
Mereka pun berjalan keluar kelas dengan Orin yang berada di depan sedangkan Alex dengan langkah sombongnya mengikuti kemanapun Orin pergi. Sampai akhirnya mereka tiba di sebuah taman belakang kelas yang biasa digunakan oleh siswa-siswi untuk beristirahat. Orin pun duduk di bangku taman tersebut dan diikuti oleh Alex.
"Gue mau lu hapus postingan yang ada di Instagram lu Lex!" Suara Orin memecah keheningan diantara mereka.
"Postingan mana sih Rin?" Tanya Alex dengan kepura-puraanya.
"Yang tadi malam gue dinner sama opa lu. Lex gue udah bilang ke berapa kalinya sih sama lu dan kenapa lu nggak pernah mau buat ngerti. Gue tuh nggak cinta sama lu Lex!"
"Kenapa lu gak cinta sama gue? Padahal diluar sana banyak yang suka gue tapi hati gue milih lu Rin."
"Gue nggak bisa buat maksaain suka sama lu Lex!" Ucap Orin yang semakin tidak mengerti dengan jalan pikiran Alex.
"Lu bukan nggak bisa Rin! Lu emang nggak mau coba buat buka hati lu ke gue. Lu terlalu takut dengan pemikiran yang ada dalam otak lu kalau gue bakal selingkuhin lu, padahal gue gak gitu Rin!"
Alex pun berdiri hendak meninggalkan Orin namun sebelum itu dia mengatakan "Gue bakalan tetep usaha buat dapatin cinta lu, bagaimanapun caranya!" Katanya lalu meninggalkan Orin dengan kebingungannya.
"You crazy man, there are many women who can give you more but you even wish for a woman like me!" Teriak Orin sebelum Alex berjalan lebih jauh darinya.
Orin pun kembali berkutat dengan pikirannya sendiri, dia enggan untuk mengikuti pelajaran hari ini.
Apa memang dalam hal ini dia yang bersalah karena tidak pernah membuka hatinya untuk Alex. Padahal dia sendiri tahu sejak dulu Alex memang sudah menyukainya. Memang benar adanya dirinya takut akan patah hati, takut jika dia tidak bisa menahan rasa sakitnya sehingga membuatnya menjadi tertutup dengan laki-laki.
"Bolos lagi hari ini?" Tanya seseorang dengan suara berat nan khasnya. Orin tidak bisa melihat siapa suara itu karena pemilik suara tersebut berada di belakangnya tapi dia tidak asing dengan suara itu.
"Kenapa kamu tidak membalas pesan saya?" Tanyanya lagi yang kini sudah berjalan dan sekarang duduk di samping Orin.
"Pak Marcel?"
__ADS_1
"Iya saya kenapa kamu terkejut seperti melihat hantu seperti itu?"
"Ah tidak tidak pak, saya izin pergi ke kelas terlebih dahulu!" Saat Orin hendak berdiri tiba-tiba saja Marcel menahan lengan Orin agar tetap berada di sana.
Marcel sedikit tidak suka dengan tingkah Orin yang berubah menjadi pendiam. Dia lebih suka jika Orin mengatakan apa yang dia rasakan tidak seperti sekarang ini.
"Kita belum selesai berbicara! Kenapa kamu tidak balas pesan saya? Mau menghindar dari saya?"
"Eh bukan begitu pak saya belum sempat melihat ponsel saya." Jawab Orin dengan jujur karena memang sejak tadi dia sendiri belum memeriksa ponselnya.
"Sekarang buka ponsel kamu!" Perintah Marcel dimana dengan bodohnya Orin mengikuti begitu saja. Orin pun membaca beberapa pesan masuk dan dia membulatkan matanya ketika membaca pesan dari nomor yang belum dia simpan dan dia meyakini jika itu adalah nomor Marcel.
"Pak ini namanya tidak adil dong! Masa iya saya hari Sabtu juga harus ikut jam tambahan?" Protes Orin ketika melihat jadwal yang dikirimkan Marcel.
"Wah yang bener aja nih masa gue harus ketemu dia lagi dia kali seminggu mana satunya hari Sabtu lagi! Emang bener bener penindasan nih orang!"
"Pak saya mohon lah jangan hari Sabtu ya please!" Pinta Orin dengan melipat kedua telapak tangannya di depan dada. Dia harus melupakan gengsinya sementara.
"Itu sudah jadwal mutlak dan karena hari ini hari Rabu sesuai dengan jadwal hari ini jam tambahan kamu akan dimulai!"
"Gini deh pak kita ganti harinya aja yang hari Sabtu gimana kalau Jumat saja?" Bujuk Orin sementara Marcel juga tetap kekeh pada pendiriannya sendiri.
"Kamu emang hari Sabtu mau kemana sih? Kencan? Saya tahu kamu itu jomblo mana mungkin kencan." Ucap Marcel dengan santainya dimana membuat Orin semakin kesal.
"Iya udah terserah pak Marcel saja tapi buat tempatnya saya yang akan nentuin. Gimana bapak setuju kan?"
"Oke saya setuju!"
__ADS_1
"Kalau begitu sampai bertemu di kafe Amera!" Ucap Orin lalu pergi meninggalkan Marcel. Didalam langkahnya Orin tak henti-hentinya menyunggingkan senyumnya, dia sudah memiliki ide brilian di dalam otaknya dan semoga saja rencananya akan berjalan dengan lancar.
Setelah dari taman tersebut Orin kembali ke ke kelasnya dan ternyata hari ini adalah jam kosong untuk semua mata pelajaran karena para guru sedang rapat akhir bulan.
"Sialan gue di bohongin sama Marcel!" Kesal Orin kemudian dia duduk di samping Aneta yang sejak tadi menunggu kedatangannya.
"Dibohongin apaan Rin?"
"Dia bilang di kelas ada guru ternyata nggak ada kan ngeselin tuh!"
"Salah sendiri lu **** sih! Eh iya urusan lu sama Alex?" Tanya Aneta penuh antusias dia sudah menunggu momen ini sejak tadi.
"Dia kekeh tetep cinta sama gue dan berharap buat gue juga bisa bales cintanya!" Jawab Orin dengan pasrah, kepalanya benar-benar akan berdenyut jika dia tetap memikirkan tentang cinta. Karena sejak dulu dia memang tidak pernah jatuh cinta kepada laki-laki lain kecuali Daddy dan kakak laki-lakinya.
"Dan kenapa lu nggak coba buat bales cintanya si Alex?"
"Gue nggak bisa Net, lu tahu sendiri Alex tuh playboy banget terus belum lagi si Vanessa cabe tuh yang juga suka sama Alex. Gue nggak mau hidup gue jadi ribet karena harus urusan sama mereka!"
"Lu kan belum coba Rin?"
"Karena justru itu gue nggak mau coba-coba masalah hati. Dan lu juga tahu gue nggak punya pengalaman tentang cinta!"
Setelah mengatakan itu tiba-tiba saja Orin berdiri di atas kursinya lalu berteriak "Temen-temen semua nanti setelah jam sekolah gue bakal traktir lu semua makan di kafe Amera oke?"
"Wuhhhh lu emang keren banget Rin!" Suara riuh teman-teman Orin karena mendapat traktiran dari most wanted sekolahnya. Sebenarnya ini bukan pertama kalinya karena ketika Orin berulang tahun pun dia akan mengajak teman-teman sekelasnya untuk makan bersama. Di sisi lain dari sifatnya yang suka ceplas-ceplos dan ceroboh tapi dia juga memiliki kebaikan hati.
"Emang ada acara apa lu sampai ajak anak-anak buat makan bareng?"
__ADS_1
"Ada deh, lu juga harus ikut!"