere yang sedang asyik berbalas pesan dengan kekasihnya itu.
"Oh itu, hu'um. Beberapa kali pak Marcel datang dengan wanita itu!" Jawabnya tanpa memperhatikan wajah Orin yang sudah berubah merah karena menahan kesal.
"Tapi siapa wanita itu? Karyawan juga?"
"Setahu aku sih bukan karena aku kenal semua sama manajer di restoran yang di Jakarta."
Untung saja restoran sedang sepi dan jarak tempat duduk mereka tidak terlalu jauh jadi Orin bisa sedikit mencuri dengar percakapan mereka meskipun tidak terlalu jelas.
"Bagaimana tempatnya sudah fiks kan?" Tanya Marcel pada wanita didepannya yang sedang mengamati tablet ditangannya.
"Sudah kita sudah bisa kesana!"
Deg...
Mereka mau kemana? Tempat? Tempat apa? Atau jangan-jangan mereka berse... Tidak tidak Marcel sangat mencintaiku. Batin Orin yang sedang beradu perang dengan pikirannya.
"Wah emang aku nggak salah pilih partner, kamu emang hebat Sil!"
"Bisa aja kamu Cel, jangan lupa kasih bonus ya buat aku?"
"Siap, apa sih yang nggak buat kamu!" Jawab Marcel kemudian mereka tertawa bersama dimana membuat salah satu orang diantara restoran itu kebakaran jenggot mendengar percakapan absurd mereka.
"Oh iya hadiah buat istrimu juga udah kamu siapin?"
"Huh mau kasih hadiah sogokan buat aku? Nggak mempan!" Batin Orin masih dengan rasa dongkolnya. Sementara Rere hanya tersenyum kikuk melihat Orin yang sudah bak cacing kepanasan. Dia sendiri tidak tahu apa hubungan diantara boss dan juga wanita itu. Lagipula itu juga bukan urusannya.
"Udah, pasti dia bakalan suka sama hadiah ku!" Jawab Marcel dengan bangga.
__ADS_1