Istri Tuan Arga

Istri Tuan Arga
S2-episode 80


__ADS_3

Ketika sinar senja mulai tergantikan oleh sinar rembulan, Orin dan sahabat-sahabatnya memtuskan untuk kembali ke rumah mereka masing-masing. Pertama mereka akan mengantarkan Felys terlebih dahulu.


"Lex, nanti gue turun ditempat Felys aja ya soalnya pak Marcel mau jemput disana. Lu nanti anterin Aneta sampe rumahnya oke!"


"Gue juga ikut turun di rumah Felys aja Rin. Pulang naik taksi aja gue!" Jawabnya. Dia tidak bisa membayangkan satu mobil hanya berdua dengan Aneta si petasan banting. Sementara itu Aneta hanya diam sebab gadis itu sudah mulai menyelami mimpi-mimpi indahnya sejak tadi.


"Jangan gitu dong Lex, nanti Aneta pulangnya gimana? Kasian kan dia udah ngantuk masa suruh bawa mobil sendiri nanti kalo dijalan kenapa-kenapa gimana?"


"Ya udah deh, iya." Mau bagaimana lagi sekarang hanya dirinya lah laki-laki yang ada di dalam mobil tersebut. Lingga sejak pulang dari pantai tersebut sudah ikut bergabung dengan mobil teman-teman laki-lakinya sebab arah pulang mereka juga sedikit berbeda.


Dalam hati Orin bersorak gembira, ini adalah sedikit bagian dari rencananya untuk mendekatkan Aneta dengan Alex, dua anak orang manusia yang saling berseteru jika bertemu itu. Ya meskipun Aneta sudah tertidur setidaknya mereka masih memiliki waktu hanya berdua saja.


Setelah menempuh perjalanan cukup lama, akhirnya mereka pun sampai di rumah Felys. Alex menepikan mobil yang mereka tumpangi. Setelah itu mereka sama-sama keluar dari mobil. Di depan rumah Felys sendiri sudah tampak sebuah mobil yang sepertinya sedang menunggu seseorang.


"Thanks ya guys! Gue seneng banget hari ini!" Ucap Felys setelah mereka keluar dari mobil.


"Sama-sama Fel, udah gih sana masuk nanti ditungguin bokap nyokap lu!"


"Oke!"


Sementara itu, Aneta yang masih terlelap di dalam mobil mulai membuka matanya menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya. Setelah sadar dia pun ikut keluar menghampiri Orin dan juga Alex.


"Udah sampe rumah Felys ternyata!" Gumamnya sambil berjalan menghampiri mereka.


"Lu kenapa nggak masuk mobil lagi Rin?" Tanyanya ketika sudah sampai didepan Orin.


"Eh si kebo udah bangun ternyata!" Sindir Alex melihat Aneta masih mengucek matanya.


"Berisik lu badak!"


"Gue udah dijemput sama pak Marcel!" Ucapnya sambil sedikit mengangkat dagunya, menunjuk mobil yang juga terparkir di depan rumah Felys.

__ADS_1


"Nanti lu pulangnya dianterin sama Alex aja, kasihan lu pasti udah ngantuk!"


"Ih ogah banget gue dianterin sama nih orang!" Jawabnya sambil membuang muka. Yang benar saja dia harus satu mobil berdua saja dengan musuh bebuyutannya sejak lama.


"Gue kalau nggak Orin yang maksa juga ogah nganterin lu!"


"Husst udah deh, jangan berantem terus. Gue kasihan lagi sama lu Net, lu pasti capek banget. Dan daripada nanti di jalan ada apa-apa mending dianterin Alex aja! Lagian rumah lu sama apartemen Alex searah juga!"


Aneta pun mendengus kesal, sebenarnya dia juga merasa sangat lelah apalagi kantuk seolah-olah belum jauh darinya. Apalagi sekarang sudah malam juga, menyetir sendiri dalam keadaan mengantuk juga tidak baik.


"Ya udah deh, tapi inget lu jangan berani macam-macam sama gue!" Ketusnya sambil menunjuk tepat di wajah Alex.


"Idih kepedean lu, siapa juga yang mau ngapa-ngapain lu kayak cewek udah punah aja!" Jawab Alex tak mau kalah dengan Aneta.


Sementara itu di dalam mobil, Marcel menyandarkan kepalanya di jok mobil belakang kemudinya. Ingin rasanya dia menghampiri Orin dan juga teman-temannya tapi dia malu, bagaimanapun juga mereka adalah mantan muridnya dan juga selisih umur mereka yang lumayan jauh sehingga membuat Marcel menjadi minder.


"Ya udah gue balik duluan ya! Alex jangan lupa buat anterin Aneta sampai rumah ya! Awas kalo nggak sampai rumah!"


"Baik tuan putri, eh iya gue mau ngomong sama pak Marcel bentar aja bisa nggak?"


"Iya iya sayangnya aku. Lu hati-hati ya!"


"Iya." Jawab Orin kemudian cipika-cipiki dengan Aneta sebagai salam perpisahan.


Alex dan Orin pun berjalan beriringan menuju mobil Marcel. Setelah sampai Orin segera mengetuk jendela sebelah Marcel.


tok...tok... tok


Marcel pun segera membuka kuncian mobilnya dari dalam. Tapi saat hendak menyapa Orin yang baru saja duduk di sampingnya, lagi-lagi kaca jendela tersebut diketuk. Marcel pun menolehkan kepalanya, ternyata Alex. Laki-laki itu tersenyum ramah kearahnya. Dia ingat dulu Alex selalu menatapnya sengit seolah-olah dirinya adalah seorang lawan tapi sekarang sepertinya semuanya sudah berbeda.


"Tadi Alex berkata ingin berbicara sebentar denganmu!" Ucap Orin memberitahu. Gadis itu mulai menaruh tas ranselnya di jok belakang.

__ADS_1


"Denganku? Ada apa?"


"Aku tidak tahu, temui saja dulu. Aku akan menunggumu disini!" Ujarnya seraya tersenyum manis. Marcel pun keluar bermaksud untuk menemui Alex, mantan muridnya itu.


"Selamat malam pak Marcel?" Sapa Alex mereka berdua berjalan ke arah depan mobil, duduk diatas kap mobil bagian depan.


"Malam Alex, apa kabar?"


"Kabar saya baik pak, bagaimana dengan kabar pak Marcel?"


"Saya baik-baik saja. Jangan terlalu formal lagipula ini bukan jam sekolah dan lagi saya bukan lagi gurumu bukan?"


"Saya akan mencobanya pak tapi mungkin saat ini saya belum terbiasa!" Jawabnya sambil tersenyum lalu mengulurkan tangannya. Marcel mengernyitkan dahinya tak mengerti tapi dia tetap membalas uluran tangan Alex.


"Selamat ya pak, ternyata hanya pak Marcel yang bisa meluluhkan beku di hatinya!" Ucapnya sambil melirik kearah Orin yang tampaknya sedang memejamkan matanya.


"Oh!" Marcel baru mengerti sekarang yang dimaksudkan oleh Alex. Marcel kagum dengan Alex, laki-laki itu mencintai Orin sejak dulu tapi dia bisa merelakan kebahagiaan Orin meskipun tidak bersamanya.


"Terimakasih, saya merasa sangat beruntung bisa mendapatkan hati Orin. Dia gadis baik dan apa adanya!"


"Saya tahu, dan itulah yang membuatnya berbeda dengan gadis-gadis lainnya. Apalagi dengan kekayaan yang orang tuanya miliki tapi itu tidak mampu mengubah sifat sederhana dan apa adanya."


"Maaf sudah merebut Orin darimu!"


"Tidak pak, pak Marcel tidak perlu meminta maaf dan lagipula saya tidak merasa jika pak Marcel merebut Orin dari saya. Dari awal saya memang tidak memiliki hak untuk memiliki Orin. Saya memang mencintai Orin tapi saya lebih bahagia jika melihat orang yang saya cintai juga bahagia!"


Marcel merasa semakin kagum dengan pemikiran Alex, dia kira Alex sama seperti laki-laki seusianya tapi ternyata tidak, pemikiran Alex sangat dewasa.


"Semoga kamu kelak akan mendapatkan jodoh yang terbaik," Ucap Marcel tulus.


"Terimakasih pak, ya sudah saya pamit pulang terlebih dahulu lagipula saya lihat Orin juga sudah tertidur."

__ADS_1


"Ya hati-hati dijalan Lex!"


Mereka pun berpisah, Marcel kembali masuk kedalam mobilnya begitu juga dengan Alex. Marcel tersenyum begitu melihat Orin sudah memejamkan matanya. Gadisnya, tetap sama. Mudah tertidur di tempat seperti apapun.


__ADS_2