
Setelah percakapan sore tadi mereka kembali masuk kedalam kamar, merebahkan diri melepaskan penat karena sebentar lagi mereka harus meninggalkan pulau Dewata dan kembali menjalani rutinitas.
Kemudian Retha duduk di ranjang dan menyenderkan punggungnya ke kepala ranjang. Matanya tidak beralih pada layar televisi yang sedang mempertontonkan sebuah drama dari negara ginseng tersebut.
Dia tidak menghiraukan sang suami yang sedang merebahkan kepalanya di atas pahanya. Merasa diabaikan akhirnya Arga memilih untuk mengecek ponselnya apakah ada email masuk tentang pekerjaan.
"Kyaaa...!" Teriak Retha saat melihat adegan tabrakan mobil yang ada didalam drama tersebut.
Arga yang sedang merebahkan kepala dipangkuannya pun sontak langsung duduk dan terlihat wajah paniknya.
"Ada apa?" Tanya Arga dengan nada khawatir karena tiba-tiba saja istrinya itu berteriak sekencang-kencangnya.
"Lihatlah dia tertabrak mobil dan mobilnya hancur!" Jawab Retha kemudian tiba-tiba saja matanya berkaca-kaca melihat pemeran utama laki-lakinya yang bersimbah darah.
Arga pun menolehkan kepalanya menghadap ke layar televisi yang sejak tadi menarik perhatian istrinya. Arga pun menjadi kesal dia sudah khawatir dan panik karena tiba-tiba istrinya berteriak tetapi ternyata Retha berteriak karena laki-laki lain dan lebih menjengkelkan lagi matanya hampir mengeluarkan air mata untuk laki-laki lain.
"Biar saja dia mati sekalian!" Ucap Arga ketus.
Retha pun mendengus kesal mendengar ucapan Arga. Bagaimana bisa dia mengatakan kematian seseorang dengan semudah itu.
"Kau menyebalkan!" Gerutunya.
"Kau itu yang lebih menyebalkan!" Kata Arga tidak mau kalah.
"Kenapa aku? kau itu yang tidak punya hati mengatakan kematian seseorang seperti mengatakan tentang sebuah permainan saja!"
Arga pun berdecak kesal dengan penjelasan sang istri.
"Aku? kau itu menyebalkan menangisi seorang laki-laki didepan suaminya sendiri." Dengus Arga pada istrinya.
Akhirnya Retha menyengir kuda setelah menyadari apa yang dia lakukan. Dia bersedih karena laki-laki lain didepan suaminya yang posesif dan pencemburu berat itu. Oh yang benar saja pantas wajahnya sudah merah seperti kepiting rebus.
"Hehe... tapi kau tetap yang paling tampan dan menawan sayang." Rayu Retha pada suaminya yang sebentar lagi pasti akan mengamuk jika Retha tidak mengalah.
__ADS_1
"Aku tahu itu!" Ucap Arga acuh padahal didalam hatinya dia bersorak gembira karena Retha mengatakan dirinya tampan.
"Jadi suamiku yang super tampan ini jangan marah lagi!" Bujuk Retha sambil memperlihatkan puppy eyes-nya.
"Hem." Jawab Arga. Kemudian dia kembali memeriksa ponselnya dan ternyata ada email masuk dari Leo si asisten.
"Sayang aku besok tidak bisa mengantarmu pergi belanja oleh-oleh!" Kata Arga dengan hati-hati takut istrinya marah.
"Kenapa?" Tanyanya sinis. Retha sungguh kesal dengan Arga padahal besok adalah hari terakhir mereka ada di pulau Bali tetapi Arga malah tidak bisa menghabiskan waktu bersama dirinya.
"Kan dia pasti marah," Ungkap Arga dalam hati.
"Aku ada rapat mendadak disini sayang, Leo tidak bisa menggantikanku jadi aku harus turun tangan sendiri!"
"Iya sudah aku bisa membeli oleh-oleh sendiri." Kata Retha kembali fokus pada layar televisi.
"Tidak, siapa yang mengizinkanmu belanja sendiri. Besok ada orang yang akan mengantarkanmu belanja."
"Aku tidak menerima protes bentuk apapun darimu. Jika kau tidak mau ditemani orangku lebih baik tidak usah keluar dari villa saja." Kata Arga mutlak tidak bisa dibantah.
Namun bukan Retha jika dia menyerah dengan mudah. Dengan sisa-sisa keberaniannya dia pun kembali membantah ucapan Arga.
"Tapi aku sudah besar, aku bisa menjaga diriku sendiri!"
"Menjaga dirimu sendiri? lalu waktu itu kenapa kau diam saja ketika para wanita gila itu menyerangmu?"
Retha bungkam seribu bahasa, dia sudah kalah telak. Arga memang benar dia tidak bisa menjaga dirinya sendiri. Dia terlalu lemah. Dan berdebat dengan Arga pun pasti hanya akan menimbulkan kekalahan.
Dengan kesal Retha menjatuhkan dirinya diatas ranjang lalu menutup seluruh tubuhnya sampai kepala dengan selimut dan dia meringkuk membelakangi Arga.
Arga hanya menghela nafas, dia melakukan itu semua karena dia takut jika Retha kembali tersakiti seperti dulu. Apalagi sekarang mereka tidak sedang berada di Jakarta itu akan mempersulit Arga jika terjadi sesuatu pada Retha.
Setelah itu Arga kembali menaruh ponselnya diatas nakas. Dia ikut merebahkan tubuhnya disamping Retha memeluk erat tubuh kecil sang istri dari belakang. Tak lama kemudian dia juga terlelap menyusuri alam mimpi sama seperti istrinya itu.
__ADS_1
Pagi hari tampak matahari masih malu-malu untuk menampakkan sinarnya. Deburan ombak menjadi alunan lagu yang merdu bagi dua insan yang masih terlelap.
Tak lama kemudian Retha terbangun, badannya sungguh terasa remuk. Bagaimana tidak semalam suntuk Arga memeluknya dengan erat tanpa mau melepaskan sedikitpun. Alhasil tubuh Retha juga tidak bisa bergerak sama sekali. Retha sedikit menggerakkan tubuhnya untuk mencari kenyamanan.
Arga yang merasakan ada pergerakan dari tubuh kecil Retha pun sontak langsung terbangun.
"Sudah bangun?" Tanya Arga.
"Iya, lepaskan aku mau mandi dulu!" Jawab Retha sambil mendudukkan badannya.
"Mau mandi bersama?" Tawar Arga dengan senyum jahilnya.
"Tidak!!!" Jawab Retha sambil berlalu menuju ke kamar mandi. Jika Retha menerima ajakan Arga untuk mandi bersama, bukan hanya mandi yang akan terjadi tapi penyatuan tubuh. Bisa-bisa nanti Arga akan terlambat untuk rapat dan dirinya juga tidak jadi membeli oleh-oleh karena nanti sore mereka harus pulang ke Jakarta.
Arga yang mendapat perlakuan seperti itu bukannya marah dia malah tertawa terbahak-bahak karena dia hanya menggoda tapi jika Retha benar-benar mau bukankah itu berkah.
Tak lama kemudian Retha keluar dari kamar mandi lalu dia mengambil pakaian didalam almari. Setelah selesai memakai pakaiannya dia bari menyadari jika suaminya tidak ada didalam kamar. Retha pun hendak keluar dari kamar tapi tiba-tiba saja pintunya terdorong dan membentur keningnya.
"Aduh!!!" Pekik Retha sembari mengusap-usap keningnya yang merah.
Arga pun terkejut karena tiba-tiba saja ada Retha dibelakang pintu, dia fikir mungkin Retha masih merias wajah karena dia ingin keluar.
"Kau tidak apa-apa sayang? maaf aku tidak sengaja!" Ucap Arga dengan nada penyesalan lalu meniup dahi Retha yang terbentur pintu.
"Tidak apa-apa, tadi aku ingin mencarimu." Kata Retha lalu berjalan dan duduk didepan meja rias.
"Aku sedang mandi dikamar sebelah, karena kalau menunggu kamu mandi bisa-bisa aku terlambat. Tadi pelayanan sudah menyiapkan sarapan, ayo kita sarapan dulu!"
"Sebentar..." Kata Retha lalu memoles sedikit wajahnya. Arga pun juga bersiap dia mengambil jas yang ada di lemarinya.
Setelah siap mereka pun keluar dari kamar menuju ruang makan. Disana sudah tersaji roti dengan berbagai selai. Setelah selesai menyantap sarapan Retha keluar terlebih dahulu karena Arga masih mengangkat telepon.
Saat baru membuka pintu rumah, Retha begitu terkejut melihat tiga mobil Toyota Fortuner dan satu mobil Aston Martin one-77. Disampingnya terdapat beberapa orang laki-laki yang berbadan gempal dan dua orang wanita yang juga tampak menyeramkan. Retha pun segera berlari kembali menuju kedalam rumah mencari suaminya meminta penjelasan kenapa ada orang-orang aneh didepan villanya.
__ADS_1