Istri Tuan Arga

Istri Tuan Arga
S2-episode 14


__ADS_3

Satu Minggu setelah kejadian di kafe, lagi dan lagi Marcel tak menampakkan batang hidungnya. Awalnya Orin yang mengetahui itu pun sangat begitu senang. Pikirnya rencananya untuk menyingkirkan laki-laki bermulut cabe itu sudah berhasil. Tapi hatinya merasakan hal lain ada sesuatu yang kurang ketika tidak melihat Marcel apalagi tidak mendengar ocehan pedasnya.


"Gue lihatin daritadi lu bengong aja, mikirin apa sih Rin?" Tanya Aneta yang sejak tadi mengamati tingkah Orin yang berbeda dengan biasanya.


"Siapa juga yang bengong sih Net, gue cuma lagi mikir aja bentar lagi kan Kak Noel wisuda gue bingung mau kasih kado apa!" Bohong Orin karena pada dasarnya bukan itu yang sedang dia pikirkan.


"Emang kak Noel kapan wisudanya?"


"Dua bulan lagi."


"Masih lama b*go! Lagian lu kan banyak uang tinggal beli apa terus kasih ke kak Noel!" Kata Aneta sambil memasukkan separuh sandwich yang tersisa, hari ini mereka tidak pergi ke kantin karena Orin sudah membawa bekal dari rumah dan juga membawakan untuk Aneta.


"Masalahnya itu Net, kak Noel juga punya segalanya apalagi dia juga udah punya uang hasil kerjanya sendiri terus gue mau kasih apa bingung!"


"Lu kasih keponakan aja!" Jawab Aneta asal dimana membuat Orin tersedak seketika.


uhuk...uhuk...uhuk


"Lu gila ya Net, gue aja kagak punya cowok jomblo dari lahir!" Kata Orin meratapi nasibnya yang tidak pernah berpacaran itu.


Aneta pun tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Orin. Mereka sudah lama bersahabat jadi Aneta tahu persis bagaimana takutnya Orin ketika ada seorang laki-laki ada yang menyatakan perasaan padanya. Aneta juga tak mengerti padahal Orin tak memiliki cacat sedikitpun tapi kenapa gadis itu takut jika memiliki kekasih.


"Udah deh lu juga sama jomblonya!"


"Tapi kan gue masih mending udah pernah pacaran Rin daripada lu belum pernah pacaran sama sekali!"


"Iya lu pernah pacaran sekali dan sampai sekarang belum bisa move on." Aneta pun mendengus kesal mendengar jawaban Orin pasalnya gadis itu mengingatkan akan cinta monyetnya yang mana membuatnya menangis dua hari dua malam. Dan karena itulah Orin tidak ingin memiliki pacar. Dia takut jika bernasib sama dengan Aneta yang diselingkuhi oleh kekasihnya.


"Iya udah sih nggak usah bahas pacar, eh lu udah punya gaun buat acara ulangtahun sekolah belum?"


"Emang harus pakai gaun apa?" Tanya Orin acuh, sebenarnya dia tidak niat untuk datang ke acara tersebut seperti tahun-tahun sebelumnya.


"Warna hijau katanya!"

__ADS_1


"Warna hijau? Dikira lontong berjalan dong! Gila bener yang bikin tema." Kata Orin sambil menggelengkan kepalanya dan matanya tetap fokus pada benda pipih yang digenggamnya.


"Lu tahu sendiri kan tahun ini ketua pelaksanaannya Alex sama Vanessa."


"Oh pantes aja temanya nggak jelas ketua pelaksanaannya aja juga nggak jelas."


Saat mereka sedang asyik berbincang-bincang, bel pun berbunyi menandakan jam pelajaran selanjutnya akan dimulai. Semua siswa-siswi pun mengikuti pelajaran dengan sungguh-sungguh sebab mereka sekarang sudah kelas tiga bukan waktunya bermain-main lagi.


Pukul empat sore mereka baru keluar dari kelas masing-masing. Ada yang masih bersemangat dan ada pula yang sudah loyo seperti Orin sekarang. Belajar dari pagi sampai sore benar-benar menguras tenaganya.


"Mampir ke mall yuk beli gaun buat acara ulangtahun sekolah!" Ajak Aneta saat mereka berjalan keluar kelas dan menuju parkiran.


"Males banget Net, gue capek!"


"Jangan bilang lu kagak Dateng lagi! Ini terakhir kalinya kita ikut habis ini kita udah kuliah! Lu ikut ya?" Pinta Aneta dengan wajah memelas dimana membuat Orin tidak tega. Sebenarnya Orin sedikit tidak menyukai acara dengan banyak orang seperti itu. Dia lebih menyukai ketenangan dari pada hiruk-pikuknya sebuah pesta.


"Iya-iya gue ikut lu! Bentar pamit sama mommy dulu biar nggak dimarahin kalau pulang telat!" Orin pun mengambil ponsel yang berada di saku bajunya. Jemari lentiknya mengetik sesuatu untuk dikirim kepada sang mommy.


To: My mom ❤️


Setelah mengetikkan pesan lalu mengirim pesan tersebut. Orin kembali memasukkan ponsel tersebut ke dalam sakunya. Mereka berjalan beriringan menuju mobil Orin. Sebab Aneta tidak membawa mobil karena bannya kempes dan dia tidak memiliki waktu untuk menyuruh orang menggantinya.


Sampai didalam mobil, Orin memilih duduk disamping kursi sopir karena dia menyuruh Aneta untuk menggantikan dirinya menyetir sebagai upah karena akan mengantarkannya pulang ke apartemen.


Ting...


Ponsel Orin berbunyi dengan sigap gadis berwajah cantik itu membuka ponselnya. Dia takut jika seseorang mengirimkan pesan penting untuknya.


From: My mom ❤️


Iya, jangan lupa makan. Nanti kalau kamu kecapekan biar dijemput sama mang Udin aja.


Orin yang membaca pesan tersebut merasa sedikit geli dengan sikap ibunya yang dirasa terlalu berlebihan sebab dia sudah bukan anak kecil lagi. Tapi Orin sendiri juga merasa senang mendapatkan perhatian seperti itu dari ibunya.

__ADS_1


To: My mom ❤️


Baik Baginda ratu. Love you ❤️


"Eh udah lama kayaknya nggak lihat pak Marcel kemana ya kira-kira? Apa jangan-jangan dia udah nggak ngajar di tempat kita lagi?" Tanya Aneta memecah keheningan diantara mereka.


"Iya kali udah pindah ke Afrika sana!" Jawab Orin asal dimana mengundang gelak tawa dari Aneta.


"Yang bener aja lu Rin, masa iya pak Marcel ngajar di Afrika! Ntar hitem dan nggak cool lagi dong!"


"Ya mana gue tahu sih Net, gue juga nggak peduli dia ngajar lagi apa nggak. Malah nih yang gue mau dia itu keluar dari sekolah kita!"


"Jangan lah ntar stok guru tampan di sekolah kita habis dong!"


Orin pun hanya mencebik kesal ketika Aneta selalu mengatakan jika Marcel adalah guru paling tampan yang ada di sekolahnya. Orin akui jika Marcel itu tampan tapi mulut pedasnya itulah yang membuat Orin kesal setengah mati.


Tak butuh waktu lama mereka pun sampai di parkiran mall tersebut sebab jarak antara sekolah dengan mall yang ingin mereka kunjungi tidaklah jauh. Aneta pun memarkirkan mobil Orin dengan hati-hati sebab jika tergores sedikit saja gadis dengan surai berwarna hitam gelap itu bisa mengomelinya tujuh hari tujuh malam.


Mereka pun berjalan menuju butik yang ada disana. Orin sempat bingung harus memilih gaun yang seperti apa sebab dirinya belum pernah hadir di acara tersebut. Sementara Aneta gadis itu sudah memilih beberapa gaun dan ingin segera mencobanya.


"Belum dapet yang lu suka juga Rin?" Tanya Aneta ketika melihat Orin tak kunjung juga mengambil gaun yang tersedia.


"Belum cocok sama modelnya, apalagi warna hijau kan sulit banget!"


"Ya udah lu cari-cari aja dulu lagian butik ini luas lu pasti bakal nemu yang bagus!" Ucap Aneta lalu meninggalkan Orin dengan raut wajah kebingungannya. Biasanya jika dia ingin pergi ke pesta mommynya lah uang selalu menyediakan gaun beserta aksesorisnya. Tapi untuk saat ini Orin ingin dia sendiri memilih pakaian yang cocok untuk dia kenakan.


Orin pun melakukan apa yang dikatakan oleh Aneta. Día mengelilingi butik tersebut dari ujung hingga ujung. Butik tersebut sangatlah luas hingga membuat kakinya merasa pegal. Dan akhirnya dia menemukan juga gaun yang di carinya. Gaun dengan warna hijau muda sangat cocok dengan kulitnya yang putih. Apalagi perpotongan lengan serta lehernya juga sangat sopan. Dan untuk panjangnya tidak terlalu pendek dan tidak terlalu panjang. Orin pun mengambil gaun tersebut tanpa mencobanya terlebih dahulu. Badannya sudah lelah hanya untuk mencoba.


"Net cari makan dulu yuk gue laper banget nih!" Pinta Orin setelah mereka keluar dari butik tersebut.


"Makan dimana Rin? Gue juga udah laper banget."


"Di kafe itu aja yuk!" Kata Orin sambil menunjuk sebuah kafe yang tidak jauh dari mereka.

__ADS_1


"Ayuk!" Mereka pun berjalan menuju kafe tersebut. Bari beberapa langkah masuk ke dalam kafe tersebut mereka menemukan pemandangan yang sangat tidak mengenakkan.


__ADS_2