Istri Tuan Arga

Istri Tuan Arga
71


__ADS_3

"Bagaimana kondisi Retha?" Tanya Arga begitu dokter Kenan sudah berada.


"Tenanglah dulu kawan, sebentar lagi dia akan dipindahkan ke ruang perawatan. Bisa kau ikut denganku sekarang?"


Arga tampak menoleh ke ruang operasi dimana Retha berada dia merasa enggan untuk meninggalkan Retha. Tapi dokter Kenan mengetahui apa yang ada dipikiran temannya itu.


"Dia akan baik-baik saja, jangan khawatir ikutlah denganku dulu jika kau ingin mengetahui kondisi Retha yang sebenarnya!"


"Baiklah." Arga akhirnya mengikuti kemana dokter Kenan membawanya pergi.


Setelah melewati lorong rumah sakit yang cukup panjang akhirnya mereka tiba didepan sebuah ruangan yang bertuliskan Dokter Bedah Saraf dan nama dokter Kenan terpampang jelas disana.


"Minumlah!" Dokter Kenan pun menyerahkan sebuah botol air mineral pada Arga yang sudah duduk di sofa ruangan itu.


"Terimakasih!" Ucapnya memang dia merasakan tenggorokannya kering tapi dia tidak bisa meninggalkan Retha begitu saja.


"Santai saja, jadi apa kau suami Retha?"


Arga hanya menganggukkan kepalanya. Tapi ada rasa penasaran yang menggelayuti hati Arga. Bagaimana Kenan bisa tahu jika tadi adalah Retha.


"Bagaimana jika kau tahu jika itu Retha?" Tanya Arga penuh selidik.


"Dia adalah pasien pertamaku sejak aku menyandang sebagai dokter bedah saraf."


Pasien pertama? Sejak dia menjadi dokter saraf? Bukankah itu sudah lama, jadi mereka sudah kenal sejak lama.

__ADS_1


"Jadi kau mengenal Retha sudah lama?"


"Iya begitu lah, kala itu aku baru menyelesaikan pendidikanku dan aku memutuskan untuk mengabdi pada rumah sakit ini. Dan saat itulah Retha datang untuk berkonsultasi padaku."


"Konsultasi apa?" Tanya Arga semakin penasaran sepertinya dia memang belum mengenal Retha dengan baik.


"Penyakit Retha, jangan bilang kau tidak tahu?"


Arga menggelengkan kepalanya, dia memang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Retha.


"Wajar kalian baru menikah dan Retha bukan tipe orang yang dengan mudah bercerita pada orang lain sekalipun itu orang terdekatnya."


Arga tampak tak suka dengan Kenan, pikirnya seberapa dekat mereka sebenarnya hingga Kenan mengetahui apa-apa tentang Retha sedangkan dia seperti buta akan keadaan Retha.


"Retha mengalami penggumpalan darah di otaknya pasca kecelakaan diwaktu dia kecil. Karena sudah lama hingga gumpalan itu menyebabkan tumor pada otaknya. Untungnya tumor itu masih kecil hingga tidak sulit untuk melakukan operasi."


Tampak Arga membelalakkan matanya terkejut, bagaimana bisa Retha menyembunyikan hal sebesar itu darinya.


"Jangan khawatir sekarang dia sudah sembuh hanya saja efek dari itu semua dia akan mengalami penurunan daya ingat. Itulah yang menyebabkan dia enggan untuk melakukan operasi. Dia lebih memilih menahan rasa sakit yang setiap waktu menggerogoti otaknya daripada harus melupakan orang-orang yang dia sayangi." Imbuhnya lagi.


"Terimakasih sudah menyelamatkan Retha!"


"Itu sudah menjadi tugasku sebagai dokter, lagipula aku juga sudah menganggapnya sebagai adikku sendiri setelah tahu dia sudah menikah. Jangan menganggap bahwa dia tidak mencintaimu karena dia tidak memberitahu tentang penyakitnya hanya saja dia tidak mau membuatmu merasa khawatir."


"Aku sangat berterimakasih, aku sudah berhutang nyawa padamu."

__ADS_1


"Tentu saja, mulai sekarang bahagiakan Retha dan anaknya apapun yang akan terjadi nanti kau harus siap untuk itu anggap saja itu hukuman untukmu agar menjadi suami yang lebih baik lagi."


"Anak?" Tanya Arga tidak paham apa yang dibicarakan oleh Kenan.


"Kau tidak tahu jika Retha hamil?"


"Tidak."


"Iya Retha hamil dua bulan, aku berjumpa dengannya setelah dia memeriksa kandungnya. Aku melihat rona bahagia begitu terpancar dari wajahnya jadi aku tidak tega mengatakan jika kehamilannya mungkin akan membahayakan nyawanya. Tapi untung saja anak kalian masih kuat didalam sana."


Sekarang juga tampak wajah Arga lebih bahagia, kehadiran buah hati yang sangat dia tunggu-tunggu.


"Terimakasih sudah memberitahu banyak tentang Retha padaku. Dan aku tidak menyangka jika pria kaku yang dulu duduk di sebelahku bisa menjadi seorang dokter yang ramah?" Ucap Arga mulai mencairkan suasana yang tadi tampak begitu menegangkan dan juga formal.


Kenan hanya mencebik kesal, pasalnya ucapan Arga tadi hanya menyindir dirinya. Arga tahu betul jika Kenan tidak berminat untuk menjadi dokter tapi atas paksaan kedua orang tuanya dia pun menurut saja.


"Kau tetap saja menindasku!" Geurutu Kenan.


Arga pun tertawa terbahak-bahak, baru hari ini dia bisa bernafas lega meskipun belum sepenuhnya karena kemungkinan yang akan terjadi setelah Retha bangun.


"Sudah malam sebaiknya kau beristirahat dokter Kenan aku juga akan kembali untuk menemani istriku!" Kata Arga kemudian berdiri dan menjabat tangan Kenan.


"Sana jaga istrimu yang cantik itu kalau tidak ingin ada buaya darat yang mengambil!"


Kemudian Arga pun berlalu meninggalkan ruangan Kenan untuk kembali dimana Retha sedang dirawat di sana.

__ADS_1


__ADS_2