
"Ck, aku tidak mau kak!" Jawab Orin masih kukuh dengan pendiriannya. Sekarang tanpa bekerja saja dia sudah mendapatkan apa yang dia inginkan lalu apa gunanya dia bekerja lagi. Toh nanti dia juga akan menjadi istri dan memiliki suami. Setahunya kewajiban seorang istri adalah merawat keluarga mereka dan bekerja bukan sebagai kewajiban. Lagipula saat ini mommynya juga tidak bekerja dan daddynya tidak keberatan.
Noel pun hanya bisa menghela nafasnya, adiknya itu sulit untuk mengganti keputusannya. Noel benar-benar merasa dilema, dia takut bagaimana jika suatu saat orang tua kandungnya mengetahui dirinya lalu mereka memanfaatkan kekayaan yang dimiliki keluarga angkatnya. Itulah yang Noel pikirkan sejak dulu.
"Lalu kapan acaranya akan diadakan dad?" Tanya Orin kini dia bertanya pada daddynya.
"Tiga hari lagi dan Daddy minta kau harus datang!" Jawab daddynya tak mau dibantah. Sebab sejak dulu anak-anaknya itu selalu saja mempunyai alasan untuk tidak menghadiri acara penting seperti itu. Apalagi Noel anak itu selalu menjadikan belajar sebagai alasan untuk menolak.
"Oh iya sayang nanti sore atau nggak malam antarkan kakak kamu ke butik langganan keluarga kita!" Ujar mommy Retha.
"Siap mom." Jawab Orin dengan senang hati. Tentu saja dia senang, berbelanja adalah hobinya apalagi nanti dia akan ditemani oleh Noel laki-laki kaku itu. Dulu saat mereka masih kecil ketika mereka berdua berbelanja bersama, sepanjang perjalanan Noel tak henti-hentinya untuk menggerutu.
"Kenapa nggak mommy aja yang pilih nanti langsung dibawa pulang saja sih mom!" Kata Noel mengungkapkan keberatannya.
"Tidak bisa sayang. Mommy juga harus menyiapkan baju untuk daddy lalu mengecek beberapa keperluan yang akan dibutuhkan!"
"Sudahlah kak, kali ini kamu nurut aja kenapa sih!" Kata Orin sembari menaikkan kedua alisnya.
__ADS_1
Akhirnya makan siang bersama mereka pun selesai, kembalilah mereka pada aktivitas masing-masing. Orin menuju lantai dua lebih tepatnya ke kamarnya sama dengan Noel dia juga kembali ke kamarnya, badannya masih lelah perjalanan 13 jam menguras tenaganya. Sedangkan daddy Arga kembali ke perusahaan karena masih ada beberapa hal yang harus dikerjakan. Sementara mommynya tentu saja dengan aktivitasnya sebagai ibu rumahtangga.
Sebenarnya masih banyak hal yang ingin Orin ceritakan pada Noel sebab akhir-akhir ini kakaknya itu sudah jarang pulang meskipun komunikasi mereka melalui ponsel tidak terputus tetapi cerita secara langsung akan lebih baik. Tapi nyatanya rasa kantuk Orin masih mengalahkan rasa rindu pada kakaknya. Akhirnya Orin pun memutuskan untuk tidur terlebih dahulu lagipula nanti sore mereka akan pergi dan menghabiskan banyak waktu.
Tak terasa sudah pukul empat sore, sementara itu Orin masih setia untuk memejamkan matanya. Sedangkan Noel laki-laki disiplin itu sudah siap untuk pergi. Akhirnya Noel memtuskan untuk sedikit mengganggu adiknya, lagipula sekarang mereka sudah jarang untuk bertemu.
"Love…!" Panggil Noel pada Orin. Entah kenapa sekarang Noel malah terbiasa dengan panggilan-panggilan sayang pada adiknya. Dulu Orin lah yang meminta Noel untuk memanggilnya dengan panggilan-panggilan sayang tentu saja awalnya Noel keberatan karena belum terbiasa namun seiring berjalanya waktu Noel pun mulai terbiasa.
Sementara itu Orin masih asyik memejamkan matanya, menyelami mimpi-mimpi indahnya bersama sang pangeran es.
Karena tak ada jawaban, akhirnya Noel memutuskan untuk masuk ke dalam kamar adiknya. Noel pun menggerutu sebab Orin tak mengunci pintunya. Bisa-bisanya adiknya itu tetap ceroboh seperti ini. Dilihatnya sang adik tengah tidur terlelap lengkap dengan baju rumahnya. Terbesit sebuah ide untuk sedikit mengerjai adiknya.
"Adikku tersayang...!" Ucap Noel sambil menggoyang-goyangkan bahu adiknya itu. Bukannya bangun Orin malah lebih mengeratkan pelukannya pada guling kesayangannya.
"Ayo bangun dong! Nanti telat ke butiknya kasian Tante Vina nungguin kita!" Kata Noel lagi sambil menahan tawanya melihat wajah Orin yang sekarang. Apalagi dengan tanpa sengaja Orin menggaruk pipinya dimana membuat coretan lipstik itu melebar kemana-mana.
"Ehmm, sebentar lagi kak aku masih mengantuk." Jawabnya sambil tetap memejamkan matanya.
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu aku suruh mommy saja yang bangunkan kamu!" Orin yang mendengar ucapan kakaknya itu segera membuka matanya. Ah jika mommy yang membangunkannya tentu saja itu tidak lucu sebab mommynya itu begitu tega menjewer telinganya jika tidak kunjung bangun.
"Nah gitu dong sayangnya kakak udah bangun! Gih mandi dulu sana!" Perintah Noel masih dengan menahan senyumnya.
"Iya-iya ini juga mau mandi kok. Kakak kenapa senyum-senyum sih?" Tanya Orin penuh curiga sebab dia sangat tahu bagaimana tingkah kakaknya itu. Kakaknya akan terlihat dingin ketika diluar rumah tapi jangan tanya ketika di rumah kakaknya itu seperti memiliki seribu satu cara untuk menggodanya.
"Tidak apa-apa. Wajahmu terlihat cantik ketika bangun tidur sama seperti mommy!" Bohongnya.
"Ya sudah aku tunggu di bawah. Jangan lama-lama." Ucapnya sambil meninggalkan Orin yang sepertinya sedang berjalan ke kamar mandi. Noel pun segera berlari keluar kamar Orin sebelum gendang telinganya pecah.
"Satu…dua…tiga!" Baru saja Noel selesai menghitung dan suara teriakan Orin dari kamar mandi mengguncang rumah mereka.
"Kakak…………………!" Teriak Orin dari kamar mandi. Bagaimana dia tidak berteriak melihat wajahnya sendiri yang seperti badut itu. Hampir seluruh wajahnya memerah dan ketika Orin menyentuhnya dia pun langsung tahu jika itu adalah goresan lipstik. Dan untuk pelakunya sudah pasti dia sangat tahu, siapa lagi kalau bukan kakaknya itu.
"Awas aja nanti bakalan aku balas!" Kesalnya kemudian diapun meneruskan acara mandinya.
Sementara itu dibawah Noel tak henti-hentinya tertawa membayangkan bagaimana wajah kesal adik tercintanya itu. Sudah dipastikan adiknya itu akan memberengut kesal sambil mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"Adik kamu kenapa El?" Tanya mommy Retha setelah mendengar teriakan dari putrinya itu. Kini mereka sama-sama duduk di ruang keluarga. Melihat mommynya duduk disampingnya Noel pun segera merebahkan kepalanya dipangkuan sang mommy, sebelum daddynya melihat dan akan menarik rambutnya. Sudah lama rasanya Noel tidak semanja ini dengan mommynya. Sebagai anak pertama laki-laki di keluarga Winata dia dituntut untuk memiliki otak yang cerdas. Tak hanya sampai disitu saja dia juga harus menjaga imagenya agar tak terlihat untuk mudah diremehkan.
"Hanya sedikit kejahilan saja mom!" Jawabnya sambil mengedipkan salah satu matanya dimana membuat mommynya semakin gemas.