
Sesampainya di rumah Arga tampak begitu kelelahan. Bagaimana tidak tubuh Retha yang sekarang tidaklah sama dengan tubuh Retha pada awal menikah. Dulu tubuhnya kurus kering sedangkan sekarang tampak sedikit gemuk dari sisi manapun.
Mereka pun masuk ke dalam kamar mereka, sebelum membersihkan diri Arga terlebih dahulu merebahkan diri di sofa dalam kamarnya. Retha tampak menghela nafas, rumahnya masih saja sepi karena Noel belum juga pulang.
"Sayang bagaimana kalau kita jemput saja Noel dirumah papa mama?"
Arga tampak mengangkat sebelah alisnya, bagaimana bisa istrinya minta menjemput anak mereka sedangkan yang menyuruh Noel berlama-lama di rumah orangtuanya adalah dia sendiri.
"Sayang biarkan Noel disana mengenal keluarganya kakek dan neneknya!"
"Aku tahu sayang tapi Noel sudah satu Minggu disana aku takut Noel akan merepotkan papa dan mama." Ungkap Retha dengan nada khawatir yang kental.
"Hey papa dan mama tidak pernah merasa kerepotan bahkan mereka malah senang dengan kehadiran Noel rumah mereka jadi ramai."
"Emm sebagai gantinya begini saja sekarang istirahatlah nanti malam aku akan mengajakmu ke pesta ulang tahun temanku?" Tawar Retha sebab ini pertama kalinya dia mengajak Retha pergi ke pesta. Bukan tanpa alasan yang jelas tapi karena Arga tidak mau banyak orang yang mengetahui tentang Retha dan itu akan membuat Arga khawatir. Biasanya jika mendapatkan undangan seperti itu Arga akan mewakilkan pada Leo tetapi jika mendesak dia akan pergi sendiri.
Dia tidak mau Retha menjadi konsumsi publik. Dia juga amat sangat mengerti bagaimana menjadi bahan sorotan seperti dirinya. Itu sangat mengesalkan dan juga memuakkan.
"Sepertinya aku tidak bisa ikut, aku tidak pernah datang ke pesta. Aku takut jika hanya akan membuatmu menjadi bahan tertawaan!" Kata Retha. Dia memang sekarang menjadi nyonya muda keluarga Winata tapi mengenai pergaulan kaum elit seperti teman-teman suaminya dia belum pernah tahu. Dia tidak ingin Arga di tertawa kan karena kebodohan dirinya yang tidak bisa bergaul dengan kaum elit.
"Sayang kita akan baik-baik saja, mereka semua orang baik dan tidak akan ada yang menertawakanmu oke? Aku hanya tidak ingin kau bosan di rumah selama Noel tidak ada." Arga sedikit meringis, tidak semua orang kaya baik ada juga mereka yang memakai topeng untuk menutupi keburukannya.
"Baiklah." Akhirnya Retha hanya menurut saja berdebat dengan Arga hanya akan sia-sia karena pada akhirnya hanya akan ada Arga yang menang.
__ADS_1
"Oh ya nanti aku akan menyuruh Leo untuk menyiapkan gaun untukmu!"
"Tidak perlu Ga, aku masih memiliki banyak gaun." Tolak Retha memang benar dia masih memiliki banyak gaun tapi itu gaun terdahulu sebelum dia hamil sedangkan sekarang dia lupa jika gaunnya sudah tidak muat semua.
"Gaun apa yang akan kau pakai? Bukankah seharusnya gaunmu sudah kekecilan semua?"
Retha pun menepuk jidatnya sendiri, dia melupakan sesuatu yaitu bentuk tubuhnya yang sekarang yang sudah menyerupai gajah itu.
"Baiklah aku ingin mandi terlebih dahulu setelah itu menyiapkan sarapan untuk kita?"
"Don't want to take a bath together?" Retha pun membulatkan matanya, bisa-bisanya Arga mengajaknya mandi bersama di pagi setengah siang ini.
"Tidak, tidak. Terimakasih mandilah sendiri!" Ucapnya kemudian bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Mereka sudah satu tahun menikah tapi Retha tetap saja merasakan hawa panas jika Arga menggodanya.
Arga hanya terkekeh Retha tetap saja sama seperti dulu jika menyangkut urusan hubungan suami istri dia akan malu-malu. Entahlah Arga merasa sangat beruntung memiliki raga dan juga cinta dari Retha. Wanita itu adalah wanita luar biasa yang pernah Arga kenal.
Sekarang sudah pukul delapan belas waktu Jakarta. Retha dan juga Arga sudah bersiap untuk pergi ke pesta ulang tahun teman Arga.
Retha memakai gaun malam yang membalut indah tubuhnya. Dia memakai gaun berwarna krem dengan panjang sampai menyentuh lantai serta tanpa lengan. Dengan aksen sabuk yang menambah elegan tubuh Retha. Sedangkan Arga memakai tuxedo warna hitam dengan kemeja berwarna putih dimana membuat tubuhnya semakin maskulin.
Mereka pun berangkat menuju ke salah satu hotel bintang lima dimana tempat pesta tersebut diselenggarakan. Retha tampak gugup dan Arga menyadari itu. Dia segera menggenggam tangan istrinya guna menenangkan.
Retha memang mengetahui jenis-jenis barang dari kaum elit dan juga pernah membelinya. Tapi untuk bergaul dengan kaum elit Retha tak pernah sekalipun.
__ADS_1
"Don't panic, everything will be fine!"
Retha hanya mengangguk menenangkan dirinya sendiri.
Akhirnya mereka pun sampai di hotel Greenpeace, salah satu hotel termewah dan terbesar di Jakarta. Arga pun keluar dengan menggandeng tangan Retha. Melihat banyaknya tamu yang datang membuat Arga sedikit merasa ragu apakah keputusannya membawa Retha ke hadapan orang banyak adalah sudah benar.
Selama ini Arga hanya mengajak Retha untuk menemaninya makan malam dengan relasi bisnisnya. Itupun jika relasi bisnis tersebut sudah tua dan beristri. Jika untuk mereka yang muda Arga tidak pernah mengajaknya. Dia takut jika nanti setelahnya terjadi sesuatu yang tak diinginkan seperti jika relasinya jatuh cinta pada istrinya. Bukankah seseorang akan bertindak bodoh jika sudah menyangkut tentang cinta?
Mereka pun masuk ke dalam ballroom hotel yang sudah disulap sedemikian rupa untuk membuat para tamu undangan nyaman. Pesta mewah dan megah bisa terlihat dari dekorasi serta tamu undangan yang datang. Retha yakin jika pesta ini sudah memakan banyak uang tentunya.
Mereka berjalan menemui sang empunya yang punya pesta. Laki-laki tampan dan masih muda itulah pertama kali gambaran tentang laki-laki yang sedang mengadakan pesta ini menurut Retha. Jika dilihat-lihat mungkin usianya tak jauh berbeda dengan dirinya mungkin lebih tua laki-laki itu beberapa tahun saja.
"Selamat ulangtahun Hans!" Ucap Arga masih dengan suara dingin. Entah mengapa Retha juga tak mengerti, Arga akan selalu bersikap dingin jika dihadapan banyak orang. Mungkin jaga image, pikir Retha.
"Thanks Ar!" Jawab laki-laki yang bernama Hans itu kemudian melirik Retha yang sedang berdiri di samping Arga. Sedangkan Arga semakin mencengkram erat pinggang Retha.
"Istri atau...?"
"Istri lah bod*h banget sih Lo!" Kesal Arga mana mungkin kan dia mengajak wanita hamil jika itu bukan istrinya.
"Retha!" Kata Retha memperkenalkan diri dan hendak menyalami Hans tapi dengan sigap Arga menarik kembali tangan Retha yang sudah terulur itu.
"Jangan mencuri kesempatan dalam kesempitan, gue nggak ngizinin Lo pegang tangan istri gue!" Ujar Arga masih dengan nada yang ketus. Retha tampak mengernyit heran tidak biasanya Arga seposesif itu.
__ADS_1
Hans pun tersenyum memaklumi, istri Arga adalah wanita yang cantik dan elegan maklum saja jika Arga menjaganya dengan sungguh-sungguh. Dipertemuan pertama dirinya dan Retha saja Hans sudah terpesona dengan kecantikan Retha.
Mereka pun berbincang-bincang lama karena sudah beberapa waktu mereka tidak bisa bertemu karena kesibukan masing-masing. Sampai tiba-tiba datang seseorang wanita yang tiba-tiba saja memeluk Arga dengan erat dimana membuat tubuh Retha membeku seketika.