Istri Tuan Arga

Istri Tuan Arga
S2-episode 68


__ADS_3

Orin pun segera merogoh kantong jas sekolahnya, dan


tepat saat itu Marcel menghubunginya terlebih dahulu. Tanpa basa-basi dia segera menggeser tombol hijau dan menerima panggilan tersebut.


"Halo!"


"Kau sedang berada dimana?" Tanya seseorang diseberang sana dengan nada khawatir. Bagaimana tidak khawatir, hubungannya dengan Orin tiba-tiba mencuat begitu saja.


Pagi tadi Marcel sudah bersiap-siap untuk berangkat ke Bandara sebab hari ini dia akan melakukan pembukaan cabang kafe pertamanya yang ada di luar pulau Jawa yaitu Bali. Rencananya hari ini dia berangkat dengan Rendy salah satu manager yang akan dia tempatkan disana. Selain manajer, Randy juga sahabat Marcel sejak pria itu di sekolah barunya. Dan selama ini pula Rendy juga salah satu pekerjanya yang kompeten dan hasil kerjanya pun sangat memuaskan.


Karena berita tentang hubungannya dengan Orin yang tiba-tiba timbul, Marcel memtuskan untuk tidak jadi pergi ke Bali. Padahal dia sudah merencanakan hal ini untuk sekedar meliburkan dirinya sendiri apalagi Orin akhir-akhir ini menghindarinya tanpa memberitahu sebabnya. Marcel sangat memaklumi sikap Orin, Orin masih belum dewasa dan dalam hubungan percintaan gadis itu masih sangat awam. Dan dengan adanya berita ini, Marcel benar-benar takut jika akan berdampak kembali dengan psikologisnya.


"Aku sedang ada di sekolah!"


"Sekarang pergilah ke kafe ku, jangan masuk untuk hari ini! Aku akan menyelesaikan semuanya terlebih dahulu setelah itu barulah masuk ke sekolah lagi. Aku akan mengirim sopir untuk menjemputmu!" Orin pun hanya menganggukkan kepalanya meskipun tahu jika Marcel tidak mengerti.


"Baiklah!" Jawabnya pasrah, mau bagaimana lagi dia sendiri tidak tahu jalan keluar apa yang akan dia ambil. Sungguh dia tidak akan pernah menyangka hal ini akan terjadi.

__ADS_1


"Ikut gue! Gue kayaknya tahu ini perbuatan siapa!" Desisnya kemudian menarik kedua tangan sahabatnya untuk mengikutinya. Sementara itu Felys sejak tadi tidak berhenti-hentinya untuk bertanya tentang hubungannya dengan Marcel.


"Felys diamlah sebentar, setelah ini Aneta akan menjelaskan semuanya padamu!" Ucapnya sembari tetap berjalan menuju salah satu ruang kelas.


Tanpa basa-basi Orin segera masuk ke dalam kelas tersebut. Diamatinya ruangan kelas yang sudah tampak ramai itu. Akhirnya padangan matanya terjatuh pada sosok laki-laki yang sedang duduk di atas meja dengan beberapa teman-temannya itu.


"Ikut gue!" Ucap Orin lalu menarik tangan laki-laki tersebut untuk meninggalkan ruang kelasnya. Sementara si lelaki tampak bertanya-tanya dengan apa yang dilakukan Orin. Tanpa Orin dan laki-laki itu sadari, setelah kepergian mereka tampak seorang gadis sedang menyeringai. Tampaknya saat ini dia seperti mendapatkan doorprize besar.


"Kita mau kemana Rin?" Tanya Alex tak mengerti sebab sejak tadi Orin hanya menarik tangannya tanpa mengatakan apapun sepanjang perjalanan dimana membuat benaknya bertanya-tanya.


Mereka pun masih tetap berjalan dengan Orin sebagai pemimpin jalannya. Sampai mereka sampai di taman belakang sekolah. Orin segera melepaskan tangannya pada lengan Alex dan tiba-tiba saja...


"Lo kelewatan Lex, gue benci sama lho!" Teriak Orin tepat di depan wajah Alex. Alex pun terkesiap dengan tamparan Orin, dia tahu betul Orin bukankah gadis yang ringan tangan tapi kenapa hari ini dia menamparnya. Dan apalagi itu dia mengatakan jika dirinya kelewatan? Padahal dia tidak melakukan apapun yang memberatkannya tapi dia bilang kelewatan, memangnya apa yang kelewatan Alex sama sekali tak mengerti.


"Rin lu jelasin, jangan langsung nuduh gue kayak gini! Gue beneran nggak tahu apa yang lo maksud?" Tanyanya sembari mengusap pipinya yang sedikit kebas, ternyata gadis yang sedang marah tenaganya menakutkan juga.


Orin segera melempar foto-foto yang tadi dia ambil di Mading. Melempar foto-foto tepat di depan wajah Alex dan boom pria itu sangat terkejut. Sebentar kenapa ada yang memiliki foto ini selain dirinya? Padahal dia sudah menyimpan foto ini dengan baik.

__ADS_1


"Lu gila Lex, lu nggak mikir apa yang bakal pihak sekolah lakukan setelah mereka lihat foto itu ha?"


"Gue benci banget sama lu dan gue benci cowok yang ingkar janji kayak lu! Anggap aja kita bukan temen." Ucapnya lalu pergi meninggalkan Alex yang masih mematung, mencerna apa yang dikatakan oleh Orin.


"Rin tunggu! Gue rasa lu salah paham sama gue! Gue nggak lakuin ini!" Teriaknya sembari menarik lengan Orin agar gadis itu mendengar penjelasannya. Namun dengan kasar Orin menepis cekalan tangan Alex, dia benar-benar sudah muak dengan Alex. Padahal dia sudah menuruti apa yang laki-laki itu ucapkan, tapi ternyata Alex hanyalah manusia biasa yang bisa khilaf karena keadaan, pikirnya.


"Rin tolong dengerin gue kali ini! Gue berani sumpah demi apapun kalau bukan gue yang ini semua!"


"Bukan lu? Lalu siapa? Disini yang punya foto-foto itu cuma lu, brengsek! Gue benci banget sama lu!" Kata Orin lalu berlari meninggalkan Alex yang masih memanggilnya. Orin tidak menghiraukan panggilan Alex, labuh baik dia pergi dari sini sebelum hal-hal buruk terjadi. Dia tidak yakin jika dirinya akan mampu mengatasi jika ada bullying yang terjadi padanya nanti sebab psikologisnya yang memang kurang baik.


Sementara itu Alex benar-benar dibuat kacau dengan hal ini. Dia merasa jika tidak melakukan hal-hal itu tapi maupun bagaimana foto-foto tersebut yang ada di ponselnya. Arrgghh Alex harus melakukan sesuatu untuk mengembalikan kepercayaan Orin padanya sebab memang bukan dia pelakunya.


Dilain tempat seorang pria tampak memijat pelipisnya, sedikit pusing dengan beberapa kejadian terakhir ini. Sekarang dia tahu mengapa Orin menjauhinya, sebab gadis itu tidak mau jika orang tersebut mengunggah foto mereka. Tapi tunggu sebentar siapa memangnya yang memiliki fotonya dengan Orin. Setelah ini dia harus mencari tahu.


Laki-laki tersebut pun keluar dari kamarnya sembari membawa map di sebelah tangannya. Untung dia tahu kabar ini sejak semalam, entah bagaimana nasib Orin jika dia tidak segera mengetahuinya. Sekarang yang harus dia lakukan adalah menyelamatkan reputasi gadis itu lalu tentang dirinya itu adalah hal gampang. Lagipula dia sudah mempersiapkan rencananya sebelum hal ini terjadi. Anggap saja dia sudah menyediakan payung sebelum hujan.


"Tidak sarapan dulu pak?" Tanya asisten rumah tangga Marcel ketika pria itu menuju ke pintu utama.

__ADS_1


"Tidak bi, Aku harus buru-buru!" Jawabnya kemudian meninggalkan rumah dan memasuki mobilnya. Hari ini dia tidak memakai pakaian gurunya, sebab hari ini memang seharusnya dia mengambil cuti yang telah diajukan beberapa hari yang lalu. Dengan setelan jas berwarna hitam serta kemeja berwarna army menambah kesan maskulin dan tegas pada dirinya. Jika biasanya dia hanya memakai kemeja dengan celana bahan sebagai baju kebesarannya untuk mengajar.


"Dasar bocah nakal masalah sebesar ini tidak mau cerita padaku!" Gumamnya sembari melajukan mobilnya meninggalkan rumah yang baru beberapa tahun ini dia tempati.


__ADS_2