Istri Tuan Arga

Istri Tuan Arga
65


__ADS_3

Kemudian mereka melanjutkan perjalanan menuju bioskop yang berada dilantai tiga. Sesampainya disana ternyata sudah banyak pasang remaja yang sedang mengantri untuk membeli tiket.


Arga hanya bisa pasrah ketika Retha memintanya untuk mengantri tiket seperti yang lainnya. Retha sangat senang melihat wajah enggan Arga ketika berdekatan dengan orang luar. Dia sangat menikmati pemandangan itu.


"Oh suamiku yang malang, melihat wajahmu membuatku ingin tertawa!" Gumam Retha sambil tersenyum melihat wajah suaminya.


Sebetulnya Retha hanya ingin balas dendam saja karena sepanjang perjalanan tadi Arga tidak ada hentinya untuk menggoda dirinya. Ditempat umum dan banyak orang sekalipun Arga tetap meminta Retha untuk menciumnya.


Retha merutuki kebodohannya yang menantang Arga dan juga kesialannya karena seorang pelayan tadi.


Setelah cukup lama mengantri akhirnya Arga mendapatkan tiket untuk menonton bioskop juga. Kemudian dia berjalan menghampiri istrinya yang sedari tadi menunggunya.


"Ini!" Ucapnya sambil menyerahkan dua tiket.


"Ha ini tempat duduknya depan sendiri?" Tanya Retha menyakinkan jika dia tidak salah lihat.


"Iya karena kita sudah terlambat untuk mengantri!"


"Menyebalkan ini semua gara-gara kamu!" Ucap Retha kemudian mereka berjalan memasuki bioskop.


Retha sebenarnya ingin duduk di paling belakang karena menurutnya duduk di paling depan adalah hal yang keramat. Dia tidak bisa melakukan hal romantis apapun jika sedang berada didepan.


Akhirnya mereka pun duduk ditempat yang sesuai dengan nomor tiket mereka. Tak lama kemudian film pun diputar.


Sepanjang pemutaran film tersebut Retha hanya tertidur saja sedangkan Arga jangan ditanya lagi dia sudah sangat kesal. Retha mengajaknya untuk menonton yang notabennya jarang Arga lakukan dan hampir tidak pernah. Tetapi sekarang dia malah asyik tertidur dilengan suaminya itu.


Setelah film selesai, Retha pun terbangun. Dia melihat sekeliling sudah banyak dari para pengunjung yang mulai meninggalkan tempat.


"Bagaimana filmnya bagus kan?" Tanya Retha pada Arga sembari mereka berjalan menuju keluar gedung bioskop tersebut.


"Tidak biasa saja."


"Ck aku saja sampai terharu melihatnya, apalagi ketika si laki-lakinya melamar perempuan itu dengan sangat romantis."

__ADS_1


Kemudian Retha menjelaskan runtutan cerita dalam film tersebut. Arga tidak habis pikir bagaimana bisa Retha mengerti jalan cerita di film romantis tersebut sedangkan dia tampak tertidur pulas.


"Bagaimana kau bisa tahu sedetail itu?" Tanya Arga yang penasaran sekaligus curiga dengan Retha.


"Kemarin aku sudah menonton filmnya dirumah jadi aku tahu." Jelas Retha dengan wajah tanpa rasa bersalah sedikitpun.


"Kau sudah melihatnya lalu kenapa mengajakku untuk melihatnya lagi, itu benar-benar menyebalkan re!" Gerutu Arga sepanjang perjalanan.


"Kan aku sudah bilang aku sedang mengajakmu kencan, bukankah kencan itu seperti ini. Lagipula aku juga tidak mau suamiku terlihat tua karena tidak pernah refreshing!"


"Aku tidak tua, lihat wajahku masih begitu sangat tampan kan?" Tanya Arga.


Retha hanya mencebik kesal suaminya memang tampan dia sangat tahu tetapi sifat arogan dan sombongnya itu juga menyebalkan.


Tanpa Arga maupun Retha sadari sejak tadi mereka keluar dari mobil ada dua orang yang sedang mengawasi mereka.


"Jika aku harus kehilangan tambang uangku kau juga harus merasakan kehilangan pelabuhan cintamu!" Ucap seseorang sambil menampilkan senyum mengerikan.


Akhirnya Arga dan Retha memutuskan untuk pulang dan makan malam dirumah saja. Seharian berada diluar rumah membuat badan mereka terasa lelah dan lengket.


Setelah menyampaikan pesan pada pelayan dia segera menuju ke kamar dan membersihkan diri. Arga pun juga melakukan hal yang sama. Setelah mereka selesai membersihkan diri mereka segera turun untuk makan malam karena waktu memang sudah menunjukkan jam makan malam.


Arga mengamati setiap gerak-gerik istrinya. Dia merasa ada yang aneh dengan istrinya tapi dia juga tidak tahu apa.


Arga hanya berharap agar Retha segera hamil karena dia ingin segera mempunyai buah hati. Tapi dia tidak mau mengatakan keinginannya secara langsung dia takut itu akan membuat beban untuk Retha.


Selesai makan malam Retha memutuskan kembali ke kamar sedangkan Arga dia harus menyelesaikan berkas-berkas yang tadi dikirim oleh Leo.


Retha berguling-guling diatas ranjang entah apa yang dia pikirkan seperti sedang merencanakan sesuatu.


Arga berkutat dengan kertas-kertas yang bernilai miliaran rupiah itu. Ketika pintu diketuk membuat Arga mengalihkan pandangannya. Tampak Retha sedang membawa sebuah cangkir berisi kopi masuk ke dalam ruangan kerjanya.


"Sayang aku membawakanmu secangkir kopi, minumlah terlebih dahulu agar kau tidak mengantuk!" Kata Retha sambil menyerahkan secangkir kopi pada Arga. Arga menerima secangkir kopi itu lalu mengamati istrinya lagi.

__ADS_1


"Emm sepertinya kau lelah, bagaimana kalau aku pijat agar lebih rileks!" Ungkap Retha lagi kemudian memijat kedua bahu Arga. Arga sudah tahu jika istrinya berbuat begitu manis seperti ini pasti akan ada maunya.


"Ada yang ingin kau katakan?" Tanya Arga, dia ingin segera tahu apa yang diinginkan istrinya itu.


Kemudian Retha beralih duduk dipangkuan Arga dan membelai rahang kokoh suaminya. Dia pun membuat senyum semanis mungkin agar menarik perhatian Arga.


"Aku bosan dirumah, bagaimana kalau aku bekerja di kantormu saja?" Tanyanya dengan nada sensual.


Benarkan yang Arga duga, pasti ada udang dibalik batu jika istrinya sudah berbuat seperti itu.


"Semuanya sudah penuh aku sedang tidak membutuhkan karyawan tambahan lagi!" Ucap Arga acuh.


Sebetulnya dia bisa saja menaruh Retha di divisi manapun, tetapi dia juga enggan melakukan itu karena Arga hanya ingin Retha bersenang-senang saja tanpa memikirkan pekerjaan.


"Ayolah, aku mau bekerja menjadi apa saja."


"Sayang aku sangat bosan hanya duduk-duduk dirumah saja!" Kata Retha lagi karena sedari tadi Arga hanya diam tak bergeming.


"Kau bisa jalan-jalan keluar berbelanja jadi tidak bosan kan?"


"Kau sangat menyebalkannya, ya sudah kalau tidak boleh mengizinkanku bekerja dikantormu lebih baik kau tidur dikamar tamu sana!" Gertak Retha kemudian dia bangkit dari pangkuan Arga.


Ketika hendak melangkahkan kakinya tiba-tiba saja Arga mencekal lengan Retha. Kemudian Arga mendudukan kembali Retha pada pangkuannya.


"Baiklah mulai besok bekerjalah dikantor." Ucap Arga pasrah dia tidak mau tidur dikamar tamu.


Retha pun tersenyum kegirangan akhirnya dia tidak sia-sia berkuliah dan mempunyai kegiatan baru. Dia pun segera mencium pipi Arga kemudian mengucapkan terimakasih dan berlalu meninggalkan Arga di ruang kerjanya.


Arga hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah istrinya yang kian hari tidak dia mengerti itu.


Selepas dari ruang kerja Arga, Retha segera mengambil beberapa baju yang cocok dia kenakan untuk bekerja hari esok. Dia sudah tidak sabar untuk menunggu pagi dan pergi bekerja. Selesai mengambil baju untuk kerjanya esok hari dia segera merebahkan dirinya untuk tidur agar esok pagi dia lebih fresh. Tak butuh waktu lama akhirnya Retha pun tertidur.


Setelah kepergian Retha dari ruang kerjanya, Arga segera merapikan berkas-berkasnya. Dia ingin meminta ucapan terimakasih dari Retha dalam bentuk yang lain.

__ADS_1


Sesampainya dikamar dia hanya bisa menghembuskan nafas berat ternyata Retha sudah tertidur kemudian dia pun ikut berbaring disamping istrinya tanpa melakukan apapun.


__ADS_2