
Awalnya dia merasa terhina dengan pekerjaannya sendiri, tetapi setelah dia disewa oleh seorang pengusaha kaya dan melakukan hubungan intim tersebut dia sudah tidak perduli lagi dengan harga dirinya. Toh sekarang hal yang sangat dijaga olehnya sudah tidak ada dan ibunya juga tidak memperdulikannya. Mulai saat itulah Ivanka yang awalnya polos berubah menjadi Ivanka dewasa yang gila akan harta.
Tak lama setelah kepergian Ivanka dari rumahnya sang ibu mencari-cari keberadaannya. Ibunya mencari keberadaan Ivanka bukan untuk meminta maaf karena selama ini dia tidak pernah perduli terhadap putri semata wayangnya itu melainkan untuk meminta uang karena dari yang ibunya Ivanka dengar saat itu Ivanka tengah menjadi simpanan bos tambang yang kaya raya.
Ternyata orang yang dinikahi oleh ibunya bukanlah orang baik-baik yang akan menuntun ibunya kejalan yang benar. Melainkan pria yang gila terhadap judi. Karena ibunya terlalu cinta kepada laki-laki itu hingga dia dibutakan oleh kelakuan bejat suaminya itu.
Hingga suatu hari dipertemukanlah Arga dengan Ivanka secara tidak sengaja. Kala itu Arga yang sedang terburu-buru untuk menghadiri meeting dengan kliennya tidak memperhatikan keadaan sekitarnya hingga dengan tidak sengaja dia menabrak Ivanka yang pulang dari menjual beberapa perhiasannya.
Saat itu karena kekasihnya tidak memberikan uang, Ivanka terpaksa menjual beberapa perhiasannya guna diberikan pada ibunya. Sudah sering Ivanka mengingatkan pada Hellena sang ibu untuk meninggalkan suaminya tetapi karena ibunya sangat mencintai ayah tirinya itu dia seolah-olah buta akan perbuatan suaminya.
Setiap Minggu Hellena selalu meminta uang pada Ivanka dengan jumlah yang sangat banyak. Karena ibunya adalah satu-satunya keluarga yang dia punya jadi bagaimanapun perlakuan ibunya dia tetap memaafkannya.
Karena merasa bersalah telah menabrak Ivanka sehingga Arga bertanggungjawab untuk merawat Ivanka hingga sembuh. Sebetulnya keadaan Ivanka saat itu tidak begitu parah tetapi karena terdapat banyak luka lebam di tubuh Ivanka dia menjadi sedikit tersentuh. Apalagi dengan cerita cerita karangan Ivanka yang Arga sendiri tidak tahu kebenarannya.
Saat itu Ivanka bercerita pada Arga bahwa dia hidup sebatang kara ayahnya sudah menikah dan ibunya entah kemana. Dan luka-luka yang dia dapat berasal dari orang-orang yang tidak menyukai kehadirannya.
Hingga lama kelamaan Arga mulai jatuh cinta kepada Ivanka. Apapun yang Ivanka minta pasti dia akan menurutinya. Arga tidak jatuh cinta pada Ivanka karena pandangan pertama, dia jatuh cinta pada Ivanka karena terbiasa bersama. Ya karena setelah insiden kecelakaan kecil itu membuat mereka menjadi semakin dekat. Tetapi ternyata selama ini hanya Arga yang mencintai Ivanka dengan tulus, sedangkan Ivanka hanya memanfaatkan kekayaannya.
"Kau bisa menjadi kekasih simpanannya? bukannya memang itu pekerjaanmu?" Tanya sang ibu dengan nada sarkas.
"Aku sekarang sudah tidak mau lagi menjadi wanita simpanan. Apakah kau pernah berfikir bagaimana jika nanti ketika aku sudah menikah dan ternyata suamiku mempunyai wanita simpanan bagaimana perasaanku?"
"Cih persetanan dengan pernikahanmu aku tidak peduli yang aku inginkan sekarang hanya uang dan uang."
Ivanka diam tidak menjawab ucapan Hellena. Hatinya sungguh perih ibunya tidak pernah memikirkan kebahagiaannya yang ada dalam otak dan hatinya ternyata hanya uang dan uang.
__ADS_1
Kemudian Hellena mengambil jam tangan dan juga cincin yang sedang dipakai oleh Ivanka. Belum sempat mempertahankan cincin dan juga jam tangan itu kini sudah berpindah tangan ke tangan ibunya.
Ivanka hanya mendesah kesal, selalu seperti ini jika ibunya datang. Hanya ada pertengkaran dan pertengkaran saja jika mereka dipertemukan.
Tanpa permisi sang ibu keluar dari apartemen Ivanka dengan membawa cincin dan jam tangan yang harganya fantastis itu.
"Ck, bagaimanapun juga aku harus mendapatkan Arga, hanya dia satu-satunya laki-laki yang bisa menyelamatkan hidupnya." Gumam Ivanka sambil menuangkan wine kedalam gelas sloki sembari memikirkan bagaimana caranya dia mendapatkan Arga sepenuhnya. Hingga sesuatu rencana buruk terlintas di otaknya.
Di tempat lain kini dua insan sedang menyusuri alam mimpi mereka masing-masing. Hingga ketukan pintu membuyarkan mimpi indah Arga.
Tok...Tok...Tok
"Tuan?" Panggil seseorang dari luar pintu.
Arga yang mendengar suara yang menurutnya berisik dari arah luar itu pun segera keluar agar tidak membangunkan Retha yang masih terlelap. Diambilnya kemeja yang tadi dia gunakan, kini keadaannya sungguh berantakan tapi juga tidak mengurangi kadar ketampanannya.
"Kita sudah sampai di Jakarta tuan, mobil juga sudah saya siapkan. Apakah anda akan langsung kerumah atau bagaimana?" Tanya Leo dengan sopan.
"Langsung kerumah, dan kau saja nanti yang menyetir." Jawabnya lalu kembali masuk kedalam kamar dan menutup kembali pintu kamar tersebut.
Dia melihat Retha yang masih tidur dengan tenang, wajah damainya membuat hati Arga menghangat. Dia hendak membangunkan istrinya itu tapi diurungkan kembali, akhirnya dia membungkus tubuh Retha dengan selimut tebal lalu membawanya keluar.
"Selalu seperti ini, aku heran padamu kenapa kau sedang tidur tetapi seperti sedang pingsan saja?" Gumam Arga sepanjang perjalanan menuruni pesawat pribadinya.
Orang-orang bawahannya yang melihat itu pun segera menghampiri Arga mereka takut jika terjadi sesuatu pada nyonya muda mereka. Tapi ketika Arga menggelengkan kepalanya mereka sudah paham jika tidak terjadi sesuatu yang buruh pada Retha.
__ADS_1
Arga pun memasuki mobil yang sedari tadi sudah menunggunya. Direbahkan tubuh Retha dikursi penumpang lalu menyandarkan kepalanya dipahanya. Retha hanya bergerak sedikit untuk mencari kenyamanan tanpa ada niat untuk membuka matanya.
"Apa tadi aku terlalu berlebihan?" Tanya Arga pada dirinya sendiri yang melihat Retha masih tertidur pulas.
Akhirnya mobil yang mereka tumpangi pun berjalan meninggalkan pelataran bandara internasional Soekarno-Hatta. Mobil tersebut melewati padatnya jalanan ibukota yang ramai akan lalu lalang kendaraan.
Arga pun melihat jam tangannya, ternyata sekarang pukul dua belas siang pantas saja jalanan tampak lebih padat dari jam-jam sebelumnya karena saat ini adalah jam makan siang untuk para pegawai.
Setelah melewati jalanan yang melelahkan menurutnya karena dia hanya bisa memandangi wajah pulas istrinya saja, akhirnya mobil mereka sampai digarasi rumah tuan muda tersebut.
Sesampainya dirumah Arga segera mengangkat tubuh Retha dan membawanya masuk. Saat tiba didalam dia bertemu dengan beberapa maid yang sedang bekerja. Sontak mereka pun terkejut, ada apa dengan nyonya mudanya? itulah yang sedang mereka pikirkan. Tapi seolah-olah Arga tahu apa yang sedang mereka pikirkan dia pun berkata "Dia hanya kelelahan." Ucapnya lalu berlalu meninggalkan para maid dan masuk kedalam kamar.
Arga merebahkan tubuh sang istri dengan hati-hati seperti jika salah meletakkan bisa-bisa tubuh Retha remuk. Setelah merebahkan tubuh Retha diranjang dia segera keluar kamar menyuruh para maid untuk membuatkan makan siang mereka dan mengantarkan kedalam kamar.
Setelah itu dia kembali kedalam kamar dan segera membersihkan dirinya. Tak lama kemudian dia keluar dengan rambut yang basah setelah keramas.
Para maid yang tadi disuruh untuk mempersiapkan makan siang segera menuju ke kamar tuannya karena makanan sudah siap.
"Sayang ayo bangun, makan siang dulu!" Perintah Arga.
"Eeunggh..." lenguh Retha tanpa ada niatan untuk membuka matanya.
Arga pun lama-lama geram karena Retha sangat sulit untuk dibangunkan, tiba-tiba saja dia melompat dan sekarang berada diatas tubuh Retha.
"Kau mau bangun sekarang atau melanjutkan kegiatan yang tadi?" Tanyanya namun dengan nada mengancam.
__ADS_1
Retha yang mendengar itu pun segera membuka matanya, dia sangat terkejut karena sekarang sudah berada dikamar utama rumah mereka. Apakah tidurku senyenyak itu sampai aku tidak sadar jika sudah sampai? pikir Retha.
"Goog girl, ayo makan dulu sayang!" Ajak Arga kemudian mereka turun dari ranjang untuk menyelesaikan makan siang yang penuh drama itu.