
"Maaf anda bisa tunggu diluar kami akan memeriksa keadaannya. Dan ini tas dari nona kecil tersebut!" Seorang perawat memberikan tas kecil Orin pada Angga.
"Tolong rawat dia sebaik mungkin, aku tidak ingin hal buruk terjadi padanya!" Pinta Angga pada perawat yang mana mendapatkan anggukkan kepala sebagai jawaban dari sang perawat. Setelah itu perawat tersebut kembali masuk ke dalam ruangan UGD.
Sementara itu Daddy Arga benar-benar murka pada orang-orang yang menculik putrinya. Dia merasa sangat di permainkan dengan mereka. Apalagi sekarang! Apa-apaan ini kenapa titik koordinatnya malah kembali lagi! Batinnya.
"Tuan itu sepertinya mobil yang membawa nona kecil tuan!" Tunjuk pak Yas pada mobil berwarna abu-abu tersebut.
"Kau yakin?" Tanya Daddy Arga meyakinkan.
"Sangat yakin tuan, saya hafal bentuk mobilnya. Dan saya yakin itu adalah mobil yang mereka tumpangi."
"Baiklah kalau begitu kita kesana terlebih dahulu!" Pak Yas pun menepikan mobilnya ke mobil berwarna abu-abu itu. Daddy Arga pun keluar dengan segera, tangannya sudah gatal ingin menghajar orang-orang yang ada didalamnya itu.
"Benar tuan, mereka yang membawa nona kecil!" Ucap pak Yas ketika sudah memeriksa isi mobil tersebut. Dia sangat yakin sebab orang-orang yang menculik nona kecilnya juga memakai pakaian yang sama dengan orang-orang tersebut.
"Tapi kenapa Orin tidak ada?" Tanya Daddy Arga setelah mengecek keseluruhan isi mobil tersebut namun tak menemukan putrinya. Daddy Arga pun menyugar rambutnya dengan kasar. Rintik-rintik hujan masih turun menambah suasana mencekam di sana.
Tak lama setelah itu, beberapa mobil pun juga sampai disana. Tampak beberapa orang laki-laki dengan setelan hitam-hitam keluar dari iring-iringan mobil tersebut.
"Selamat malam tuan?" Sapa salah satu mereka yang bisa dibilang pentolan dari mereka.
"Hmm. Orin sudah tidak ada didalam tapi mereka semua masih pingsan waktu aku datang. Atau jangan-jangan Orin dibawa pergi anak buah mereka yang lain?"
"Jo cepat bawa kemari mereka semua!"
Laki-laki yang dipanggil Jo beserta beberapa temannya itupun membawa tiga penculik tersebut kehadapan Daddy Arga. Hawa dingin dari hujan mengalahkan aura dingin yang terpancar dari Daddy Arga.
"Cepat katakan dimana putriku?" Tanya Daddy Arga dengan kesal. Untung saja dia masih bisa mengendalikan dirinya jika tidak mungkin sudah membunuh mereka semua ketika melihat putrinya sudah tidak ada disana.
__ADS_1
"Maaf tuan kami tidak tahu!" Jawab salah satu dari mereka. Memang benar adanya mereka sendiri sudah tidak ingat dimana anak kecil tersebut.
"Siapa yang menyuruhmu?" Tanyanya lagi sekarang Daddy Arga sudah membawa pistol ditangannya siap untuk menarik pelatuk lalu memuntahkan timah panasnya.
Dari mereka tidak ada yang membuka suara, sama-sama mengunci mulut mereka dengan rapat-rapat. Daddy Arga pun semakin dibuat geram, rasanya tingkat kesabarannya sudah habis. Tapi bunyi ponsel salah satu dari mereka mengalihkan atensi Daddy Arga.
Buru-buru penculik tersebut untuk mematikan ponselnya, namun belum juga sempat mematikan ponsel miliknya ponsel tersebut sudah di rebut oleh salah satu dari anak buah daddy Arga.
"Dari bos mereka tuan!"
"Cepat angkat dan besarkan suaranya!"
"Hallo bagaimana? kenapa kalian lama sekali? bukankah seharusnya kalian sudah tiba disini he?" Tanya seorang laki-laki di seberang sana. Daddy Arga bisa memastikan jika itu adalah dalang di balik penculikan anaknya.
"Wow aku baru tahu ternyata tuan Subroto selain memiliki perusahaan kotor juga melakukan tindakan kriminal, ck ck ck!"
"Selain money loundry ternyata kau juga terlibat penculikan."
"Hey tua Bangka anak buahmu sekarang dibawah kendaliku. Kau pikir seberapa hebat dirimu beraninya melakukan konspirasi denganku ha?" Marah Daddy Arga pada orang bernama Subroto tersebut.
"Ku kira kau sedang menikmati hari tuamu dan menunggu ajalmu, tapi ternyata aku salah. Kau orangnya tidak sabaran ya? hingga meminta aku untuk segera mencabut nyawamu. Tenang saja pak tua, kau menemukan orang yang tepat dengan senang hati aku akan mengabulkan permintaanmu itu. Kau akan mati dengan perlahan. Sekarang manfaatkan waktumu yang tinggal beberapa jam itu untuk membuat kenangan manis dengan istri, anak dan juga cucumu. Buat mereka terkesan dengan kakeknya yang baik ini!"
Setelah mengatakan itu Daddy Arga pun membuang ponsel tersebut. Berani-beraninya mereka bermain kotor dengannya. Dia tahu dunia bisnis memang kejam, mereka tidak mengenal teman, saudara bahkan keluarga.
"Kirim anak buahmu ke rumah Subroto, habisi secara perlahan. Sakiti setiap harinya aku tidak ingin dia mati terburu-buru. Biarkan dia mati secara perlahan." Perintah Daddy Arga pada anak buahnya. Setelah mendapatkan perintah tersebut mereka pun segera melaksanakan tugasnya.
"Mereka bawa saja ke markasmu Jo! Lakukan hal yang sama, sampai mereka meminta untukmu segera membunuh mereka saja!"
"Baik tuan." Jawab Jo dengan gembira. Tentu saja dirinya gembira setelah sekian lama tidak mempunyai permainan yang menyenangkan dan sekarang dia mendapatkan itu.
__ADS_1
"Bagaimana dengan Orin? Apakah mereka sudah menemukan dimana putriku?"
"Maaf tuan tapi sepertinya ponsel nona kecil tidak aktif jadi mereka membutuhkan waktu lebih lama lagi."
Daddy Arga pun mendesah kesal, dia sudah tidak bisa membiarkan putrinya terlalu lama di luar rumah dalam keadaan seperti ini. Akhirnya Daddy Arga pun memutuskan untuk menyusuri setiap jalanan yang ada kemungkinan Orin pun belum jauh juga.
Sementara itu Angga pun dirundung gelisah. Bagaimana tidak dirinya tidak mempunyai uang sepeser pun lalu bagaimana caranya membayar biaya rumah sakit gadis kecil tersebut.
"Eh ini kan tas milik gadis itu ya? Mungkin disini ada petunjuknya." Angga pun segera membuka tas tersebut.
"Isinya cuma ponsel sama kertas apa ini? Mana ponselnya juga mati lagi." Monolog Angga pada dirinya sendiri. Sebisa mungkin dia harus segera menemui keluarga Orin lagipula mereka pasti juga mencarinya.
"Eh ini ada kartu nama! Semuanya namanya sama sih. Arga Denis Winata CEO Haidar group. Ah mending ku hubungin ini orang aja kalo kalo bener ini bapaknya!"
Angga pun segera meraih ponselnya yang ada di saku belakang celananya. Dia segera menekan beberapa digit angka sesuai yang ada di kartu nama tersebut.
Sudah panggilan ke tiga tapi orang yang dihubungi tak kunjung kunjung jua mengangkat panggilan tersebut.
Dilain tempat Daddy Arga kesal dengan nomor baru yang sejak tadi menghubunginya. Dia benar-benar akan membunuh orang tersebut jika tidak mengatakan berita yang penting.
"Hey siapa kau? Kubunuh kau jika tidak mengatakan hal penting!" Teriak Daddy Arga pada penelepon tersebut.
Sementara itu Angga menjauhkan ponselnya dari telinganya mendengar teriakkan dari orang diseberang sana. Nyalinya sedikit ciut mendengar teriakkan dari orang tersebut.
"Emm maaf paman, apa anda sedang mencari gadis kecil?" Tanya Angga dengan takut-takut. Dia benar-benar takut jika orang tersebut benar-benar membunuhnya.
"Katakan siapa kau? Ku lenyap kan jika kau berani-beraninya menyentuh putriku!"
"Maaf paman sepertinya anda salah faham, saya yang membawa putri anda ke rumah sakit. Saya akan mengirim alamatnya pada anda!" Kata Angga dengan takut. Dia benar-benar tidak habis pikir jika orang tersebut benar-benar melenyapkan hidupnya.
__ADS_1