
Matahari mulai merangkak naik dari peraduannya, memancarkan sinarnya yang menghapus butir-butir air hujan yang menempel pada dedaunan maupun atap rumah-rumah. Sinar hangatnya mampu menghangatkan tubuh dari udara dingin. Membakar semangat baru di hari yang baru.
h
Tadi malam Orin menghabiskan waktunya dengan mengobrol bersama Marcel sepanjang malam. Untuk saat ini sudah ada ponsel yang mampu menyalurkan rindu entah bagaimana jika benda pipih nan pintar tersebut tak ada mungkin mereka yang sedang jatuh cinta hanya mampu membayangkan wajah cantik maupun tampan sang terkasih.
"Selamat pagi Orin, ayo semangat nanti ketemu pacar!" Ucap Orin menyemangati dirinya sendiri. Sebelum itu tadi malam mereka sudah berjanji tidak menunjukkan hubungan mereka di sekolah sebab menurut mereka sendiri hubungan mereka masih rentan akan gosip. Apalagi status mereka sebagai seorang guru dan murid. Mungkin jika mereka tinggal di tempat yang menganut budaya barat hubungan mereka akan dianggap biasa saja. Akan tetapi saat ini mereka tinggal di Indonesia dimana budaya timur masih dijunjung tinggi. Bukan tak mungkin jika hubungan mereka akan menjadi santapan empuk untuk mereka yang tidak menyukai Orin maupun Marcel.
Orin pun segera bersiap-siap, hari Senin adalah hari yang panjang menurut para murid termasuk dengan Orin sendiri. Dia segera berlari ke kamar mandi membersihkan diri lalu mengganti pakaiannya dengan seragam sekolah. Selesai memakai seragam sekolah, Orin sedikit memoleskan make up ke wajahnya. Setelah itu dia turun ke bawah untuk sarapan sebelum pergi ke Sekolah.
"Pagi mom!"
"Pagi sayang, sini duduk biar mommy buatin rotinya isinya. Mau selai rasa apa sayang?"
"Coklat aja mom. Daddy belum bangun ya mom kok nggak kelihatan?" Tanya Orin saat melihat sekitar ternyata sang Daddy tidak ada disana.
"Daddy udah berangkat dari pagi tadi sayang."
"Kok tumben berangkat pagi banget?" Tanya Orin lagi sembari minum susu putih buatan sang mommy.
"Iya soalnya daddy mau meninjau proyek hotel yang ada di Surabaya."
__ADS_1
"Kok mommy nggak ikut, biasanya kan daddy nggak mau berangkat kalau mommy nggak ikut?"
"Karena nanti bakal ada tamu spesial yang datang jadi mommy mau nunggu tamu spesial aja!"
"Emang siapa yang mau datang mom?" Tanya Orin penasaran. Biasanya apapun alasan mommynya daddynya akan tetap ngotot untuk mengajak sang mommy tapi kenapa ini malah membiarkan mommynya di rumah.
"Surprise lah! Kamu lihat aja nanti!" Jawab sang mommy yang membuat Orin semakin penasaran.
"Ih mommy nih! nggak asyik deh!" Kesalnya kemudian dengan segera Orin menghabiskan roti isi selai coklat yang tinggal beberapa gigitan itu.
"Orin berangkat dulu mom!" Pamit Orin meninggalkan sang mommy tak lupa sebelum itu dia mencium pipi mommy Retha.
"Iya sayang hati-hati dijalan!"
Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya dirinya tersenyum membayangkan bagaimana nanti jika bertemu dengan Marcel. Oh Tuhan baru membayangkan saja kenapa detak jantungnya sudah seheboh ini.
Ditempat lain tak jauh berbeda dengan keadaan Orin, Marcel pun juga tak henti-hentinya tersenyum membayangkan wajah ayu yang akan menjadi masa depannya. Dirinya kini tengah berganti pakaian, mencari pakaian yang terbaik dari yang baik. Entah kenapa dia ingin terlihat menjadi sosok yang sempurna apalagi di hadapan Orin. Egois mungkin tapi apa boleh buat hatinya sendiri yang ingin melakukan itu.
"Dududududu!" Senandung Marcel sembari memakai jam tangan di tangan kirinya. Setelah itu dia memakai sepatu pantofel guna membungkus kaki jenjangnya.
"Selesai! Waktunya bertemu bidadari cantik!" Ucapnya sambil meraih kunci mobilnya lalu pergi ke depan dan bersiap berangkat ke sekolah.
__ADS_1
Sementara itu Orin pun sudah sampai di sekolah. Dengan segera dia memarkirkan mobilnya di tempat biasa yang dia tempati. Disini hampir semua teman-temannya membawa mobil. Adapun yang membawa motor itupun motor keluaran terbaru. Ada juga yang diantar oleh sopir pribadi mereka. Tak terlalu mengejutkan pandangan tersebut sudah tersaji setiap hari sebab memang benar adanya di sekolah Orin adalah sekolah elit terbesar di ibukota.
Selesai memarkirkan mobilnya Orin pun segera turun. Sebelum masuk ke kelasnya Orin terlebih dahulu melewati parkiran para guru guna melihat pujaan hatinya yang ternyata memang belum datang.
"Yah belum Dateng ya!" Sedih Orin kemudian dia segera meninggalkan tempat itu sebelum banyak siswa maupun guru yang lain datang. Selain Orin tidak suka dengan keramaian, mungkin kedatangannya di parkiran tersebut akan menimbulkan pertanyaan-pertanyaan dari teman-temannya apalagi jarak kelasnya dengan parkiran guru lumayan jauh.
Orin pun sudah sampai di kelasnya. Hari sudah semakin terik sebentar lagi bel berbunyi dan beberapa teman-temannya sudah berdatangan begitu pula dengan Aneta.
Awalnya Orin ingin menceritakan semua tentang hubungannya dengan Marcel. Tapi untuk saat ini Orin mengurungkan hal tersebut. Bukan karena dirinya tidak percaya pada Aneta tapi sepertinya ini bukanlah waktu yang tepat apalagi sekarang mereka sedang berada di lingkungan sekolah.
"Lu kenapa kayak bingung gitu sih Rin?" Tanya Aneta Sambil mengamati wajah Orin.
"Gue nggak apa-apa kok." Jawab Orin tak enak. Sebenarnya dia tidak ingin menyembunyikan kabar bahagianya ini tapi mau bagaimana lagi keadaan memaksanya untuk melakukan itu.
"Beneran? Kok kayak ada yang lu pikirin atau jangan-jangan lo sembunyiin sesuatu dari gue ya?" Selidik Aneta yang mana membuat Orin semakin tak enak saja.
"Beneran lah. Lagipula lu kan sahabat gue yang paling the best mana mungkin gue bohongin lu!" Ucapannya padahal dia dalam hati mengucapkan beribu-ribu maaf pada sahabatnya itu. Sebenarnya dia takut jika Aneta suatu saat akan keceplosan tentang hubungannya. Dan bukankah manusia itu tempatnya khilaf dan dosa.
"Ya udah deh gue percaya sama lu kok. Eh pr lu bahasa Inggris udah belum? gue mau pinjem dong!"
"Udah lah. Tuh ambil aja di tas gue lagi sibuk!" Jawab Orin sambil sibuk menatap ponselnya.
__ADS_1
"Kayak orang aja Luh Rin sibuk banget! Emang lagi chat sama siapa sih?" Tanya Aneta yang hendak melihat layar ponsel Orin dimana membuat gadis itu langsung membalikkan ponselnya hingga kini bagian belakangnya yang terlihat.
"Ih kepo banget sih lu! Gue tuh lagi hubungin kak Noel kenapa dari tadi nggak bisa-bisa!" Ucapnya dengan bumbu sedikit kebohongan. Sebenarnya bukan sepenuhnya dia berbohong tapi memang benar dirinya sedang berusaha menghubungi kakak laki-lakinya itu tapi selain kakak laki-lakinya ada juga laki-laki lain yang sedang dia hubungi. Siapa lagi kalau bukan pangeran es itu.