
Arga mulai mencium bibir Retha kembali. Menyesap dan menikmati setiap inchi bibir mungil Retha. Setelah dirasa cukup puas Arga menurunkan ciumannya di leher jenjang milik Retha. Retha pun menggeliat merasakan tubuhnya seperti disengat aliran listrik. Tak lupa dia meninggalkan banyak tanda kepemilikan disana.
Ciuman pun turun menuju bahu dan tulang selangkanya. Retha hanya bisa menutup matanya menahan geli dan juga rasa malu. Arga menikmati setiap lekuk tubuh Retha.
Arga semakin menurunkan ciumannya dibagian dada Retha. Entah dari kapan piyama Retha sudah terlepas semua kancingnya. Tak lupa Arga meninggalkan kissmark disana.
Tangannya tak mau tinggal diam, tangan kirinya masuk menyusup bagian punggung Retha dan meraih pengait bra. Tangan kanannya menyusup turun kebawah meraba-raba kepunyaan Retha yang masih rapi terbungkus celana dalam.
"Hei buka matamu sayang!" Ucap Arga lalu memberikan sebuah kecupan singkat dibibir Retha.
"Diamlah." Jawab Retha yang masih setia memejamkan matanya.
Arga pun terkekeh mendengar jawaban Retha apalagi sekarang pipinya sudah merona seperti kepiting rebus.
"Buka matamu, percaya lah aku hanya akan memberikanmu kenikmatan." Ucapnya lagi. Akhirnya Retha membuka matanya. Dilihatnya sang suami tersenyum sumringah diatas tubuhnya.
Arga sedikit memundurkan tubuhnya, dan dengan satu gerakan kini celana piyama milik Retha sudah turun. Dia semakin kesulitan untuk mengendalikan dirinya setelah melihat paha putih nan mulus dan gundukan milik istrinya.
Retha merasakan hawa panas yang menyelimuti dirinya dari atas kepala sampai kakinya. Tangannya menggenggam erat seprai dibawahnya. Sesekali matanya melirik Arga yang sedang bermain dibawah sana.
Dirasa sudah cukup Arga segera membuka penghalang terakhir yang digunakan Retha. Tampaklah pemandangan indah terpampang jelas memanjakan matanya.
Dengan perlahan dia mulai naik ke atas tubuh Retha kembali. Diberinya sentuhan-sentuhan yang mampu membuat Retha melayang-layang.
"Tahan sebentar." Ucapnya berbisik di telinga Retha.
Arga pun mengarahkan kejantanannya ke ***** Retha. Perlahan tapi pasti dia memasukannya. Terdengar suara rintihan dari mulut mungil Retha.
"Ahh pelan sakit...." Ucap Retha meringis menahan sakit.
"Iya aku akan melakukannya dengan pelan!"
Dan dengan satu hentakan keras kejantanan Arga mampu menerobos mahkota milik Retha. Wanita itu meringis menahan perih dibawah sana. Arga masih mendiamkan kejantanannya disana sampai Retha merasa lebih baik.
"Tenang lah, aku akan melakukannya secara perlahan." Ujarnya sembari mencium kening Retha. Perlahan Arga mulai memaju mundurkan pinggulnya.
"Ah.. Arga." Satu desahan lolos lagi dari bibir mungil Retha.
__ADS_1
"Mendesahlah sayang itu akan lebih terasa nikmat." Katanya dengan suara parau.
Retha pun mulai merasakan ada sesuatu yang ingin keluar tapi dia tidak mengetahui itu apa.
"Jangan ditahan keluarkan saja sayang." Kata Arga yang mengetahui mimik wajah Retha.
Akhirnya Retha pun melepaskan pelepasan yang pertama. Arga yang belum merasakan akan mencapai puncaknya dia kembali memaju mundurkan pinggulnya. Tak lupa dia menciumi leher Retha dan meninggalkan tanda kepemilikan sebagai tempat favoritnya sekarang.
"Aku mencintaimu sangat, jangan meninggalkanku!" Ucapnya parau disela-sela mereka melakukan hubungan suami istri.
Retha hanya mampu menjawab dengan anggukan, wajahnya terlihat lelah tapi tidak mengurangi kecantikannya. Setelah cukup lama Arga pun merasakan akan ada sesuatu yang keluar, akhirnya mereka melakukan pelepasan secara bersama.
Mereka melakukan berkali-kali hingga lupa waktu. Pagi mulai menjelang mereka baru selesai melakukanya. Tubuh Retha terkulai lemas menahan rasa lelah bercampur kantuk yang sudah menyerangnya dari tadi. Berbeda dengan Arga seolah-olah dia tidak merasakan lelah sedikitpun. Setelah melakukan pelepasan terakhir kali, Arga mencium perut istrinya sambil berkata "Cepat tumbuh besar sayang sayang Daddy.". Terlihat jelas dari mata Arga jika dia ingin segera memiliki keturunan. Arga pun menyelimuti tubuhnya dan tubuh Retha sampai batas leher. Dia juga menelantangkan tangannya untuk menjadi bantal isterinya. Arga memeluk Retha erat seakan-akan takut jika besok dia tidak bisa melihat lagi wajah Retha.
Matahari sudah sampai atas kepala cahaya masuk mengintip dari celah korden. Membuat sesosok wanita mengerjapkan matanya menyesuaikan cahaya yang masuk.
"Selamat siang istriku?" Kata Arga sambil mencium kening istrinya.
"Siang? memangnya ini sudah jam berapa?" Tanyanya sedikit kebingungan.
Retha yang mendengar itu pun sontak langsung menududukan dirinya. Dia lupa jika sekarang sedang tidak memakai sehelai benangpun.
"Hei kau ingin menggodaku lagi ya?" Tanyanya dengan menyunggingkan senyuman.
"Tidak, apa maksudmu?" Arga pun mengarahkan pandangannya pada dada Retha yang terbuka. Retha yang paham akan hal itu langsung menarik selimutnya kembali. Arga terkekeh melihat pipi Retha yang sudah merah merona.
"Dasar mesum, menyebalkan." Gerutu Retha.
"Kau tidak bekerja?" Tanya Retha kembali.
"Hari ini hari Minggu aku libur."
"Kenapa kau tidak membangunkanku, sebentar aku akan membuatkanmu sarapan." Retha hendak bangkit tapi dia duduk kembali merasakan bagian bawahannya terasa begitu nyeri.
"Aww." Pekiknya.
"Kenapa? kau mau kemana?" Tanyanya sedikit cemas.
__ADS_1
"Aku mau ke kamar mandi lalu membuatkanmu sarapan."
"Tidak usah repot-repot membuat makanan, kita bisa pesan makanan, aku akan membawamu ke kamar mandi." Setelah itu Arga langsung menggendong Retha ala bridal style menuju kamar mandi. Arga menurunkan Retha di dalam bathtub lalu mengisi penuh airnya.
"Tunggu disini, aku pesan makanan dulu!" Retha pun hanya mengangguk.
Tak lama kemudian Arga sudah kembali masuk kekamar mandi. Dia melepas celana piyamanya dan ikut masuk ke dalam bathtub. Retha pun terkejut dengan tingkah Arga.
"Kau mau apa?" Tanya Retha terheran-heran.
"Mandi bersama." Ucapnya santai sambil menuang beberapa aroma ke dalam bathtub.
"Tenanglah aku tak akan melakukan apa-apa, kita hanya mandi." Kata Arga menyakinkan Retha yang tampak masih ragu-ragu.
Kini Arga sudah berada dibelakang tubuh Retha, Arga menarik Retha agar menyandarkan kepalanya didada bidang miliknya. Kemudian Arga mulai menggosok tangan dan jemari Retha sesekali dia menciumi bahu dan punggung tangan milik Retha.
Setelah cukup lama akhirnya acara mandi pagi setengah siang itu selesai. Arga mengambil jubah mandi miliknya dan milik Retha. Dia menarik tali jubah mandi membentuk sebuah pita di bagian depan tubuh Retha. Retha hanya diam pasrah apa yang dilakukan oleh suaminya itu. Jika dia membantah pun hasilnya akan sia-sia apalagi sekerang perutnya sudah sangat lapar.
Arga menggendong Retha kembali untuk menuju walk on closed mencari baju untuknya dan Retha. Karena takut jatuh Retha pun mempererat pelukan tangannya dileher Arga dan menyilangkan kakinya dipinggang Arga.
Retha didudukan di sebuah kursi yang ada di walk in closed.
"Kau mau pakai baju yang mana?"
"Terserah kau saja."
"Baiklah".
Arga pun mengambil sebuah kaos lengan pendek dan celan hotpants untuk Retha. Tak lupa dia juga mengambilkan dalaman untuk istrinya. Lalu memakaikannya sambil sesekali mengecup bibir Retha yang membuat pemilik bibir terkejut.
"Mesum." Gerutunya Arga hanya terkekeh dengan umpatan yang Retha berikan.
Setelah selesai memakaikan baju untuk Retha dia juga mengambil kaos dan celana pendek untuk dirinya. Lalu dia menggendong Retha kembali dan didudukan didepan meja rias.
"Diamlah disini, aku akan mengambil makanan." Ucapnya sambil meninggalkan Retha.
Retha pun melihat dirinya dari pantulan cermin, dia meraba lehernya yang dipenuhi tanda kepemilikan. Dia pun hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepala mengingat kejadian tadi malam.
__ADS_1