Istri Tuan Arga

Istri Tuan Arga
S2-episode 24


__ADS_3

Hari ini adalah hari yang paling ditunggu-tunggu oleh Orin. Nanti sepulang sekolah dia akan mendapatkan jam tambahan tentu saja dari Marcel. Awalnya dia kira jam tambahan tersebut akan membuatnya kesal tapi ternyata sebaliknya dia sendiri malah menunggu hari itu akan tiba.


Semalam mereka sudah sepakat untuk bertemu di salah satu kafe milik Marcel. Tentu saja itu membuat kekaguman Orin pada Marcel kian bertambah selain guru ternyata Marcel merupakan seorang pengusaha meskipun hanya usaha kafe.


Orin berangkat ke sekolah dengan perasaan gembira. Sepanjang perjalanan dia bersenandung lagu-lagu kesukaannya. Mungkin seperti itulah rasanya orang jatuh cinta mereka tidak tau tempat bahkan waktu untuk sekedar merasakan rindu.


Hari ini di sekolah Orin mengikuti pelajaran dengan tenang tidak seperti biasanya sedikit-sedikit mengeluh lelah dan ngantuk. Entah sadar atau tidak sedikit banyak Orin sudah berubah. Dia memang tidak suka diatur tapi dia juga tidak memberontaknya.


Bel berbunyi tanda jam pelajaran terakhir sudah selesai. Dengan sigap Orin membereskan buku serta peralatan menulisnya, dia masukkan ke dalam tas.


"Buru-buru banget Rin, lu mau kemana?" Tanya Aneta sembari membersihkan peralatan menulisnya juga.


"Nggak mau kemana-mana. Ya udah gue duluan ya! Bye!" Ucap Orin meninggalkan Aneta yang masih bingung dengan sikap sahabatnya itu.


"Ck, gue bodoh banget sih ini kan jadwal Orin jam tambahan sama pak Marcel pasti aja tuh pohon jagung seneng banget!" Gumam Aneta pada dirinya sendiri.


Di parkiran Orin tampak mengamati sekitarnya, kemarin malam mereka sudah janjian berangkat bersama menggunakan mobil Orin karena mobil Marcel sedang diperbaiki padahal itu hanya alasan Marcel saja agar mereka berangkat bersama, toh Marcel juga masih ada motor untuk dikendarai.


Saat Orin sedang sibuk memainkan ponselnya, tiba-tiba saja jendela mobilnya diketuk oleh seseorang saat menengok ternyata itu adalah Marcel.


"Silahkan masuk pak!" Ucap Orin. Marcel pun masuk ke mobil Orin dan duduk dibelakang kemudi.


"Bisa jalan sekarang?"


"Ah iya pak silahkan!"


deg deg deg...

__ADS_1


Suara detak jantung Orin bertalu-talu bersama dengan jalannya mobil yang mereka tumpangi.


"Duh gimana sih nih! Kenapa jantung gue detaknya kenceng amat sih ntar kalo Pak Marcel denger kan gue tengsin! Astaga gue gerogi parah!" Batin Orin sambil sesekali melirik laki-laki yang sedang duduk satu mobil bersamanya itu.


Tanpa mereka sadari sejak tadi ada sepasang mata yang mengamati mereka dengan tajam. Menilik setiap gerak-gerik yang mereka timbulkan.


Tak lama kemudian mobil mereka pun sampai di parkiran sebuah kafe yang tidak terlalu ramai. Jika dilihat kembali kafe tersebut cukup menarik dan instagrameble sekali untuk kamu milenial seperti Orin. Tempatnya pun terdapat dua lantai dengan konsep yang berbeda tentu saja.


"Yuk masuk!" Ajak Marcel memecahkan lamunan Orin. Orin pun berjalan mengikuti kemana Marcel pergi.


Sampai didalam kafe Orin benar-benar dibuat kagum oleh konsep serta furniture yang mereka pakai. Menurutnya ini semua sesuai dengan seleranya. Dan ternyata Marcel membawanya ke lantai dua. Tempatnya memang tidak terlalu luas tapi mampu membuat siapapun yang datang akan merasa nyaman.


"Selamat datang pak Ang... Marcel?" Sapa salah satu pegawai tersebut. Orin pun sedikit mengerutkan kedua alisnya. Ditatapnya sang pegawai yang sedikit gugup itu. Sebentar tadi pegawai tersebut memanggil pak Marcel dengan pak Ang? Apa maksudnya? Batin Orin yang tidak mengerti.


Sementara Marcel menelan salativanya dengan susah payah. Hampir saja pegawainya membongkar kedok dirinya. Padahal tadi malam dia sudah membrifing semua pegawainya tapi namanya manusia mereka tak luput dari salah dan lupa.


"Ya, tolong bawakan saya minuman dan camilan!" Perintahnya pada pegawai laki-laki tersebut. Kemudian mereka berdua pun duduk di salah satu meja dan kursi yang sudah disediakan di kafe tersebut.


"Apa kau menyukainya?"


"Tentu saja pak, sejak lama saya ingin membuka kafe impian saya seperti ini tapi Daddy melarang. Daddy bilang saya belum mampu mengurus sebuah kafe!"


"Syukurlah kalau kamu suka!" Jawabnya tanpa pikir panjang dimana membuat Orin tampak tak mengerti.


"Maksud bapak?"


"Ah begini maksud saya jika kita belajar ditempat yang membuat kita nyaman maka apa yang kita pelajari akan diserap otak kita dengan mudah." Kilahnya padahal dia sendiri hampir keceplosan. Apakah seperti ini rasanya didekat orang yang dicintai? Gugup.

__ADS_1


"Baiklah sambil menunggu minumannya, saya sudah siapkan kisi-kisi dan beberapa soal yang kemungkinan akan masuk di Ujian Nasional. Kamu bisa kerjakan sebisa kamu dulu!" Ucap Marcel sambil menyerahkan setumpuk kertas dari dalam tas yang dia bawa.


Orin tampak masih membolak-balikkan kertas tersebut, lembar jawaban yang disiapkan pun masih putih bersih. Dalam hatinya Marcel benar-benar gemas dengan Orin, apalagi sekarang wajah itu tampak kebingungan.


"Kenapa belum dijawab Rin?"


"Saya tidak mengerti pak, kenapa bisa huruf dengan angka dijumlahkan? Saya benar-benar pusing." Jawabnya jujur.


Kemudian Marcel pun mulai menjelaskan dari awal lagi. Orin tampak memperhatikan Marcel dengan seriusnya. Ya Orin memperhatikan Marcel bukan penjelasan yang Marcel berikan. Bahkan terkadang Orin hingga tersenyum sendiri saat melihat wajah tampan Marcel.


"Ya Tuhan keren banget sih pak Marcel! Andai aja dia juga punya rasa sama kayak gue. Pasti gue bahagia banget deh jadi wanita paling beruntung di dunia ini. Gue cabut deh kata-kata gue dulu yang bilang kalo pak Marcel tuh cuek dan dingin, karena sekarang gue malah jatuh cinta sama dia!" Batin Orin.


"Tapi mungkin nggak ya dia juga suka sama gue? Gue masih ingusan gini jauhlah sama temen-temennya yang pastinya orang-orang sukses itu. Semoga aja dia nggak punya pacar dan gue bisa gebet nih guru yang bikin gue merinding disko kalo lagi deket-deket gini!"


Marcel sudah selesai menjelaskan namun Orin masih sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Bagaimana Orin apa kamu mengerti?" Tanya Marcel memecahkan lamunan serta khayalan Orin.


"Ah ya pak saya tahu!" Jawabnya kikuk padahal dia masih belum mengerti tapi dia berusaha untuk menutupinya. Gengsi kan kalau udah dijelaskan berkali-kali tapi masih belum ngerti juga?


"Pak saya mau izin ke toilet sebentar!" Pamitnya kemudian berlalu meninggalkan Marcel dan kertas-kertas yang berserakan memenuhi meja tersebut.


Saat Orin pergi ke toilet, pegawai yang tadi menyapa pun kembali dengan membawa dua buah minuman dingin serta beberapa camilan.


"Silahkan pak!"


"Ya, untung saja tadi kamu belum kelepasan bicara!"

__ADS_1


"Iya pak maaf saya belum terbiasa dengan panggilan tersebut."


Pegawai tersebut pun kembali dan tak lama kemudian Orin juga kembali dari toilet. Mereka pun kembali menjadi seperti seorang guru dan murid namun ada yang berbeda jika pertemuan sebelum-sebelumnya mereka tampak kaku tapi sekarang suasana disekitar mereka sudah tampak cair.


__ADS_2