
Setelah pulang dari restoran Retha kembali ke rumah di antar sopir. Dan benar saja sudah ada beberapa orang yang sedang menurunkan sebuah kardus besar. Seseorang diantara mereka menghampiri Retha yang sudah turun dari mobil dan memuji pintu utama.
"Maaf nyonya muda saya mengantarkan mesin cuci pesanan tuan muda" Ucap pria itu.
"Iya letakkan saja disana!" Kata Retha menuju tempat mencuci pakaian.
Seiring berjalannya waktu hubungan mereka semakin membaik. Arga sudah tidak pernah telat untuk pulang ke rumah seperti tahu dimana dia akan pulang.
Hari ini ada acara festival di taman kota Retha meminta izin Arga untuk mengunjunginya. Retha tidak mengajak Arga pergi bersama karna dia tahu pasti suaminya sibuk.
To: Arga
Hari ini aku ingin berkunjung ke festival di taman kota, apa kau mengizinkanku pergi?
Arga yang mendengar suara notifikasi pesan dari handphonenya segera membuka pesan itu. Dan mnegetikan beberapa kata.
To: Retha
Tunggu dirumah aku akan mengantarmu pergi ke festival :)
Retha pun tersenyum membayangkan dirinya akan mendapatkan banyak makanan dan dia juga akan datang bersama dengan orang yang dicintai. Ha dicintai? Entah sejak kapan rasa itu ada Retha juga tidak mengerti. Retha pun segera bersiap-siap dan menunggu kepulangan Arga.
Tak lama kemudian terdengar bunyi mobil memasuki garasi. Retha pun berlari menuju garasi. Dilihatnya Arga baru saja keluar dari pintu mobil. Retha pun menghampirinya.
"Ayo ganti baju kita berangkat sekarang!" Ucap Retha sambil menarik tangan Arga masuk kedalam rumah. Arga yang mendapat perlakuan seperti itu pun sedikit terkejut tapi banyak senangnya. Bagaimana tidak dia senang tanpa disuruh ataupun diminta tangannya menggenggam erat tangan Arga.
"Hei lihatlah ini masih sore kenapa terburu-buru!"
"Nanti aku kehabisan makanan, sekarang masuk ke kamar dan mandilah aku akan mengambilkan baju untukmu!" Perintah Retha yang membuat Arga tidak bisa berkutik. Akhirnya Arga menuruti semua perintah Retha.
Setelah cukup lama Retha menunggu Arga bersiap, akhirnya Arga pun selesai dan menuju lantai bawah dimana tempat Retha menunggu.
Tampak raut wajah Retha menahan kesal karena menunggu Arga bersiap yang memakan waktu cukup lama. Arga yang melihat pun menyunggingkan senyumnya.
"Ayo!" Kata Arga.
Retha pun menoleh dan langsung bergegas menuju mobil Arga. Dia tidak menghiraukan Arga yang memanggil namanya.
Arga pun menyusul masuk kedalam mobil dan melajukan mobilnya menuju festival makanan tahunan di taman kota.
Disepanjang perjalanan Retha hanya diam dan menatap keluar jendela. Sungguh dia begitu kesal dengan Arga.
"Hei jangan marah, kita kan sekarang sudah berangkat kesana." Ucap Arga sambil mengelus kepala Retha. Retha pun masih diam tak mengalihkan pandangan matanya.
__ADS_1
Arga pun menghela nafas panjang, Retha benar-benar marah padanya.
"Baiklah baiklah aku minta maaf, sebagai permintaan maafku kau boleh membeli semua makanan disana, bagaimana?"
Retha yang mendengar Arga akan membelikan semua makanan untuknya pun langsung menoleh ke arah Arga untuk meyakinkan pendengarannya tidak salah.
"Benarkah?" Tanya Retha sambil tersenyum penuh kemenangan.
"Cih dasar sapi." Ejek Arga.
Tak lama kemudian mobil yang mereka tumpangi pun sampai di parkiran festival tersebut. Mereka pun segera turun dan berjalan diantara kerumunan orang-orang. Karena hari ini akhir pekan jadi begitu banyak orang yang berkunjung ke festival tersebut.
Retha tidak bisa mengalihkan pandangannya pada jejeran stand makanan. Tampak matanya begitu berbinar melihat banyaknya makanan. Begitu mudahnya membuatmu senang re, pikir Arga.
Disepanjang perjalanan menuju stand makanan Arga tak pernah melepaskan genggamannya pada tangan Retha sedikit pun.
"Ar aku mau itu." Ucap Retha sambil menunjuk sebuah stand makanan.
"Ayo kita kesana!" Kata Arga sambil berjalan menuju ke arah stand makanan yang ditunjuk Retha.
"Pak sate padangnya satu!" Ucap Arga pada penjual sate tersebut.
Karena sedikit antri jadi mereka harus menunggu beberapa lama. Wajah Retha tampak begitu senang. Setelah selesai dari stand tersebut Retha pun mengajak Arga untuk berkeliling dan membeli beberapa makanan.
Setelah dirasa cukup lama mereka berkeliling akhirnya mereka pun merasakan kelelahan dan duduk disebuah bangku.
"Ya, tapi aku senang" Jawabnya seraya menampilkan deretan giginya yang putih dan rapi.
"Kau mau berkeliling lagi?"
"Tidak, pulang saja aku tahu kau pasti lelah selepas pulang dari kantor aku langsung mengajakmu kesini." Kata Retha sambil menundukkan kepalanya merasa bersalah karena mengajak Arga tanpa melihat kondisinya.
"Hei tak apa aku senang bisa menemanimu disini, aku juga tidak lelah." Ucapnya sambil meraih dagu Retha dan mengangkatnya hingga tatapan mata mereka bertemu.
Arga pun meraih kedua tangan Retha dan menggenggamnya begitu erat. Arga mengarahkan tubuh Retha agar sepenuhnya menghadap padanya.
"Re maafkan aku, dulu aku begitu menyakitimu, setiap hari aku membentak mu dan memarahimu, aku menyesal."
"..aku ingin memperbaiki semua kesalahanku, aku mohon jangan meninggalkanku. Mungkin aku tidak bisa menjanjikan apapun, aku tidak bisa menjanjikan kau akan tetap bahagia tapi aku ingin selalu membuatmu tersenyum dan tidak pernah menjatuhkan air mata kembali". Ujar Arga sambil mencium punggung tangan Retha.
Retha merasa ada kehangatan dari setiap sentuhan yang Arga berikan. Jantungnya berdegup kencang, dia begitu bahagia Arga menyadari kesalahannya dulu.
Arga menarik tubuh Retha kedalam pelukannya. Retha masih diam terpaku dengan perlakuan Arga. Sampai suatu bisikan yang selama ini ingin Retha dengarkan, hari ini terucap begitu saja dari bibir manis Arga.
__ADS_1
"Aku mencintaimu." Kata Arga tepat ditelinga Retha. Retha dapat merasakan hembusan nafas hangat dari mulut dan hidung Arga.
Retha pun tak kuasa menahan air matanya. Dia begitu bahagia karena laki-laki yang dia cintai dalam diam selama ini juga mencintainya. Sampai bunyi isakan menyadarkan Arga.
"Hei kenapa menangis? kau tidak menyukaiku ya?" Tanya Arga berturut-turut.
"Aku menangis terharu, ternyata kau juga mencintaiku hikss hikss."
"Jadi selama kau juga mencintaiku?" Retha pun mengangguk.
"Sudah kuduga kau pasti mencintaiku, mana mungkin kau tidak menyukaiku pria tampan dan kaya sepertiku" Kata Arga menyombongkan dirinya. Retha yang mendengar itupun memutar bola matanya malas. "Menyebalkan".
Arga terkekeh mendengar ucapan Retha. Dia mengusap air mata yang mengalir dipipi Retha.
"Jadi mulai sekarang kau hanya milikku". Ucapnya sambil mengecup tangan Retha kembali. Kini Arga baru menyadari bahwa selama ini Retha tidak memakai cincin pernikahan.
"Kemana cincin pernikahan mu re?"
"Ku jual." Arga pun terbelalak kaget mendengar ucapan Retha.
"Yang benar saja kau ini!" Ucapnya sedikit ada nada emosi disana.
"Ya ku jual karena dulu kau tidak memberiku uang untuk memenuhi kehidupanku ya sudah aku jual saja". Kata Retha dengan santainya.
Arga pun menunduk lesu dia menyadari begitu jahatny dia dulu pada istrinya. Retha yang melihat guratan kesedihan pada wajah Arga pun menjadi tidak tega. Dia menarik sebuah kalung yang ada dilehernya dan mengeluarkannya. Tampak sebuah kalung emas dengan bandul sebuah cincin.
"Lihatlah aku tidak menjualnya, aku berbohong tadi." Seketika Arga pun melihat ke arah Retha. Sekarang tampak guratan bahagia dari wajah Arga.
"Jadi selama ini kau selalu memakainya?"
"Ya aku selalu membawa dan memakainya walaupun tidak pada tempatnya".
Arga pun meraih kedua sisi wajah Retha memberinya banyak kecupan disana.
"Terimakasih, sini aku pakaikan."
Arga memakaikan cincin pernikahan di jari manis Retha lalu mengecupnya. Arga kembali memeluk Retha begitu erat. Mengecup puncak kepalanya berkali-kali.
"Jangan pergi dari sisiku!" Ucap Arga tepat didepan wajah Retha. Arga pun mencium bibir manis milik istrinya. Sungguh bibir ini akan membuatnya menjadi candu.
Retha yang mendapat serangan mendadak pun hanya diam. Dia kebingungan harus bagaimana pasalnya ini ciuman pertamanya.
Arga yang tidak mendapatkan respon pun akhirnya berdiri dan menggenggam tangan Retha.
__ADS_1
"Ayo pulang kita lanjutkan dirumah saja!"
Deg...