Istri Tuan Arga

Istri Tuan Arga
73


__ADS_3

Sebelum menjawab dokter Kenan melihat kearah Arga terlebih dahulu. Untuk memastikan apakah dia harus mengatakan yang sebenarnya atau berbohong?


Arga tampak menggelengkan kepalanya ketika dokter Kenan melihat kearahnya untuk mendapatkan jawaban. Itu berarti dia harus berbicara. Kemudian dokter Kenan menghembuskan nafasnya untuk menetralkan suaranya.


"Retha baik-baik saja Om Tante hanya ada benturan sedikit dikepalanya, anak yang ada dikandungnya juga baik-baik saja. Wah kalian beruntung mempunyai cucu yang kuat!"


"Anak?" Tanya orang disana bersamaan kecuali Arga yang sudah tidak terkejut dengan berita tersebut.


"Iya saat ini Retha sedang mengandung, apa kalian belum tahu itu?" Tanya dokter Kenan sambil melirik kearah Arga. Bukannya merasa bersalah karena tidak memberitahukan berita bahagia tersebut dia malah tersenyum begitu manis.


Serempak mereka menggelengkan kepala. Sedikit kemudian semua menoleh kearah Arga untuk mencari kebenaran tentang berita itu.


"Hehe... tadi aku sudah berencana untuk memberitahu setelah ini!" Ucap Arga tanpa dosa.


"Oh sayang terimakasih kau sudah menghadirkan kebahagiaan untuk kami semua!" Ungkap mama Rani dengan raut wajah penuh kebahagiaan.


"Selamat sayang sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ibu!" Kata Bu Mira penuh suka cita. Kemudian mereka pun mencium kening Retha yang masih terlelap.

__ADS_1


"Tapi kenapa Retha belum juga bangun Ken?" Kini suara berat papa Johan yang bertanya. Mereka harap-harap cemas agar Retha segera bangun. Terlebih lagi Arga dia takut-takut bagaimana jika Retha hilang ingatan, apa yang akan dia katakan pada keluarganya?


"Saat ini Retha masih terkena bius pasca operasi om pasti sebentar lagi dia akan terbangun!"


Setelah mengatakan itu, tak lama kemudian jemari Retha mulai bergerak. Dan perlahan dia membuka matanya, mengerjapkan beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya.


"Sayang!" Ucap Arga spontan dia pun berjalan mendekat kearah istrinya. Kini kecemasannya mulai bertambah, semoga saja Retha masih ingat dengannya.


Ditempat lain Ivanka tampak begitu marah karena orang suruhannya memberitahu jika Retha tidak meninggal dunia.


"Bedebah! bodoh! kalian memang bodoh tidak becus bekerja!" Teriak Ivanka kesal sembari membuang semua benda yang ada disekitarnya.


"Pergi kalian dari sini!" Bentak Ivanka pada dua orang suruhannya, lebih tepatnya adalah orang yang telah menabrak Retha dengan motor saat itu. Mereka pun keluar dari apartemen yang ditinggali Ivanka saat ini.


"Arrgghhh!" Teriaknya kesal. Kini untuk sementara waktu dia harus berdiam diri terlebih dahulu untuk menghapus semua jejak dirinya.


"Brengsek!!! kenapa masih hidup juga sih!"

__ADS_1


Tak lama ponselnya pun berbunyi, dilihatnya nama siapa yang memanggilnya saat ini


mama calling....


Dengan malas Ivanka pun mengangkat telepon dari mamanya itu.


"Ada apa?" Tanya Ivanka dengan dingin.


"Kamu dimana, mama datang ke apartemen kamu ternyata apartemen kamu sudah dijual?"


"Mama mau apa?" Tanya Ivanka sekali lagi, sebetulnya dia tahu persis apa yang diinginkan oleh mamanya itu, apalagi selain uang. Dirinya? mamanya mana mungkin memperdulikan keadaannya.


"Ah ternyata anak mama peka sekali ya, begini besok mama harus datang ke arisan teman mama dan tas mama udah ketinggalan zaman jadi mama mau minta uang buat beli tas baru, nggak banyak kok seratus juta aja!"


"Aku udah nggak punya uang lagi ma, mama minta sama suami mama tersayang itu saja!" Sarkasnya lalu mematikan ponselnya dan membuangnya begitu saja. Dia lupa jika masih menggunakan ponsel lama bisa-bisa Arga akan mengetahui keberadaannya.


Dan untuk uang saat ini Ivanka memang harus menghematnya. Dia menjual apartemen di Jakarta lalu uangnya untuk membeli apartemen yang ada di Berlin tersebut. Itu saja masih kurang hingga dia harus menjual beberapa perhiasannya. Biaya hidup di Berlin akan lebih mahal daripada di Jakarta. Dan untuk teman-teman kencannya dia meninggalkan begitu saja, dia tidak memperdulikan itu.

__ADS_1


Mungkin anggap saja saat ini Ivanka gila, gila karena mencintai suami orang. Dulu dia hanya menganggap Arga hanya ATM berjalanya. Namun lambat laun ternyata hatinya jatuh pada pesona Arga. Hingga membuatnya seperti orang gila seperti ini.


__ADS_2