Istri Tuan Arga

Istri Tuan Arga
S2-episode 17


__ADS_3

Orin terbangun ketika matahari sudah berada di atas kepalanya. Dengan perlahan dia menyibakkan selimut tebal yang membelit tubuhnya. Setelah dirasa nyawanya sudah cukup terkumpul, dia pun melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk sekedar mencuci muka dan menggosok gigi.


Setelah selesai dia segera turun ke bawah untuk makan siang sebab sejak tadi cacing-cacing di perutnya sudah demo untuk diberi makan. Dengan masih memakai piyama tidur berwarna biru lautnya, Orin menuruni setiap anak tangga di rumahnya.


"Siang dad mom?" Sapa Orin ketika melihat kedua orang tuanya keluar dari ruang gym yang ada di rumahnya. Orin sendiri tak habis pikir dengan kedua orangtuanya itu meskipun usia mereka bukan belasan lagi tapi keromantisan mereka lebih dari anak SMA.


"Siang sayang, makan siang dulu dari pagi kamu belum makan kan?" Tanya sang ibu, sedari tadi pagi mommy Retha sudah bolak-balik naik turun tangga untuk membangunkan Orin tapi nampaknya anak gadisnya itu masih enggan dan hanya ber-iya tapi tetap melanjutkan tidurnya.


"Iya mom." Jawabnya kemudian melenggang menuju meja makan. Disana sudah tampak beberapa jenis makanan yang tersedia dan sepertinya kesukaannya semua. Tak lama kemudian mommy Retha pun menyusul Orin untuk menemani putri kesayangannya itu makan siang.


Mommy Retha tidak menyangka ternyata putrinya tumbuh secepat itu. Padahal baru kemarin rasanya dia menggendong Orin dan sekarang Orin sudah menjadi gadis cantik meskipun dirinya tidak terlalu tinggi.


"Tadi Aneta kirim whatsapp ke mommy, katanya suruh dandanin kamu. Emang kalian mau kemana sih?" Tanya mommy Retha yang penasaran sebab dia sangat tahu jika putrinya itu lebih suka di rumah dan tiduran.


"Jangan dengerin ucapan Aneta mom, nanti Orin mau ke acara ulang tahun sekolah mom!"


"Kamu yakin akan datang?" Tanya mommy Retha meyakinkan keputusan putrinya itu.


"Yakin ma, lagipula ini juga yang terakhir." Jawab Orin sambil memasukkan paha ayam kecap kesukaannya.


Sebenarnya ada sedikit rasa khawatir saat Orin meminta izin pergi ke sebuah pesta terlepas dari jenis pesta apapun itu. Ingatannya akan masa lalu seolah-olah memutar begitu saja. Rasa khawatir dan takut kehilangan menyeruak begitu saja memenuhi rongga dada mommy Retha.


Setelah selesai makan Orin berpamitan untuk kembali ke kamarnya dan mandi. Selesai mandi dia pun mengambil ponselnya memeriksa apa ada hal penting namun nyatanya tidak ada hanya notif pesan dari grup serta Aneta lah yang memenuhi layar ponselnya.


Orin pun mulai membaca satu persatu pesan yang dikirimkan oleh Aneta. Orin hanya menggelengkan kepalanya ketika membaca seluruh pesan dari Aneta yang isinya hanya agar Orin tampil maksimal malam ini. Padahal Orin sendiri masih ragu apakah dia akan siap berada di kerumunan banyak orang.


Karena merasa bosan akhirnya Orin pun keluar kamar dan menuju perpustakaan keluarga yang ada di lantai dua lebih tepatnya di ujung lorong. Sudah lama Orin tidak mengunjungi tempat ini padahal perpustakaan tersebut masih dalam lingkup rumahnya. Perlahan Orin membuka kunci yang sejak dari kapan menggantung di tempat tersebut. Kemudian Orin pun melangkahkan kakinya agar masuk lebih dalam dari ruangan itu.


Sebetulnya perpustakaan itu adalah salah satu permintaan dari kakaknya yaitu Noel ketika dia berulang tahun. Orin sendiri tidak mengerti ketika anak-anak yang lain ingin diberi hadiah berupa kemewahan yang dapat dipamerkan justru Noel malah lebih memilih dibuatkan perpustakaan di rumah.

__ADS_1


Setelah melihat-lihat beberapa judul buku akhirnya Orin tertarik dengan satu novel yang bergenre romantis. Sebelumnya dia belum pernah membaca novel tersebut karena sepertinya novel itu memang baru rilis dan sang ibulah yang sekarang memenuhi buku-buku di perpustakaan keluarga tersebut setelah Noel tidak tinggal di rumah itu lagi.


Orin tersenyum sendiri membaca beberapa lembar halaman yang ada pada novel itu. Menurutnya isi novel tersebut sangat menggelitik hatinya bagaimana tidak di novel tersebut menceritakan tentang seorang siswi yang jatuh cinta dengan gurunya sendiri. Membaca novel tersebut mengingatkan Orin akan sosok gurunya yang beberapa hari ini memenuhi pikirannya. Untuk menghilangkan pikiran tersebut akhirnya Orin pun memutuskan kembali ke kamarnya dan mengembalikan novel tersebut dan tidak berniat untuk melanjutkannya.


Diliriknya jam kecil yang berada di atas nakas, waktu masih menunjukkan pukul tiga. Masih banyak waktu untuk dirinya bersiap-siap dan meyakinkan dirinya sendiri untuk datang.


Saat hendak melihat gaun yang akan dipakai untuk nanti malam, tiba-tiba saja ponselnya berbunyi. Terpampang jelas nama Aneta muncul dilayar ponsel tersebut. Dengan malas Orin pun mengangkat panggilan tersebut sebelum Aneta mengutuknya menjadi batu karena terlalu mengabaikannya.


"Hallo Rin? Lu beneran dateng kan?"


"Iya tenang aja gue dateng kok tadi juga udah izin ke mommy."


"Ya udah deh kalau gitu gue mau lanjut nyalon dulu, bye Oreo!"


"Heee kutu, dasar enak saja ganti nama orang sembarang!" Kesal Orin dan hanya dibalas kekehan oleh orang diseberang sana.


Satu jam berlalu dirasa cukup untuk waktu berendam dan sekarang tangannya saja sudah keriput. Orin pun keluar dari kamar mandi menggunakan handuk kimononya. Setelah itu dia terlebih dahulu mengeringkan rambutnya. Saat sedang asyik mengeringkan rambutnya tiba-tiba saja dia mendengar seseorang mengetuk pintu.


tok...tok...


"Orin ini mommy, boleh masuk sayang?"


"Masuk aja ma, Orin nggak kunci kok pintunya." Jawab Orin dari dalam.


Weekend seperti ini lah hari yang paling disukai oleh Orin sebab kedua orang tuanya akan berada di rumah sepanjang hari dan dia tidak merasakan kesepian. Mengingat tentang kesepian dia jadi teringat beberapa tahun lalu dia merajuk karena kesepian dirumah dan saat itu juga dia ingin mempunyai adik. Daddy Arga dan mommy Retha yang melihat kelakuan putrinya itu hanya menggelengkan kepalanya. Mana mungkin membuat adik hanya dalam hitungan jam saja?


"Mau mommy bantu?" Tawar mommy Retha saat dia sudah masuk ke dalam kamar bernuansa warna biru muda itu.


"Boleh mom. Tumben mommy dibiarin berkeliaran sama daddy! Emang Daddy kemana mom?"

__ADS_1


"Daddy mu sedang ada pekerjaan tadi mommy lihat dia sedang ada rapat online atau apalah mommy juga tidak mengerti." Jawabnya yang kemudian hanya dibalas anggukan kepala oleh Orin. Orin sangat tahu betul jika daddynya itu sangat bergantung dengan mommynya. Terkadang Orin tidak habis pikir bagaimana jika tidak ada mommynya? Akankah daddynya bisa melanjutkan hidup?


"Anak mommy udah gede banget sih sekarang mana cantik banget lagi!" Puji mommy Retha pada Orin yang mulai mengaplikasikan make up di wajahnya itu. Meskipun Orin sedikit tomboy, jika hanya tentang make up dasar dia juga tahu jadi tidak perlu bantuan orang lain.


"Iya dong mom, eh iya mom kemarin kak Jerry bilang katanya mau kesini, emang kapan mom?" Tanya Orin teringat akan ucapan Jerry beberapa waktu lalu.


"Mommy juga kurang tahu sih Rin, tapi kayanya nunggu dia lulus kuliahnya dulu deh!"


"Dasar tuh ya mom kak Jerry, masa iya sih kak Noel aja udah hampir wisuda S1 padahal usianya nggak jauh beda sama aku sedangkan kak Jerry usianya yang lima tahun lebih tua masih belum lulus lulus juga!" Heran Orin pada saudara sepupu yang paling dekat dengannya itu.


"Orang Jerry nggak pernah serius kuliahnya kok!"


****


Saat ini Orin sudah berada di dalam mobil yang sebentar lagi meninggalkan garasi rumahnya. Hari ini dia minta mang Asep yang mengantarkannya, selain karena malas macet juga karena mobilnya masih di apartemen Aneta.


Orin tampak anggun dengan memakai dress warna hijau muda yang kontras dengan kulitnya yang putih serta sepatu berhak kira-kira lima centimeter itu.


Perlahan mobil tersebut meninggalkan rumah berlantai dua dengan dominasi cat berwarna putih dan krem itu. Mobil melaju dengan kecepatan sedang tidak terlalu cepat ataupun lambat.


Setelah melewati perjalanan yang cukup membosankan akhirnya Orin pun sampai di sekolahnya. Tampak suasana sudah riuh serta ramai. Sebelum turun dari mobil Orin mengambil nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan.


Orin baru tahu seperti ini lah suasana pesta ulang tahun sekolahnya karena ini pertama kalinya dia ikut berpartisipasi. Tampak beberapa siswa serta siswi sudah berlalu lalang masuk.


Menurutnya ini sangatlah ramai mengingat panitia penyelenggara mengundang beberapa pemusik terkenal di tanah air. Tidak heran jika mereka mengundang artis maupun sejenisnya sebab sekolah Orin merupakan sekolah paling elit di ibukota.


Setelah masuk ke dalam inti dari tempat tersebut, Orin pun menjadi pusat perhatian banyak siswa maupun siswi. Bukan hanya karena dia tidak pernah ikut melainkan karena penampilannya yang mereka rasa sangat pas untuk Orin.


Orin pun mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok sahabatnya yang katanya sudah tiba itu. Tapi bukannya Aneta yang dia lihat melainkan pemandangan panas yang lagi-lagi membakar mata serta hatinya.

__ADS_1


__ADS_2