Istri Tuan Arga

Istri Tuan Arga
91


__ADS_3

Disini Retha dan Arga merasakan kebahagiaan yang amat sangat apalagi beberapa bulan lagi mereka akan berjumpa dengan sang putri tercinta. Tapi berbeda dengan Frans suami Ivanka. Dia harus menelan pil pahit dalam hidupnya.


Tadi setelah melahirkan putranya Ivanka dikabarkan telah meninggal dunia akibat pendarahan yang cukup hebat.


Kematian Ivanka merupakan hal yang tak pernah diduga sama sekali oleh Frans. Dia tidak tahu jika pernikahannya dengan Ivanka hanya bertahan untuk enam bulan.


Sejatinya pria diciptakan untuk menjadi seseorang yang kuat dalam keadaan apapun. Tapi banyak juga para pria yang menangis rapuh ketika melihat orang terkasih terbujur kaku dengan nyawa dan raganya yang sudah terpisah.


Disinilah Frans sekarang, berdiri sembari mengelus sayang seluruh wajah mendiang istrinya. Dia tak kuat untuk menitikkan air matanya. Dia menangis harus kehilangan orang tersayang.


Terkadang dia berpikir, Tuhan sangat tidak adil. Ketika dia sudah mendapatkan kebahagiaan dunia melalui orang tercinta tapi dengan mudahnya Tuhan mengambil nyawa orang tercintanya.


"Sayang bukankah kau dulu sudah berjanji untuk tidak meninggalkanku dan putra kita? Tapi kenapa kau berbohong?"


"Aku tahu kau wanita kuat, mental dan tekadmu sekuat baja tetapi kenapa sekarang kau malah meninggalkan kita?"


"Maaf mungkin aku belum bisa menjadi suami yang sempurna untukmu, masih banyak kekurangan yang aku miliki."


"Tapi aku berjanji aku akan selalu menyayangi putra kita dan aku menjamin dia tidak akan kekurangan barang sedikitpun."


Begitu banyak kata yang sebenarnya ingin Frans curahkan tapi terlalu lama berada didekat mendiang istrinya membuatnya tertekan. Dia memilih untuk keluar duduk di bangku taman sembari meratapi nasibnya yang buruk ini.

__ADS_1


Dia berencana ingin membawa jenazah Ivanka kembali ke Indonesia. Tapi dia mengurungkannya, biayanya terlalu mahal.


Kini Frans sungguh membenci keluarganya sendiri. Keluarga yang sudah membuat orang terkasihnya meninggal. Dia tidak tahu sebenarnya terbuat dari apa hati nurani mereka atau mungkin mereka sudah kehilangan hati nuraninya.


Flashback...


Kala itu Ivanka tengah menonton tv di apartemennya. Sedangkan Frans sudah berangkat bekerja. Setelah kegiatan bersih-bersih rumah biasanya dia akan melakukan senam hamil sendiri di rumah ataupun melakukan kegiatan lain agar mempermudah persalinannya nanti.


Tapi hari ini Ivanka sedikit merasakan lelah mungkin karena kehamilannya yang sudah masuk tremister ketiga atau kata lain sebentar lagi melahirkan.


Dia mencoba meluruskan kakinya ke samping sambil tangan satunya mengganti chanel tv yang bisa menarik perhatiannya. Tak lupa dia juga menyiapkan sepiring biskuit ibu hamil diatas meja.


Frans tak pernah lupa akan kebutuhan yang Ivanka perlukan selama hamil. Dan terkadang itu membuatnya merasa tidak enak. Bagaimanapun juga anak yang sedang dia kandung bukanlah darah daging Frans melainkan anak pria lain yang entah siapa dia juga tidak tahu.


"Ya tunggu sebentar!" Ucap Ivanka perutnya yang sudah membesar membuatnya sedikit kesulitan untuk berdiri setelah duduk.


Saat sampai di pintu dengan segera dia membukanya, alangkah terkejutnya ternyata yang datang adalah ibu mertua dan istri dari kakak iparnya. Ivanka tersentak sebentar untuk apa mereka datang kemari? Bukankah mereka sangat membencinya. Dulu saat mereka Frans dan Ivanka menikah saja mereka tidak datang. Dan sekarang tanpa aba-aba mereka datang sendiri, pikiran buruk mulai mendatangi Ivanka. Tapi dia juga menepisnya, kehamilannya tidak boleh sampai terganggu karena pikiran-pikiran negatif yang dia buat sendiri.


"Silahkan masuk ma, kak!" Kata Ivanka mempersilahkan dua wanita itu untuk masuk. Ibu mertuanya mungkin sudah memasuki usia enam puluh tahun tapi kerutan diwajahnya masih tak begitu nampak. Sedangkan istri dari kakak iparnya mungkin usianya tak jauh berbeda dengannya. Karena kakak dari Frans menikah diusia yang matang sedangkan Frans bisa dibilang menikah di usia yang terbilang masih muda untuk seorang laki-laki.


Ivanka bisa menebak dari setelan yang mereka gunakan bukanlah dari sembarangan. Bisa dia pastikan jika ditotal semua yang mereka gunakan hari ini bisa untuk membeli sebuah mobil.

__ADS_1


"Tidak perlu, aku kesini hanya untuk menawarkan kerja sama denganmu saja!" Jawab Hera ibu dari Frans dengan ketus.


"Kerja sama?" Beo Ivanka yang tidak mengerti dengan apa yang diungkapkan oleh mertuanya itu.


"Ya kerja sama yang pasti akan sangat menguntungkanmu!" Jawabnya masih dengan nada sinis yang amat kental. Sebenarnya Ivanka merasakan amarahnya sudah sampai pucuk ubun-ubun jika saja dia tidak mengingat sedang hamil atau wanita yang ada di depannya ini adalah mertuanya mungkin dia sudah membalas perkataan sinisnya.


"Apa itu ma?" Tanya Ivanka lagi masih tidak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh mertuanya.


"Jangan memanggilku mama, aku tidak Sudi mempunyai menantu sehina dirimu!" Hardik Hera tanpa tedeng aling-aling dimana membuat perasaan Ivanka terasa diremas begitu saja. Sebegitu hina kah dirinya di masa lalu? Apa seorang yang hina seperti dirinya tidak bisa berubah menjadi orang yang baik?


Ivanka hanya bisa menghela nafas, mengalah sembari melapangkan dada menerima semua penghinaan yang mertuanya lontarkan. Mungkin ini adalah sebuah karma atas dosanya di masa lalu. Karma memang lebih menyakitkan dari perbuatan sebenarnya.


"Lantas sekarang apa yang anda mau nyonya?" Tanya Ivanka kembali, berlama-lama dengan mertua yang tidak memiliki hati nurani itu bisa membuat kepalanya pecah. Jika dia bisa memilih, dia lebih memilih tidak bertemu dengan mereka bahkan jika mereka tidak menganggap Ivanka pun Ivanka juga tidak masalah. Daripada harus datang dengan membawa mulut kotornya.


"Aku ingin kau dan anak si*lanmu itu pergi jauh dari hidup putraku, aku akan memberikan berapapun yang kau minta!"


Begitulah manusia merasa dirinya yang mampu membolak-balikkan sebuah perasaan. Saat Ivanka sudah mulai mencintai Frans malah badai datang yang dibawa oleh ibunya. Hera menginginkan Ivanka meninggalkan Frans begitu saja. Oh tidak dia tidak bisa membayangkan bagaimana hancurnya hati Frans saat dia meninggalkannya.


"Maaf nyonya saya tidak bisa." Tolak Ivanka dengan halus. Saat ini bukan materi lagi yang Ivanka kejar. Dia sudah bersyukur dengan hidupnya yang sekarang meskipun serba kekurangan tapi hidup kekurangan lebih baik daripada harus hidup mewah tetapi tidak merasakan kebahagiaan yang sebenarnya.


"Aku tahu perempuan sepertimu pasti akan menolak jika hanya diiming-imingi dengan uang saja, lantas sekarang apa yang kau mau, kau bisa bilang saja, rumah, mobil mewah pesawat pribadi atau pulau pribadi, aku bisa membelikan itu semua asal kau meninggalkan putraku!"

__ADS_1


Ivanka hanya bisa tersenyum miris, ternyata orang kaya sama saja memandang orang lain dengan sebelah mata. Memang banyak orang kaya yang tulus tetapi juga banyak yang memandang rendah orang lain.


__ADS_2