
"Apa kalian sudah menikah?" Tanya Retha kembali dia sungguh penasaran dengan kehidupan para pengawal tersebut.
"Saya sudah nyonya muda, kalau Melly belum." Jawab Anna yang lebih banyak bicara daripada Melly.
"Lalu dimana suamimu?"
"Dia bekerja dirumah tuan besar nyonya muda." Jawab Anna lagi.
"Apa kamu sudah memiliki anak?"
"Sudah nyonya, anak saya masih kecil berusia tiga tahun. Jika saya bekerja, saya akan menitipkan pada pengasuhnya."
Setelah percakapan tadi hanya keheningan yang ada didalam mobil tersebut. Retha memilih diam saja karena mereka terlalu kaku jika untuk diajak mengobrol. Apa yang mereka ucapkan sudah seperti tertulis didalam teks saja. Pikir Retha.
Tak lama kemudian mobil yang mereka tumpangi sampai ditujuan. Dengan sigap Anna membuka pintu untuk Retha. Kemudian disusul para pengawal berbaris menuju pintu masuk.
Retha mengernyit tidak suka, dia hanya membeli oleh-oleh bukan melakukan hal-hal aneh mengapa mereka harus ikut masuk kedalam dan juga didalam mana mungkin ada orang jahat.
"Bim?" Panggil Retha pada pimpinan pengawal yang bernama Bima itu.
Bima pun berjalan menghampiri Retha yang sedari tadi masih berdiri disamping mobil.
"Ada yang bisa saya bantu nyonya muda?" Tanya Bima dengan sopan.
"Kalian tunggu diluar saja, Anna dan Melly saja yang ikut denganku."
"Maaf nyonya ini sudah perintah dari tuan muda."
Retha berdecak kesal bisa-bisanya Arga menyuruh orang mengikuti kemana saja Retha pergi. Dengan adanya Anna dan juga Melly saja sudah membuatnya risih apalagi jika harus dengan pengawal laki-laki yang terlihat menyeramkan itu.
"Jangan semuanya kau dan salah satu anak buahmu saja yang lain biar tunggu diluar, ini perintahku." Kata Retha bersungguh-sungguh.
__ADS_1
Kemudian Bima memanggil salah satu anak buahnya untuk ikut masuk bersama.
"Jaga jarak!" Perintah Retha.
Akhirnya Bima dan anak buahnya hanya mengawasi Retha agak jauhan sesuai perintah yang diberikan oleh Retha.
Dilain tempat Arga dan Asistennya sudah sampai ditempat rapat. Kali ini rapat diadakan di salah satu hotel mewah yang berada di Bali.
Mereka pun masuk kedalam salah satu ruangan yang sudah disiapkan khusus untuk rapat hari ini. Di sana terdapat dua orang laki-laki dan seorang perempuan seksi dibalut dengan pakaian ketat.
"Selamat pagi tuan Arga?" Sapa Tuan Gibran dari perusahaan CRV group. Arga hanya menganggukkan kepalanya lalu duduk paling ujung sebagai pemimpin rapat dan tak lupa Leo yang selalu standby disamping Arga.
"Kita langsung mulai saja rapatnya!" Ucap Arga dingin dan tegas.
"Baik sebelumnya perkenalkan ini Rara sekretaris saya!" Kata Gibran memperkenalkan sekertarisnya. Lalu dengan sigap sang sekertaris mengulurkan tangannya namun Arga hanya melihat lalu mengangguk-anggukkan kepala tanpa membalas uluran tangan sang sekertaris tadi. Karena tidak ditanggapi jabatan tangannya sang sekertaris pun kembali menarik tangannya.
"Ini proposal kerjasama perusahaan dari kami, bisa dibaca terlebih dahulu." Kata Rara dengan nada menggoda lalu menyerahkan map berisi proposal.
Arga hanya melihat proposal tersebut lalu menyuruh Leo yang membacanya.
Setelah selesai membaca isi proposal tersebut, Leo menjelaskan poin-poin penting yang ada dalam proposal tersebut. Arga mendengar dengan seksama, sebetulnya dia bisa saja langsung menyerahkan tugas ini pada Leo karena menurutnya Leo sudah bisa diandalkan sebagai asisten. Tapi dari perusahaan CRV group ingin Arga sendiri yang memimpin rapat tersebut.
Sebetulnya Arga sangat setuju dengan pengajuan kerjasama tersebut tapi melihat attitude yang dilakukan oleh sekertaris dari CEO CRV group membuatnya harus berpikir ulang. Sedari tadi sang sekertaris menggodanya terus menerus, dia menatap Arga dengan tatapan nakal seolah-olah ingin melahap Arga bulat-bulat. Arga jadi berpikir sebetulnya wanita itu benar-benar seorang sekertaris atau hanya sebagai umpan agar tujuan dari bisnis ini tercapai.
Arga hanya bisa menggelengkan kepalanya sungguh sekertaris tersebut lebih mirip sebagai ja*ang dari pada sekertaris. Arga benar-benar muak dengan perilaku sekertaris tersebut apalagi sekarang dengan beraninya sang sekertaris itu menyenggol kaki Arga yang ada bawah meja.
"Sebaiknya kerjasama ini tidak usah diadakan, kami menolak kerjasama dengan perusahaanmu." Ucap Arga dingin.
"Maaf tapi apa kekurangan dari proposal kami, bukankah proposal ini juga sangat menguntungkan bagi perusahaan anda?" Tanya Gibran. Dia merasa sangat terhina proposal yang sudah dibuat oleh anak buahnya dengan sungguh-sungguh, dengan mudahnya Arga menolaknya begitu saja apalagi Arga sendiri belum membaca proposal tersebut.
"Proposal mu sangat bagus tapi attitude karyawanmu sangat buruk, jadi aku memutuskan lebih baik tidak ada kerja sama diantara kita." Kemudian Arga berdiri dari kursinya lalu meninggalkan tempat rapat tanpa sepatah kata lagi.
__ADS_1
Sesampainya dilobi hotel dia menggerutu bisa-bisanya perusahaan sebesar CRV group melakukan hal menjijikan untuk melancarkan bisnisnya. Kemudian dia langsung masuk kedalam mobil disusul oleh Leo yang sekarang merangkap menjadi sopir pribadi Arga.
"Ke tempat Retha sekarang!" Perintahnya dengan nada tegas.
"Baik Tuan."
Ditengah perjalanan Arga yang sedari tadi menghubungi Bima untuk menanyakan keberadaan istrinya pun di buat jengkel. Bagaimana tidak didalam tempat itu Retha sedang asyik mengobrol dengan salah satu karyawan laki-laki.
Suasana di hotel saja sudah membuatnya panas apalagi sekarang orang yang sangat dicintainya sedang asyik mengobrol dengan laki-laki lain tanpa sedikitpun memikirkan dirinya.
"Kau ini bisa tidak menyetir mobil, lamban sekali!" Gertak Arga. Pikiran Arga sungguh kacau sekarang yang dia inginkan hanya segera tiba ditempat itu lalu membawa Retha pergi dari sana.
"Baik Tuan."
"Ini sudah maksimal juga tuan, apa kau mau mati bersama?" Geurutu Leo dalam hati karena tidak mungkin dia berbicara langsung pada bosnya itu.
Setelah perjalanan menenggangkan untuk Leo akhirnya mobil mereka sampai di pusat oleh-oleh tersebut. Setelah mobil berhenti Arga segera keluar tanpa menunggu Leo membukakan pintu untuknya.
Saat sampai didepan pintu masuk dia melihat para pengawal berdiri sigap disana.
"Kenapa kalian ada disini?" Tanya Arga heran bukannya mereka sudah diberitahu jika mereka harus mengikuti kemanapun Retha pergi.
"Maaf tuan muda, nyonya muda melarang kami untuk ikut masuk kedalam." Ujar salah satu pengawal tersebut.
Tanpa basa-basi dia langsung masuk kedalam. Mengedarkan pandangannya mencari sosok wanita yang sekarang sudah menjadi candu untuknya.
"Telepon Bima, tanyakan dimana mereka sekarang?"
Leo pun langsung menelepon Bima untuk menanyakan keberadaan nyonya mudanya. Setelah mengetahui keberadaan Retha, Leo langsung memimpin jalan untuk pergi ke tempat Retha.
Arga sudah tidak memperhatikan orang-orang sekitar yang menatapnya kagum. Dia mengabaikan orang-orang yang sedari tadi ingin menyapanya. Walaupun bukan seorang artis maupun penyanyi tapi Arga juga tak kalah terkenal dari mereka.
__ADS_1
Setelah sampai ditempat tujuan, mata Arga semakin panas saja. Jika tadi dia melihat istrinya dari layar teleponnya berbeda dengan sekarang yang melihat secara langsung. Arga pun langsung menghampiri Retha, Retha tidak tahu jika Arga akan menyusulnya kesini dan juga karena Retha membelakangi Arga.
Retha pun begitu terkejut ketika tiba-tiba ada seseorang yang merengkuh pinggangnya. Ketika dia hendak memaki orang yang dengan lancang menyentuhnya, dia dibuat lebih terkejut lagi karena itu adalah suaminya sendiri.