
Marcel benar-benar merutuki kekesalannya pada kepala sekolah itu. Gara-gara kepala sekolah yang memanggil dirinya dan membicarakan hal yang tidak penting menurutnya, membuat dirinya terlambat datang ke kantin.
Tadi saat bel istirahat berbunyi, Orin menghubunginya jika dirinya pergi ke kantin. Sementara itu Marcel akan menyusulnya dan mereka akan membuat sedikit drama ala-ala bertemu karena tidak sengaja. Tapi rencananya gagal karena kepala sekolah wanita yang sedikit genit menurutnya itu. Kepala sekolah memanggil Marcel untuk memberi tawaran memperpanjang masa abdinya di sekolah tersebut. Tentu saja dengan sebisa mungkin Marcel menolak hal tersebut. Masa abdi yang awalnya berakhir sampai akhir tahun ajaran ini akan diperpanjang sampai beberapa tahun lagi. Bagaimana mungkin dirinya saja beberapa bulan ini sudah sedikit kewalahan karena harus mengurus beberapa usahanya yang berkembang pesat itu. Apalagi harus ditambah dengan tugas mengajar. Huft. Padahal dirinya berada di sekolah tersebut karena Orin, lalu sebentar lagi Orin akan lulus. Jadi kenapa dia harus tetap berada disana?
Ah sekarang rasanya dia ingin sekali menarik kepala bocah yang sudah berani dengan lancangnya menyentuh miliknya. Mungkin jika dirinya tidak ingat sedang berada di lingkungan sekolah dan statusnya yang sebagai guru itu dia sudah menghajar habis-habisan bocah bau kencur itu.
Marcel tetap berdiri di tempatnya, menyaksikan pemandangan yang sebenarnya menusuk ulu hatinya. Dia masih setia berdiri disana sebab dia ingin tahu reaksi dari Orin. Marcel pun tersenyum puas, ketika Orin langsung menghindari sentuhan Alex.
Awalnya dia tidak yakin jika hubungannya dengan Orin akan berjalan selancar ini. Perbedaan usia yang cukup jauh membuat dirinya sedikit pesimis. Orin mempunyai wajah ayu tak ayal jika banyak pria yang jatuh cinta padanya. Lalu bagaimana dengan dirinya? Usianya sudah bisa dikatakan matang untuk memulai sebuah hubungan ke jenjang yang lebih serius.
Sementara itu Orin merasa semakin tidak nyaman dengan keberadaannya sekarang. Dengan tergesa-gesa dia pun segera mengajak Aneta kembali ke kelasnya setelah mengucapkan pamit pada Alex. Alex sendiri tersenyum kecut Orin benar-benar tidak menganggapnya lebih dari sekedar teman. Alex jadi curiga apakah Orin sudah memiliki kekasih atau orang yang disukai hingga dirinya berkali-kali ditolak. Tetapi setahu Alex Orin tak pernah dekat dengan laki-laki manapun kecuali kakak laki-lakinya.
"Huft!" Orin menghembuskan nafasnya kasar ketika sudah sampai di kelas. Dia mulai mengatur nafasnya yang dirasa menyesakkan dada itu. Sekilas tadi dia melihat prianya memandang kearahnya. Entah bagaimana pandangan itu Orin tak mampu mengartikannya.
"Lu kenapa sih Rin kayak orang ketahuan selingkuh aja!" Kesal Aneta. Bagaimana tidak kesal bahkan dia belum menghabiskan baksonya tapi Orin sudah menariknya pergi dari tempat itu.
__ADS_1
"Apaan sih lu! Gue risih aja sama si Alex lagian kan kalau nanti si lampir datang bisa heboh tuh kantin!" Jawabnya sambil mengibaskan tangannya ke wajahnya.
"Tapi kan gue makannya belum selesai Rin, ih nyebelin banget sih lu!"
"Ya udah lah nanti gue ganti traktir lu makan diluar!"
"Beneran?" Tanya Aneta dengan mata berbinar. Dia sangat tahu jika sahabatnya itu tidak pernah ingkar janji.
"Iya lah mana ada gue bohongin lu!"
Orin membulatkan matanya ketika melihat pesan yang baru masuk di ponselnya. Bukan pesan saja yang membuatnya melongo tapi juga foto yang orang tersebut kirim padanya.
from: My brother ❤️
Aku tunggu dirumah adikku tersayang.
__ADS_1
Isi pesan dari Noel tak lupa dengan foto yang menunjukkan dirinya tengah memeluk sang mommy. Dengan segera Orin pun menghubungi kakaknya tapi saat bersamaan guru sejarah tersebut masuk kedalam kelasnya dimana membuat dirinya mendengus kesal.
Orin benar-benar tak bisa menyerap pelajaran yang guru jelaskan dengan baik. Gadis itu tak henti-hentinya tersenyum sembari menatap layar ponselnya dimana membuat sahabatnya yang sejak tadi memperhatikannya tampak mengerutkan keningnya.
"Lu kenapa senyam-senyum sendiri?"
"Kak Noel pulang!" Ucapnya sambil menunjukkan foto Noel yang tengah memeluk sang mommy melepaskan rindu dengan sebuah pertemuan.
"Ya ampun dari dulu sampai sekarang kenapa kak Noel masih ganteng aja sih!" Ujarnya sambil menyerobot ponsel milik Orin.
"Eh tapi bentar deh! Lu kagak tahu kalau kak Noel pulang?" Orin menggelengkan kepalanya sebab dirinya memang benar-benar tidak tahu. Baik mommy dan Daddynya tidak mengatakan kedatangan Noel. Bahkan mereka terkesan menutupi kedatangannya. Ah rasanya Orin benar-benar ingin membuat perhitungan dengan mommy dan daddynya setelah ini.
"Jangan-jangan kak Noel mau dijodohin ya Rin?"
"Nggak mungkin lah." Jawab Orin dengan cepat. Dia tahu betul kakaknya itu sudah memiliki kekasih sendiri yaitu teman sekolah menengah atasnya. Lagipula orangtuanya juga tidak pernah membatasi hubungan percintaan anak-anak mereka.
__ADS_1
Tentu saja awalnya Orin marah pada Noel karena lelaki itu memiliki sebuah hubungan dengan wanita lain. Orin tidak mau kasih sayang kakaknya padanya harus terbagi dengan orang lain. Anggap saja Orin egois karena hanya ingin perhatian Noel jatuh pada dirinya. Tapi dengan kegigihan Noel memberikan pengertian-pengertian pada Orin bahwa kasih sayang yang Noel berikan padanya akan tetap sama akhirnya wanita itu luluh.