Istri Tuan Arga

Istri Tuan Arga
S2-episode 74


__ADS_3

Mobil Marcel memasuki kota Jakarta ketika matahari benar-benar sudah tenggelam. Dia hanya berharap-harap cemas semoga mommy Retha tidak memarahinya sebab dia lupa untuk memberi kabar. Dan saat ingin memberi kabar ternyata baterai ponselnya habis dan belum sempat men-charge.


Setelah melewati perjalanan cukup panjang, mobil yang Marcel tumpangi pun sampai di halaman rumah mewah. Sebelum keluar dari mobil, Marcel terlebih dahulu melirik Orin yang ternyata sudah terlelap. Ya Tuhan sedang tidur saja dia begitu cantik. Batin Marcel sambil tersenyum memandang Orin.


Saat keluar dari mobilnya, Marcel membulatkan matanya melihat mommy Retha berada di tengah-tengah pintu sembari berkacak pinggang dan jangan lupakan wajah garangnya itu. Marcel sempat bergidik ngeri melihat calon mommy mertuanya itu.


"Malam mom!" Sapa Marcel menghampiri mommy Retha yang masih menampilkan wajah garangnya itu. Awalnya dia ingin langsung membawa Orin ke kamarnya tapi melihat mommy Retha yang seperti ingin menelannya bulat-bulat dia mengurungkan niatnya. Lebih baik dia menghampiri mommy Retha terlebih dahulu lalu menjelaskan apa yang terjadi.


"Bagus, masih ingat pulang ya ternyata kalian berdua?" Tanyanya kini beliau melipat kedua tangannya di depan dada.


"Maaf mom!" Ucap Marcel menundukkan kepalanya pasrah mommy akan melakukan apapun padanya.


"Kalian tahu bagaimana khawatirnya mommy nunggu kalian nggak pulang-pulang! Mana ponsel pada nggak bisa dihubungi. Buang saja ponsel kalian!" Marcel masih menundukkan kepalanya, dia benar-benar merasa bersalah membawa anak gadis orang tanpa izin. Dia hanya mampu menghembuskan nafasnya pasrah, tadi dirinya hanya mengatakan pada Daddy Arga jika sedang bersama Orin tapi tidak mengatakan kemana mereka akan pergi.


"Maaf mom, kami tidak akan mengulanginya lagi!" Jawabnya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Mommy Retha sedikit melirik kearah mobil yang tadi Marcel tumpangi dan melihat Orin sedang tidur disana.


"Darimana saja kalian? Kenapa tidak pamit sama Daddy atau mommy? Kalian sudah tidak menganggap orang tua ini ya!" Marcel yang mendengar itupun tersentak kaget. Dia sangat mengerti pasti mommy Retha sangat menghawatirkan mereka apalagi kondisi Orin yang gampang berubah.


"Ah...bukan begitu mom!" Kata Marcel gugup kini dia sudah mengatupkan kedua tangannya meminta ampunan pada mommy Retha.


"Kalian ini benar-benar membuat mommy jantungan saja!" Kesalnya kemudian menjewer telinga Marcel. Dan Marcel hanya mampu menahan rasa sakitnya. Ternyata perempuan kalau marah benar-benar menyeramkan.


"Udah sampai rumah ya?" Tanya Orin tanpa dosa sembari merapikan rambutnya yang kusut. Marcel hanya membulatkan matanya, dasar Orin tidak peka dengan suasana! Batinnya.

__ADS_1


"Malam mom?" Sapanya kemudian hendak mencium pipi mommynya namun sebelum itu terjadi telinganya lebih dulu ditarik oleh ibunya. Orin pun meringis, tadi kesadarannya belum benar-benar pulih namun kini kesadarannya sudah terkumpul semua. Sementara itu Marcel menggosok-gosokkan telinganya yang kebas.


"Bagus, sudah membuat mommy khawatir kamu ya?"


"Aww aww sakit mom!"


"Sebenarnya darimana saja kalian berdua kenapa jam segini baru pulang?" Cercanya pada kedua orang didepannya itu. Marcel hanya menunduk takut, dia juga tidak bisa membayangkan jika Orin marah apakah akan seperti ini.


"Sakit mom!" Keluhnya sambil mengerucutkan bibirnya. Orin tetaplah Orin si keras kepala yang maunya menang sendiri.


"Tadi jalan-jalan dadakan mom, kasihan Orin sebentar lagi kan ujian!" Ya. Marcel sekarang sudah akrab dengan keluarga Orin dan itu adalah permintaan Orin sendiri. Orin ingin kedua orangtuanya menganggap Marcel sebagai putra mereka sendiri tanpa tahu siapa Marcel yang sebenarnya. Orin melakukan itu semata-mata karena kasihan pada Marcel yang hanya tinggal sendiri dan ditinggalkan oleh orangtuanya yang Orin tahu.


"Apa dengan tidak memberikan kabar pada mommy? Apakah hal itu benar?" Mereka berdua kompak menggelengkan kepalanya. Jika ibu suri sudah marah mereka hanya diam tidak berani mengeluarkan sepatah katapun.


"Apa Daddy tahu mereka mengadakan liburan dadakan dan tidak memberitahu pada mommy dan itu membuat mommy khawatir!"


Daddy Arga menggelengkan kepalanya, dia sedikit lupa jika tadi Marcel memberitahunya jika mereka sedang pergi keluar. Tapi karena Daddy juga tidak ingin terkena amarah istrinya, jadilah dia mengatakan hal tersebut.


"Hey dad...!" Belum sempat Marcel melanjutkan ucapannya Daddy Arga lebih dulu memotong ucapannya.


"Sepertinya mereka menginginkan hukuman mom!" Kata Daddy Arga membuat Orin mendelik kesal, bagaimana bisa daddynya malah mengompori sang mommy.


"Ya besok pasti kalian akan mendapatkan hukumannya! Sekarang Marcel bisa pulang, kalian butuh istirahat!" Benarkan, segalak-galaknya mommy Retha dia masih juga mempunyai sisi lembut.

__ADS_1


"Baiklah, selamat malam!" Pamitnya kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan orang-orang disana.


"Huft punya calon ibu mertua galak banget!" Batinnya.


Sementara itu ditempat lain seorang pemuda tengah menikmati pemandangan kota dari tempatnya berdiri. Sudah berbatang-batang rokok yang dia hisap namun masih belum menjernihkan pikirannya. Bayang-bayang wajah sedih itu terus menghantuinya, dia tidak tahu harus berbuat apa karena dia yakin dia tidak melakukan hal yang gadis itu tuduhkan.


Huft. Dia memijit pelipisnya yang berdenyut. Semuanya terjadi begitu cepat, membuat kepalanya pusing.


"Padahal gue nggak pernah kasih foto ini kesiapapun dan gue cuma simpen ini di ponsel, tapi kenapa tiba-tiba ada foto ini!" Ucap Alex sambil memperhatikan foto-foto yang tadi Orin lempar padanya. Laki-laki tersebut memandang satu persatu foto itu dan membandingkan yang ada di ponselnya.


"Kok bisa sama persis gini sih!"


Dia menerawang beberapa hari belakangan ini, rasanya dia tidak pernah bertemu dengan siapapun kecuali teman satu gangnya. Dan juga dia tidak berkumpul dengan teman-temannya yang lain. Atau jangan-jangan saat dia sedang mabuk lalu memberikan foto-foto ini pada temannya. Tapi tidak mungkin dia adalah laki-laki kuat minum dan lagipula dia selalu ingat apa yang dia lakukan meskipun setengah sadar karena mabuk.


"Kayaknya beberapa hari kebelakang gue jarang kumpul deh! Waktu gue banyak gue habisin buat bareng sama Orin!"


"Bahkan Minggu ini gue nggak ada keluar apartemen buat ketemu temen-temen yang ada mereka nyamperin gue kesini!" Gumamnya pada dirinya sendiri. Dia tidak mau Orin membencinya, apalagi membencinya karena perbuatan yang jelas-jelas bukan karenanya. Dia bukan pengecut yang menjatuhkan orang lain dengan memperlakukan orang itu.


"Gue nggak pernah kasih pinjem hp gue kecuali sama anak-anak!"


"Arrgghh pusing banget gue!" Kesalnya sambil menendang apapun yang ada didepannya.


"Atau jangan-jangan salah satu dari anak-anak yang khianati gue! Tapi mana mungkin gue udah kenal mereka lama banget dan gue juga tahu gimana sifat mereka masing-masing!"

__ADS_1


__ADS_2