Istri Tuan Arga

Istri Tuan Arga
S2-episode 98


__ADS_3

"Terimakasih sudah menawari istri saya tumpangan, lain kali tidak perlu repot-repot saya akan mengantar jemputnya!" Kata Marcel dengan dingin. Bara yang merasa tersudutkan pun pergi meninggalkan mereka. Tentu saja dia merasa kesal, niatnya mendekati Orin pupus sudah padahal sejak awal dirinya sudah menaruh perhatian khusus pada gadis itu.


Setelah melihat mobil yang ditumpangi Bara menghilang, Orin segera menepis tangan Marcel yang sedari tadi menggenggamnya. Sebenarnya Orin sendiri merasa risih dengan kedekatannya bersama orang-orang baru. Bahkan sekarang saja dirinya baru memiliki seorang teman karena sifat introvert-nya.


"Aku bisa pulang sendiri dan ingat satu hal! Aku bukan istrimu!" Ucap Orin tak kalah dingin dari Marcel bahkan gadis itu menekan kata 'bukan istrimu' layaknya mengingatkan jika dirinya memang tidak ingin menjadi istri pria itu.


"Maafkan aku!"


"Untuk apa? Karena sudah berhasil memanfaatkanku?"


"Orin tenanglah lebih dulu, kita bisa bicara baik-baik!"


Orin berpikir sejenak mungkin ada baiknya mereka berbicara secara baik-baik terlebih dahulu. Lagipula Orin sebenarnya tidak bisa terlalu lama memendam kemarahan seperti ini. Apalagi mengingat bagaimana perjuangan Marcel yang setiap hari harus pulang pergi Jakarta-Bandung. Dia tidak tahu bagaimana kelanjutan kisah cintanya tapi ada baiknya untuk mendengarkan apa yang ingin Marcel katakan bukan?


"Kita bisa bicara di kafe depan sana! Bawa mobilmu aku akan jalan dari sini!" Katanya kemudian meninggalkan Marcel begitu saja. Sebelumnya dia lebih dulu mengcancel pesanan taksi onlinenya. Untung saja sopir taksi online tersebut tidak marah padanya.


Sepanjang perjalanan Orin menyiapkan hatinya untuk mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh Marcel. Sebenarnya dirinya belum siap untuk menerima kenyataan itu, tapi dia juga tidak bisa membiarkan masalah ini berlarut-larut. Dia sudah bukan gadis kecil lagi, sekarang dia sudah menjadi seorang mahasiswi dimana pemikirannya yang masih seperti bocah harus juga diubah.


Orin pun masuk ke dalam kafe tersebut. Matanya menyapu seisi kafe itu guna menemukan tempat yang akan dia tempati. Orin memtuskan untuk duduk di dekat pintu masuk karyawan yang menurutnya strategis karena sepi dan sedikit jauh dari pengunjung lainnya.


"Mau pesan apa mbak?" Tanya seorang gadis waiters yang mungkin seusianya.

__ADS_1


"Jus jambu dan coffe americano!" Setelah mencatat pesanan Orin waiters tersebut menyuruh Orin untuk menunggu dan tak lama kemudian Marcel pun datang.


Orin memandang Marcel dengan tatapan entah bagaimana mengatakannya. Ada perasaan rindu dan benci yang bergumul menjadi satu di hatinya. Mereka saling tumpang tindih untuk menguasai hati dan pikirannya.


"Sudah pesan sesuatu?" Tanya Marcel untuk memecahkan kecanggungan diantara mereka.


"Sudah baru saja, mungkin sedang dibuat!"


"Orin sebelumnya aku minta maaf atas kejadian sebulan lalu!" Orin masih diam menyimak apa yang ingin disampaikan oleh pria didepannya ini.


"Dulu aku mengatakan hal itu karena aku memang tidak mengingat kalian semua dan aku merasa sudah tidak punya keluarga karena nenek juga sudah meninggal. Saat itu aku benar-benar tertekan oleh keadaan! Aku minta maaf jika saat itu kata-kataku membuat hatimu terluka!" Ucapnya sambil menundukkan kepalanya, dia benar-benar merasa menyesal. Secara tidak langsung perbuatannya dulu sudah membuat keluarga Orin terluka.


"Aku baru mengingat semuanya setelah dua tahun berlalu, saat itu kebetulan Daddy berada di Italia untuk menemui rekan bisnisnya dan aku meminta maaf padanya setelah itu beliau menceritakan semuanya tentang dirimu yang membenciku. Aku benar-benar merasa kalut saat itu sampai aku tidak berani untuk kembali ke Indonesia dan memilih untuk tinggal di Italia bersama keluarga besarmu dan melanjutkan pendidikanku disana!"


"Dan untuk aku yang menyamar sebagai guru di sekolahmu, aku minta maaf karena aku tidak mengerti bagaimana caranya agar aku bisa dekat dengamu lagi karena setahuku kau sangat membenciku saat itu. Aku benar-benar minta maaf karena sikap pengecutku. Aku tidak bermaksud membohongimu apalagi melukai hatimu, aku benar-benar mencintaimu dari dulu sampai sekarang!"


"Kenapa menjadi pengecut jika kau memang mencintaiku?"


"Aku takut kau menjauhiku lagi dan ternyata benar setelah semuanya terungkap kau menjauhiku lagi!" Ucapnya dengan lesu.


"Aku minta maaf tapi aku benar-benar mencintaimu Rin, baik Marcel maupun Angga mereka sama-sama memiliki cinta tulus padamu!"

__ADS_1


Orin menarik nafasnya, entah kenapa tiba-tiba dadanya terasa sesak. Dia tidak tahu itu karena dia yang memiliki rasa kecewa oleh orang yang dicintai atau mendengar pernyataan yang sesungguhnya dari orang yang dicintai.


"Aku sudah memaafkanmu, mungkin aku kecewa padamu karena dulu aku memang masih kecil dan belum mengerti hal apapun dan rasa kecewa itu tumbuh seiring berjalannya waktu, yang aku tahu kau selalu marah-marah padaku. Tapi sekarang aku sudah mengerti penjelasan darimu, maafkan aku juga yang egois dan seperti anak kecil!" Katanya dan tiba-tiba air matanya jatuh begitu saja. Dia merasa dirinya adalah manusia paling egois di seluruh dunia. Dia hanya memperdulikan dirinya sendiri.


"Tidak, jangan minta maaf karena disini aku yang bersalah. Kau benar-benar sudah memaafkanku kan?" Tanyanya sekali lagi untuk memastikan.


"Ya."


"Terimakasih sudah memaafkan diriku lain waktu aku tidak akan membuatmu kecewa lagi seperti ini. Aku berjanji ini menjadi yang terakhir aku membuatmu kecewa!"


"Terimakasih sudah mau memperjuangkan cinta kita sampai seperti ini dan sudah mau bertahan denganku!" Ujar Orin dengan tulus. Bagaimana mungkin dirinya bisa marah berlama-lama dengan orang yang dicintainya. Dia juga merutuki kebodohannya yang hanya memikirkan ego sesaatnya. Seharusnya jika dia memang sudah dewasa, dia bisa menanggapi masalah ini dengan dewasa juga bukan seperti yang anak kecil.


"Bisakah kita melanjutkan kisah cinta kita lagi?" Tanya Marcel penuh harap, dia hanya ingin bersama gadis ini. Gadis yang memberinya warna dalam kehidupannya sejak dulu.


"Maaf aku tidak bisa!" Jawabnya dimana membuat Marcel membelalakkan matanya. Dia tidak siap menerima penolakan dari Orin bahkan dia tidak pernah membayangkan hal itu sejak dulu.


"Kita tidak bisa melanjutkan hubungan ini tapi kita bisa memulainya dari awal lagi. Lebih baik kita menutup hubungan yang sudah berlalu dan memulai dari awal lagi. Bagaimana?"


Marcel hanya menganggukkan kepalanya, tapi tatapan matanya tidak bisa membohongi bahwa dirinya saat ini sedang begitu bahagia. Dia tidak tahu ternyata gadisnya itu hanya menggodanya.


"Aku setuju, kita bisa memulainya dari awal lagi."

__ADS_1


"Kalau begitu perkenalkan namaku Orin dan siapa namamu?" Tanyanya sambil mengulurkan tangannya menjabat tangan Marcel layaknya seseorang yang memang baru bertemu.


"Aku Marcel." Jawabnya kemudian mereka tertawa, menertawai sikap mereka sendiri. Untuk saat ini mereka tidak memikirkan pernikahan, mereka hanya menikmati waktu kebersamaan mereka yang tanpa kebohongan lagi.


__ADS_2