Istri Tuan Arga

Istri Tuan Arga
S2-episode 46


__ADS_3

Akhirnya malam pun tiba, dimana malam yang paling ditunggu-tunggu oleh keluarga Winata. Bahkan sepertinya hari ini bumi dan langit mendukung sepenuhnya. Buktinya langit begitu tampak cerah akan sinar rembulan yang menghiasi langit malam. Bukan hanya itu saja, bahkan ribuan bintang sudah bertengger di atas sana seakan menyaksikan perhelatan Akbar yang akan diselenggarakan.


Hari ini Orin memakai gaun malam berwarna navy senada dengan setelan jas yang Noel gunakan. Wajah cantiknya tidak perlu dipoles sedemikian tebal hanya cukup beberapa goresan bedak saja sudah menampakkan aura kecantikannya. Tak lupa dia juga menggunakan sebuah high heels berwarna silver tentu saja dari merk terkenal.


Selesai bersiap-siap dia pun menghampiri kakaknya yang sepertinya belum selesai bersiap-siap itu. Dia tidak mengerti biasanya para perempuan lah yang akan ribet jika harus pergi ke suatu tempat tapi ini malah sebaliknya. Sang kakak sejak tadi tak berhenti mengganggu dirinya dan mengatakan jika sebenarnya dia sedikit keberatan dengan acara ini.


Orin yang mendengar itu pun tampak mengerutkan keningnya tak mengerti. Biasanya kebanyakan dari mereka akan senang tapi kenapa kakaknya malah tak suka. Dia tahu setelah hari ini pasti semua yang dilakukan Noel harus mencerminkan siapa dirinya. Dan mungkin itulah penyebabnya Noel sedikit tidak suka.


"Kak sudah selesai belum?" Tanya Orin sambil mengetuk pintu kakaknya. Daddy dan mommynya sudah berangkat sejak tadi.


ceklek

__ADS_1


Pintu terbuka menampakkan sosok laki-laki dengan postur tubuh tinggi bak laksana dewa Yunani itu. Noel terlihat tampan. Tidak bukan tampan lebih tepatnya sangat tampan. Kadar ketampanannya berkali-kali lipat dari hari-hari biasa. Orin pun berdecak kagum, kakaknya hampir mendekati manusia yang sempurna. Wajahnya tampan, tubuhnya tegap dan tinggi. Dan satu lagi yang terpenting dompetnya juga tebal. Sekarang siapa yang tidak menginginkan kakaknya. Orin pun berfikir mulai hari ini dia harus melakukan pengawasan ekstra pada kakaknya.


"Udah, ayo berangkat! Daddy sama mommy udah nunggu kita!" Ajak Noel kemudian menggenggam tangan Orin menuruni anak tangga.


Ada perasaan gugup menyelimuti hatinya. Bukan demam panggung tapi dia tak yakin dengan kemampuannya. Katakan lah dia masih kurang percaya diri. Bagaimanapun juga usianya masih sangat muda, belum genap dua puluh tahun. Tapi tuntutan untuk dirinya sudah begitu banyak. Tetapi dia sangat bersyukur akan hal ini, Daddy dan mommynya bahkan seluruh keluarganya sudah mempercayai kemampuannya jadi dia juga harus percaya diri.


Mereka pun menuruni anak tangga dengan perlahan. Gaun Orin sedikit ketat. Ah bukan ketat lebih tepatnya pas membungkus tubuh wanita itu dengan apik.


Jika tidak mengenal mereka mungkin akan berpikir jika mereka adalah sepasang kekasih. Namun jika sudah mengenal mereka dengan baik, pasti sangat mengerti jika mereka adalah adik kakak yang selalu bertengkar setiap saat.


Sementara itu Orin mulai mengatur nafasnya yang sedikit sesak tapi sebisa mungkin gadis itu tidak memperlihatkan pada sang kakak. Dia tidak ingin malah membuat kakaknya terlalu khawatir padanya. Debaran jantung Orin serasa di pacu dengan kuat. Selalu seperti ini jika dia akan menghadiri sebuah pesta. Ada sebuah emosi yang membuatnya serasa ditikam oleh ribuan pisau. Begitu sesak dan menyayat hatinya. Orin mencoba untuk membuang pikiran-pikiran buruk itu darinya. Itu semua adalah masa lalu yang harus dilupakan. Ya. Tentu saja kali ini daddynya akan menjaga dirinya dengan baik.

__ADS_1


Tak lama kemudian mereka pun sampai di halaman sebuah hotel yang bisa dibilang mewah. Tentu saja mewah itu adalah salah satu hotel milik Haidar group hasil jerih payah daddynya. Mereka pun turun dari mobil tampak suasananya sudah ramai. Beberapa orang sudah banyak yang datang. Ada yang sendiri dan banyak juga yang membawa pasangnya. Tapi jika dilihat-lihat kembali mereka semua sudah seumuran dengan daddynya bahkan ada yang seusia opanya.


Mereka berjalan memasuki hotel tersebut menuju ballroom yang sudah disediakan. Karena refleks banyak orang Orin pun menggenggam erat lengan Noel yang sedang berjalan disampingnya. Noel pun menoleh ke arah adiknya, dilihatnya wajah adiknya yang sedikit pucat.


"Semuanya akan baik-baik saja." Hibur Noel melihat kegusaran di mata Orin. Orin pun hanya menganggukkan kepalanya. Semoga saja apa yang di ucapkan Noel akan berjalan semestinya.


"Sayang kalian sudah datang?" Sapa mommy Retha. Hari ini kecantikan mommy Retha berlipat-lipat ganda. Meskipun usianya sudah hampir setengah abad tapi kecantikannya seakan tidak akan pernah luntur.


"Sudah mom!" Kini mereka berdua mulai ikut bergabung dengan keluarganya menyapa beberapa orang yang datang.


"Orin?" Sapa seorang pria yang baru saja datang.

__ADS_1


"Alex?" Orin pun sedikit kesal, tidak di sekolah tidak dimana pun selalu bertemu dengan pria menyebalkan ini. Akhirnya dia hanya bisa tersenyum kecut. Orin tahu kenapa Alex datang kesini. Kakek Alex adalah teman opanya jadi tidak mungkin kan mereka tidak mengundangnya juga.


Didalam pesta yang meriah ini Orin tidak merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya. Orang yang diharapkan tak datang. Untuk apa datang? Tidak mungkin kan dia juga teman relasi kekurangannya. Tapi sedetik kemudian pandangan matanya bertemu dengan iris mata hitam legam pria didepannya itu. Pria itu. Ya pria dengan setelan jas berwarna merah maroon dengan kemeja hitamnya. Oh tidak malam ini kadar ketampanannya juga berlipat ganda.


__ADS_2