Istri Tuan Arga

Istri Tuan Arga
Dddddd


__ADS_3

Akhirnya mobil yang mereka tumpangi pun sampai di rumah sakit. Beruntung hari masih pagi sehingga jalanan tidak terlalu dipadati oleh para karyawan maupun orang-orang yang memiliki aktivitas pagi diluar rumah.


Sepanjang perjalanan Marcel tak henti-hentinya mengatakan jika Orin harus kuat bahkan sepanjang perjalanan tangannya tak berhenti untuk mengusap perut buncit Orin dimana membuat Orin terkadang mendengus kesal karena tangan Marcel yang tak sengaja menyentuh dua gundukan Orin yang ikut membesarkan seiring dengan kehamilannya.


"Ayo aku gendong!" Kata Marcel kini dia sudah berdiri disamping pintu sebelah kemudi.


"Sayang ambilkan kursi roda atau apapun itu saja!" Rengek Orin merasa kasihan jika Marcel harus menggendongnya kembali. Dia menyadari kini berat badannya tidak sama dengan ketika dia masih berseragam putih abu-abu dulu. Bahkan sejak kehamilannya, berat badannya sudah bertambah lima belas kilogram.


"Baiklah!" Marcel pun berjalan untuk mengambil kursi roda serta memanggil suster jaga untuk segera memberikan pertolongan pada istrinya.


Orin pun segera dibawa ke ruangan bersalin dan disana lah dia sekarang. Berbaring dengan Marcel yang berada disisinya.


"Selamat pagi nyonya Orin!" Sapa seorang dokter wanita begitu ramah. Mungkin usianya beberapa tahun lebih tua daripada Orin. Sebelumnya mereka pun pernah bertemu untuk konsultasi mengenai hal persalinan.


"Pagi dokter Sally!" Jawab Orin tak kalah ramah. Dokter Sally pun segera berjalan ke arah Orin untuk memeriksa tekanan darah dan pembukaan pada rahim Orin.


"Wahh sepertinya si kembar memang segera ingin keluar! Nyonya Orin sudah siap?"

__ADS_1


"Sangat siap dok!" Jawabnya sambil tersenyum. Mana mungkin dia tidak siap hari ini adalah hari yang paling dia tunggu setelah penantian yang cukup lama. Meskipun dadanya juga berdegup kencang takut-takut apa yang akan terjadi nantinya.


"Tuan, mau menunggu disini atau diluar?" Tanya dokter Sally pada Marcel yang masih duduk ditempatnya.


"Saya akan menemani istri saya disini!" Ucapnya dengan mantap padahal degup jantungnya berdegup kencang seperti habis lari dikejar seekor anjing liar.


"Sayang lebih baik kamu mengunggu diluar saja!" Kata Orin bukannya dia tidak mau hanya saja dia yang meringis kesakitan seperti itu saja Marcel sudah sangat gugup apalagi dengan dia yang akan melahirkan nantinya.


"Tidak sayang, aku suami siaga. Aku tetap akan berdiri disampingmu apapun yang akan terjadi nantinya!"


"Baiklah terserahmu saja! Tapi ingat jangan melakukan hal yang akan membuat para dokter dan suster tidak berkonsentrasi. Melahirkan memang akan menyakitiku tapi rasa nikmat setelahnya akan melebihi apapun yang pernah terjadi di dunia ini. Bagi seorang ibu melahirkan adalah hal yang dia tunggu!" Peringat Orin pada sang suami mengingat tadi suaminya itu marah-marah karena menurutnya para suster jaga yang lelet padahal yang sebenarnya tidak seperti itu memang suaminya saja yang berlebihan.


Setelah itu dokter pun keluar sementara suster mulai mempersiapkan peralatan untuk melahirkan. Sebenarnya sedari tadi Orin sudah merasakan kontraksi yang begitu hebat tetapi dia tidak menunjukkannya takut jika sang suami akan melakukan hal-hal yang membuatnya malu.


Kurang lebih dua puluh menit, dokter Sally pun kembali masuk ke ruangan Orin bersama dengan beberapa suster dan seorang dokter kandungan lainnya.


"Nyonya Orin, rileks! Tarik nafas lalu keluarkan!" Ucap dokter Sally kemudian menutup bagian bawah tubuh Orin dengan sebuah kain sampai sebatas dadanya.

__ADS_1


"Sayang kamu pasti bisa!" Kata sang suami kemudian memberikan kecupan singkat pada kening Orin.


Orin pun mendengarkan instruksi dari dokter kemudian melakukan apa yang mereka perintahkan.


"Awwww sakit sayang!" Rintihnya ketika terjadi kontraksi yang benar-benar hebat. Sementara itu sang suami hanya bisa menggenggam tangannya. Marcel sendiri tak kalah gugup dengan Orin apalagi melihat wajah Orin yang kian memucat dan bayi mereka belum juga keluar. Dia takut jika dibiarkan seperti ini, akan terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan pada Orin maupun bayi mereka.


"Kenapa dokter tidak segera mengeluarkan mereka saja sih!" Geurutunya untuk mengurangi rasa gugupnya.


"Iya nyonya sebentar lagi, ini kepala si kembar sudah terlihat! Jangan tegang, rileks!"


"Sayang sakit!" Melihat wajah Orin yang kian semakin memucat membuatnya semakin tak karuan.


"Say...!" Belum sempat Orin melanjutkan ucapannya tiba-tiba sang suami sudah tergeletak di samping ranjang bersama dengan keluarnya salah satu anak mereka.


Dokter yang menangani pun terlihat terkejut, melihat Marcel yang dingin dan juga keras tiba-tiba pingsan saat menemani istrinya melahirkan tentu menggelitik hati mereka.


"Maaf dokter, tolong bawa suami saya keluar saja!" Kata Orin malu melihat kelakuan suaminya itu.

__ADS_1


JANGAN LUPA MAMPIR KE NOVEL KU YANG LAIN YA GUYS 😍



__ADS_2