
Kini dua wanita beda generasi itu sudah ada di depan sebuah butik yang lumayan terkenal di daerah tersebut. Dan Orin sendiri mempunyai alasan khusus kenapa dia harus sampai mengajak sang mommy, sebab menurutnya sang mommylah guru fashion terbaik miliknya.
"Ayo mom!" Ajak Orin kemudian keluar dari mobil dan diikuti oleh sang mommy. Mereka pun masuk ke dalam butik tersebut dan langsung disuguhkan oleh berbagai macam bentuk gaun. Tidak hanya gaun di butik tersebut juga menjual berbagai macam jas pria tentu saja dengan kualitas terbaik.
Orin benar-benar pusing dibuatnya, hampir seluruh ruangan ini diisi oleh berbagai macam gaun dengan bentuk dan warna yang berbeda. Ah rasanya Orin ingin berteriak sekeras-kerasnya melihat jajaran gaun yang membuatnya pusing tujuh keliling.
"Sayang udah nemuin yang cocok?" Tanya mommy Retha sambil memilih beberapa gaun yang mungkin akan cocok dan pas dengan tubuh putrinya.
"Belum mom, sekarang tiba-tiba saja kepalaku pusing melihat ini semua!" Keluh Orin pada sang mommy.
Akhirnya setelah menghabiskan beberapa jam untuk memilih gaun, Orin pun memutuskan untuk membeli sebuah gaun yang dirasa cocok dengan style-nya yang sedikit tomboy itu. Tak lupa dia juga membeli sepatu berhak tinggi untuk menunjang penampilannya tidak mungkin kan menggunakan sneakers yang biasa dia gunakan itu akan terlihat aneh.
*****
Malam pun tiba Orin segera bersiap-siap lebih awal dia ingin terlihat perfect malam ini. Masih ada waktu satu jam sebelum waktu yang ditentukan. Tapi Orin lebih memilih untuk berangkat sekarang saja lagipula hari ini adalah weekend tidak mungkin jika di ibukota tidak terjadi kemacetan daripada harus berlama-lama dijalan berkutat dengan berbagai macam mobil lebih baik dia menunggu di dalam kafe saja.
Orin pun turun kelantai bawah untuk berpamitan dengan kedua orangtuanya. Hari ini dia menggunakan gaun berwarna hitam putih tanpa lengan sebatas lutut dengan bunga-bunga kecil sebagai aksen. Tak lupa stiletto heel membungkus kaki jenjangnya.
"Mom dad, Orin berangkat dulu ya?" Pamit Orin kemudian mencium pipi Daddy dan mommynya bergantian.
"Jangan pulang malam-malam. Jangan bawa mobil sendiri minta antar mang Asep saja!"
"Siap paduka raja!" Jawab Orin dengan tangan menempel di dahi layaknya seorang prajurit yang memberi hormat pada atasannya.
__ADS_1
Orin pun berjalan dengan riang sesekali dia melantunkan lagu-lagu yang mampu mengungkapkan isi hatinya. Sebenarnya dia sendiri sedang gugup tapi dia harus mampu untuk menghilangkan rasa gugupnya tidak lucu kan jika tampak gugup di depan calon pacar sendiri.
Orin segera memanggil mang Asep yang sedang bercakap-cakap dengan penjaga lainnya di pos satpam. Hari ini dia menggunakan mobil yang berbeda dari biasanya yang dia gunakan. Hari ini dia menggunakan mobil sport milik Noel tentu saja dengan izin yang punya. Alasannya Orin ingin terlihat lebih klop dengan mobilnya yang warnanya sesuai dengan gaun yang dia gunakan sekarang.
"Ke kafe Dendelion ya mang!" Perintah Orin pada mang Asep yang mulai melajukan mobilnya.
"Baik non!"
Benar saja baru beberapa kilo dari rumah sudah tampak mobil yang mulai berlalu-lalang membanjiri jalanan ibukota. Untung saja Orin datang lebih cepat jadi dia bisa bersantai lebih dulu dan menenangkan hatinya yang sejak tadi berdetak tak karuan.
Sementara itu di tempat lain Marcel tengah bersiap-siap. Sampai saat ini dia masih kebingungan pakaian apa yang harus dia gunakan. Dia sudah mengeluarkan seluruh isi lemarinya tapi nampaknya tidak ada yang cocok. Diapun menggusar rambutnya yang masih sedikit basah ke belakang. Akhirnya dia pun memutuskan untuk melakukan panggilan video seseorang untuk meminta bantuannya.
"Halo ini masih pagi kenapa harus ganggu tidurku sih, ada apa?" Tanya pria di seberang sana yang masih menampakkan wajah lelahnya.
"Bantu apa?" Tanya pria itu lagi masih sambil berusaha untuk membuka matanya.
"Pilihin baju buat kencan hari ini!"
"Hahaha kau ini sembilan tahun lebih dewasa dariku kenapa malah memintaku untuk memilih baju yang cocok untuk kau pergi berkencan?"
"Sudahlah sekarang waktu yang tidak tepat untuk berdebat aku sudah tidak memiliki banyak waktu lagi!"
"Baiklah baiklah sekarang hadapkan kameranya ke pakaian yang kamu punya!" Sesuai perintah orang di seberang sana Marcel pun segera mengarahkan pakainya yang ada diatas ranjang tersebut.
__ADS_1
"Kenapa bajumu kabanyakan pakaian formal kayak gitu sih!"
"Ck sduah ku bilang jangan banyak mengejekku!" Kesal Marcel karena orang tersebut tak kunjung jua memberikan jawaban yang memuaskan.
"Sebenarnya lu mau pakai apa aja terserah sih, aku yakin dia nggak bakal mandang apa yang kamu pakai!"
"Aku tahu tapi tidak ada salahnya kan?"
"Baiklah sekarang coba kamu ambil kaos hitammu lalu pakai sama kemeja flanel warna hitam putih itu!" Marcel pun segera mematuhi perintahnya layaknya kerbau yang dicocol hidungnya.
"Gimana?"
"Nggak cocok, ganti kaos yang warna putih aja!"
"Sekarang gimana?"
"Wah ganteng banget udah nggak kayak om-om lagi!"
"Enak saja, siapa juga yang kayak om-om." Kesal Marcel kemudian mematikan panggilan tersebut secara sepihak dan dia bisa menebak bagaimana kesalnya pria itu terhadapnya.
Setelah dirasa cukup Marcel pun segera memacu kendaraannya memecahkan keramaian ibukota pada malam hari. Dia tidak sabar bertemu dengan gadis pujaannya yang sudah sejak lama mengisi relung hati terdalamnya.
Huftt. Marcel pun bisa bernafas lega dia sampai ke kafe Dendelion tepat waktu. Ya mungkin hanya telat beberapa detik saja. Setelah memarkirkan motornya dia pun segera masuk ke dalam kafe tersebut. Hari ini dia memutuskan untuk menggunakan motor sebab jika menggunakan mobil pasti membutuhkan waktu yang lama.
__ADS_1
Marcel segera menyapukan pandangannya mencari sosok yang menjungkirbalikan dunianya. Tak beberapa lama kemudian dia pandangannya terkunci pada sosok gadis yang tengah duduk menyamping darinya. Sosok itu sudah seperti poros bumi yang mampu menarik perhatiannya. Saat sedang mengamati sosok tersebut tiba-tiba saja pandangan mereka bertemu.