
Hari Senin merupakan hari keramat bagi seluruh murid di manapun. Mereka menganggap hari Senin adalah hari yang paling membosankan. Begitupun dengan Orin dia dengan malasnya berangkat ke sekolah. Untung saja hari ini kelas tiga tidak ikut upacara bendera dikarenakan jam tambahan.
Dengan langkah gontai dia pun keluar dari mobil mini Cooper kesayangannya. Memang raganya sudah berada di sekolah tapi pikirannya seperti masih tertinggal di rumah lebih tepatnya di kamar.
Dilihatnya sekeliling sudah sangat sepi dan benar saja sekarang sudah pukul tujuh lebih lima belas menit itu berarti kelas jam tambahan sudah dimulai. Tapi kenapa terburu-buru hari ini adalah tambahan belajar mata pelajaran matematika dimana mata pelajaran yang sangat tidak disukai oleh Orin. Lagipula Bu Risa guru matematikanya sudah tua dan beliau sangat sabar apalagi yang paling membuat Orin menyukainya adalah karena beliau selalu memahami kesulitan Orin.
Setibanya di depan kelas tampak pintu kelas sudah tertutup rapat dan sangat hening tidak seperti biasanya. Jika biasanya mereka akan ramai meskipun ada gurunya karena kelas Orin terkenal dengan julukan kelas bebek.
"Kenapa pada diem ya?" Monolog Orin pada dirinya sendiri sebelum mengetuk pintu.
"Kok suaranya laki-laki? Bukannya hari ini jamnya Bu Risa ya? Apa jangan-jangan gue salah hari lagi? Tapi ini kan bener hari Senin." Tanya Orin pada dirinya sendiri.
Tok..tok..tok
Suara ketukan pintu seolah-olah mengalihkan atensi para murid yang sedang menyimak jam pelajaran saat itu.
"Selamat pagi, maaf terlambat!" Ucap Orin tanpa melihat siapa yang kini tengah berdiri di depan ruang kelas itu.
__ADS_1
Setelah masuk Orin baru menyadari mengapa semua temannya terlihat begitu tegang dan tidak seperti biasanya itu semua karena laki-laki yang sama dengan yang memberinya hukuman kemarin.
"Orin Quenby Winata terlambat lima belas menit lima puluh enam menit hampir enam belas menit!" Ucap laki-laki tersebut dengan nada dingin. Suasana kelas yang tadinya sudah tegang kini menjadi lebih tegang lagi.
Laki-laki tersebut melangkah menghampiri Orin dengan langkah tegapnya. Jika dilihat kembali wajah serta postur tubuh laki-laki tersebut nyaris sempurna. Wajah tampan dengan postur tubuh tinggi.
"Terlambat lagi? Dengan alasan apa sekarang?"
"Maaf pak tadi sedikit demam jadi terlambat!" Bohong Orin padahal dia jelas-jelas terlambat karena memang bangun terlambat sebab semalam asyik video call dengan sepupunya Jerry bukan demam. Entahlah biasanya ketika menghadapi para guru nyali Orin tidak seciut ini tapi entah mengapa dengan guru tersebut Orin menjadi orang yang patuh.
"Ah sepertinya tidak perlu!"
Laki-laki tersebut pun memandang Orin dengan menaikkan sebelah alisnya. Dia sangat mengerti jika sekarang Orin sedang berbohong.
"Pergilah ke ruangan saya, tanyakan pada guru disana ruangan pak Marcello Artha!"
"Tapi pak...!" Belum sempat Orin melanjutkan ucapannya guru yang ternyata bernama Marcello Artha tersebut sudah memotong ucapannya.
__ADS_1
"Silahkan keluar dan tunggu diruangan saya, terimakasih jangan menggaggu teman-teman yang lain!"
Orin pun menghentakkan kakinya lalu keluar dari ruangan kelasnya dengan perasaan kesal. Masih pagi tapi guru muda itu sudah mengajaknya untuk berdebat. Benar-benar menjengkelkan.
Akhirnya Orin pun tiba di ruang guru. Karena memang tidak tahu dimana ruangan pak Marcel dia pun bertanya pada salah satu guru perempuan disana.
"Emm Bu mau tanya ruangan pak Marcel dimana ya?"
"Pak Marcello Artha guru matematika baru yang sangat tampan itu?"
"Tampan tapi menyebalkan!" Batinnya.
"Ya guru matematika baru kelas tiga."
"Oh disebelah sana!" Jawab guru tersebut sembari menunjuk salah satu pintu ruangan yang masih tertutup.
Setelah berpamitan Orin pergi ke ruangan tersebut dan menunggu sang guru baru killer tersebut.
__ADS_1