
Tanpa menoleh Orin pun sudah tahu siapa gerangan laki-laki yang berada dibelakangnya. Tapi dia sedikit terkejut, bukankah tadi bilang dia sibuk. Sudahlah, yang terpenting dia datang tapi Orin yang masih sedikit kesal akhirnya hanya menampakkan wajah datarnya.
"Selamat sayang kamu hebat!" Ucap Marcel lagi sebab sejak tadi Orin hanya diam tanpa membalas ucapannya.
Kini gadis itu membalikkan badannya menatap datar laki-laki yang menjulang tinggi dihadapannya. Sebenarnya dia rindu sebab beberapa hari tak bertemu, tapi kebohongan yang dilakukan Marcel mampu membuatnya kesal.
"Terimakasih!" Jawabnya kemudian mengambil sebuket bunga garberra yang dibawa oleh Marcel. Marcel sendiri sengaja memilih bunga garberra untuk diberikan kepada Orin sebab bunga tersebut melambangkan cinta yang tak akan terpisahkan, seperti cinta mereka yang tak akan terpisahkan meskipun godaan selalu datang menghampiri silih berganti.
Orin kembali membalikkan badannya memunggungi Marcel yang sejak tadi tidak bisa mengalihkan pandangannya dari wajah cantik Orin apalagi dengan kebaya yang pas melekat pada tubuhnya.
"Marah padaku hmm?" Tanyanya. Kini Marcel berdiri didepan Orin. Sementara teman-temannya yang lain sibuk berfoto-foto dan orang tuanya sendiri sibuk dengan urusan mereka yaitu berbincang-bincang dengan wali murid yang lainnya.
"Tidak hanya kesal saja!" Jawab Orin dengan jujur dan itulah salah satu hal yang disukai oleh Marcel. Orin selalu jujur dan apa adanya.
"Kesal?" Godanya sambil mengerutkan keningnya, berpura-pura tidak mengerti kenapa Orin bisa kesal.
"Sudahlah, kembali saja jika memang masih sibuk!" Katanya gadis itu hendak pergi dari sana tapi dengan cepat Marcel meraih pergelangan tangan Orin.
__ADS_1
"Maafkan aku!"
"Maaf untuk apa?"
"Maaf sudah membohongimu sebenarnya aku tidak ada meeting hari ini!" Jawabnya sambil tersenyum tanpa dosa.
"Sudah kuduga!" Gumamnya kemudian segera mengalihkan pandangannya ketika mata mereka tak sengaja bertemu. Bagaimanapun juga Marcel adalah orang yang dicintai oleh Orin mana mungkin gadis itu benar-benar marah padanya apalagi hanya karena hal sepele seperti ini.
"Maafkan aku, sebagai permintaan maaf ku bagaimana kalau nanti malam kita makan malam bersama untuk merayakan kelulusanmu?"
"Dimana?" Tanya Orin antusias. Benar bukan jika Orin tidak mampu untuk berlama-lama kesal dengan Marcel. Begitu lah cinta, mereka tidak akan berdaya jika dihadapan orang dicinta.
"Di restoran Quen, ajak yang lainnya juga!"
"Iya ajak semua keluargamu dan juga sahabat-sahabatmu lainnya!"
"Kenapa harus mengajak mereka? Aku kira kita akan melakukan dinner romantis seperti pasangan yang lainnya!"
"Lain kali aku akan mengajakmu dinner di tempat yang paling romantis tapi untuk nanti malam aku mau kita merayakan kebahagiaanmu bersama dengan yang lainnya, bukankah kita harus berbagi kebahagiaan dengan yang lainnya?"
__ADS_1
"Baiklah aku mengerti,"
"Eh pak Marcel ternyata datang juga?" Tanya Aneta sedikit terkejut melihat mantan gurunya datang. Bukankah tadi pagi Orin mengatakan jika pak Marcel tidak bisa datang bahkan sampai temannya begitu kesal dan menekuk wajahnya sedari pagi.
"Iya, mana mungkin aku melupakan hari yang paling membahagiakan dari orang terkasihku!" Jawabnya sambil mengerlingkan matanya pada Orin dimana membuat gadis itu tersipu malu bahkan kini kedua pipinya sudah memerah menahan malu karena kata-kata yang diucapkan Marcel barusan.
"Tapi seharusnya bapak datang sejak pagi! Asal bapak tahu sejak tadi ada seorang gadis yang sangat menyedihkan. Wajahnya lebih buruk dari uang seribuan yang disimpan lama didalam saku!" Orin yang mendengar itu pun mendelik kesal pada Aneta. Día tahu sebenarnya dirinya lah yang dimaksud oleh Aneta.
"Benarkah?"
"Tidak benar. Sudah sana pergi saja lu Net! Ganggu suasana aja!" Usir Orin pada sahabatnya itu. Aneta pun mengikuti ucapan Orin, gadis itu pergi sambil mengerucutkan bibirnya. Tapi sebelum pergi Marcel mengatakan jika dirinya mengundang Aneta untuk makan malam bersama dengan Orin dan teman-temannya yang lain.
"Kita ke mommy dan Daddy dulu yuk?" Ajak Marcel kepada Orin sebab sejak datang Marcel belum sempat menyapa kedua calon mertuanya itu. Orin pun menganggukkan kepalanya, sepanjang perjalanan mereka tak henti-hentinya menyapa orang-orang yang mereka temui. Banyak guru-guru yang juga menyala Marcel, meskipun sepak terjang Marcel di sekolah itu hanya sebentar tapi sudah mampu membuat orang-orang segan padanya apalagi sekarang dia sedang menjalin hubungan dengan putri dari keluarga Winata. Salah satu keluarga yang disegani di kota Jakarta bahkan tidak hanya di kota Jakarta saja, hampir seluruh Indonesia mengenal keluarga Winata.
"Siang mom, dad!"
"Eh Marcel ternyata datang juga, tadi kata Orin tidak bisa datang?"
"Dia bohong mom, dasar menyebalkan!" Gerutu Orin ketika mengingat Marcel yang membohonginya. Sementara itu Marcel hanya bisa menahan senyumnya melihat Orin yang ternyata berharap akan kedatangannya.
__ADS_1
Mereka pun berbincang-bincang sebentar setelah itu memtuskan untuk pulang dan beristirahat sebab nanti malam adalah malam yang panjang untuk Marcel. Bagaimanapun juga ini pertama kalinya dia akan melakukan hal ini dalam hidupnya dan apalagi dia tidak memiliki seorang keluarga untuk sekedar mendampinginya ataupun memberinya sebuah semangat.
Hidup sebatang kara yang tidak mempunyai keluarga sebenarnya memang membuatnya sangat sedih. Dari kecil dia tidak pernah merasakan sentuhan hangat dari seorang ibu. Dari kecil dia hanya mendapatkan perhatian dari nenek yang merawatnya setelah neneknya meninggal dia pun mendapat curahan kasih sayang dari mommy Retha dan juga Orin, gadis yang sudah menjungkirbalikkan hidupnya.