
Senja tampak terlukis indah di langit sore kota Jakarta yang seakan memancarkan sebuah kebahagiaan begitu pula yang sekarang dialami oleh dua orang manusia yang baru saja mengganti status mereka sebagai suami istri.
Setelah acara resepsi selesai beberapa menit yang lalu, Orin dan juga Marcel kembali ke dalam kamar hotel yang sudah mereka pesan untuk menghabiskan malam ini bersama. Sementara kedua orang tua Orin dan juga kerabat dekatnya mereka kembali ke rumah utama milik Daddy Arga. Malam ini mereka akan melakukan acara makan malam bersama sebagai bentuk rasa suka cita atas terselenggaranya pesta pernikahan mereka.
"Aku mandi dulu!" Kata Marcel setelah melepas pakaian bagian atasnya yang kini sudah bertelanjang dada hanya meninggalkan celana bahannya saja.
"Ya," Jawab Orin seadanya untuk menutup rasa gugupnya. Ini pertama kalinya dia melihat tubuh Marcel bagian atas secara langsung. Melihat tubuh bagian atasnya saja sudah membuatnya panas dingin, apa kabar dengan tubuh bagian bawahnya? Tidak, tidak memikirkannya saja membuat pipi Orin terasa panas.
Sementara Marcel masuk ke dalam kamar mandi, Orin segera menghapus make up dan mengganti gaunnya dengan pakaian santai. Gaun dengan berat hampir lima kilo gram ini sungguh menyiksa tubuhnya. Bayangkan saja sejak pagi dia harus memikul beban hampir lima kilogram.
Orin kembali duduk di pinggiran ranjang, kedua tangannya saling meremas untuk menutupi rasa gugup yang kini menderanya. Ini malam pertamanya sebagai istri Marcel dan itu berarti malam ini dia harus melakukan 'hal itu' dengan Marcel yang sudah sah menjadi suaminya.
Bukannya Orin takut melakukan 'hal itu' tapi dia tidak tahu bagaimana cara mengawalinya. Kata kedua sahabatnya nanti mereka pasti akan mengikuti nalurinya sendiri tapi Orin masih tidak mengerti juga.
Saat Orin sedang berperang dengan pemikirannya, tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka menampilkan pemandangan yang lebih indah dari sebuah lautan biru yaitu Marcel dengan tubuhnya yang masih sedikit basah keluar dari kamar mandi hanya dengan memakai handuk untuk menutupi tubuh bawahnya.
Damn! Marcel terlihat begitu seksi dan menggemaskan secara bersamaan. Dan jangan lupakan rambut basahnya! Ya Tuhan jika seperti ini setiap hari bisa-bisa jantung Orin meloncat dari tempatnya.
"Apa ada yang aneh dengan wajahku?" Tanya Marcel ketika Orin hanya diam menatapnya. Mendengar pertanyaan dari Marcel membuat Orin begitu gugup, bagaimana bisa dia melakukan hal itu? Sangat memalukan.
Orin menggelengkan kepalanya "Ti-tidak, ak-ku akan mandi du-lu!" Kata Orin kemudian berlari menuju ke kamar mandi sebelum itu dia mengambil bathrope yang sudah pihak hotel sediakan.
Marcel ingin tertawa melihat Orin yang melarikan diri begitu saja, bukannya dia tidak tahu jika Orin sedang gugup dan malu hanya saja dia tidak ingin lebih membuat malu Orin lagi dengan mengatakan jika wajahnya sudah merah padam bak kepiting rebus.
Sementara itu di dalam kamar Orin memegangi dadanya yang berdegup kencang. "Hey jantung tidak tahu diri! Kenapa kau berdegup kencang seperti ini. Itu hanya Marcel bahkan kau sudah pernah melihatnya sebelumnya!" Rutuk Orin pada jantungnya yang berdegup kencang seolah ingin melompat dari tempatnya.
Orin tidak habis pikir, baru menikah beberapa jam yang lalu sudah merubah arah pemikirannya. Yang dulu awalnya gadis polos tidak mengetahui hal-hal seperti itu tapi kini lihat gadis itu bahkan sudah membayangkan tubuh bagian bawah Marcel.
Setelah menyelesaikan ritual mandinya selama satu jam akhirnya Orin pun keluar dari kamar mandi. Bukan tanpa alasan Orin melakukan hal itu, dia ingin setelah keluar dari kamar mandi dia tidak merasakan hal gugup itu lagi tapi nyatanya semuanya sia-sia. Saat baru membuka pintu Orin sudah kembali gugup kembali.
"Kenapa mandinya lama sekali sayang hmm?" Tanya Marcel laki-laki itu masih memusatkan perhatiannya pada benda pipih yang sedang dia genggam.
__ADS_1
"Emm itu aku itu karena pegal! Ya badanku sangat pegal apalagi kakiku karena berdiri cukup lama jadi aku memutuskan untuk berendam agar mengurangi rasa pegalnya!"
"Kakimu pegal? Mau aku pijit?" Tanya Marcel sembari menikmati wajah Orin yang tampak gugup itu.
"Ti-tidak tidak perlu setelah berendam aku merasa lebih baik!" Jawabnya kemudian meraih sisir yang ada di dalam tas kosmetiknya. Kini Orin duduk di depan meja rias untuk menyisir rambutnya.
"Mau aku bantu?" Tanya Marcel kini laki-laki itu sudah berdiri dibelakang tubuh Orin. Sementara Orin terkejut sendiri, dia tidak tahu kapan laki-laki itu berjalan kearahnya dan sekarang bahkan sudah berdiri dibelakangnya. Bukankah laki-laki itu tadi sedang duduk di sisi ranjang yang lain?
"Ti-,"
"Ya aku rasa kau sangat memerlukan bantuanku!" Katanya kemudian mengambil alih sisir yang sedang digunakan oleh Orin. Dengan telaten laki-laki itu menyisir rambut Orin yang masih basah. Awalnya Orin ingin menggunakan hair dryer untuk mengeringkan rambutnya tapi Marcel mengatakan tidak perlu karena itu bisa merusak rambutnya.
Ketika sedang menyisir rambut Orin, beberapa kali Marcel mencuri kecupan di tengkuk Orin dimana membuat Orin merasakan gelenyar aneh pada tubuhnya.
"Sudah selesai!" Ucapnya kemudian membalikkan tubuh Orin untuk menghadapnya dan memenjarakan tubuh mungil sang istri dalam kungkunganya.
"Kau sangat cantik, kenapa setiap melihatmu aku selalu merasakan jatuh cinta lagi dan lagi?"
Perlahan jemari Marcel mengusap lembut bibir Orin mengirimkan sensasi yang membuat Orin memejamkan matanya. Rasanya aneh dan geli tapi juga nikmat diwaktu yang sama.
"Sudah lama aku menginginkan ini, apa boleh aku merasakannya?"
Entah setan mana yang merasuki Orin dengan sendirinya gadis itu menganggukkan kepalanya pertanda mengiyakan pertanyaan Marcel.
Cup.
Awalnya Marcel hanya menempelkan bibir mereka satu sama lain tapi lama-kelamaan Marcel mulai mempermainkan bibir Orin. Jangan ditanya bagaimana gugupnya mereka berdua, ini pertama kalinya mereka berciuman di bibir.
Perlahan tapi pasti Marcel mulai menggoda bibir Orin untuk membukanya. Sementara Orin karena gugup gadis itu meremas kaos yang sedang dipakai Marcel. Entah siapa yang mengawali sekarang mereka sudah berbaring di atas ranjang. Mereka yang sangat minim pengalaman hanya mengikuti naluri sebagai pasangan suami istri.
Marcel melepaskan tautan bibir mereka, bukan untuk berhenti melainkan melakukan hal yang lebih membuat Orin merasakan gelenyar aneh yang tidak dia mengerti. Marcel kembali mencium pipinya kemudian turun kerahangnya setelah itu kembali turun ke bagian leher Orin tak lupa Marcel meninggalkan banyak kissmark disana.
__ADS_1
Marcel kembali mencium wajah Orin, kini kening mereka saling menempel satu sama lain. Marcel melihat wajah Orin yang memereh dimana membuat gairah semakin besar. Tapi Marcel hanya akan melakukan itu jika Orin benar-benar mengizinkannya.
"Apakah kita bisa bercinta sekarang?"
Orin membulatkan matanya ingin menolak tapi dia juga menginginkan hal lebih dari ini. Akhirnya gadis yang sebentar lagi menjadi wanita itu menganggukkan kepalanya.
Setelah mendapatkan persetujuan dari Orin, Marcel segera melanjutkan kembali aksinya. Dia kembali mencium Orin dengan lembut namun juga menuntut. Marcel ******* habis bibir Orin, bibir yang sekarang bagai heroin untuknya.
Tangan Marcel tidak tinggal diam dan mulai membuka tali simpul bathrope yang digunakan oleh Orin. Marcel kesulitan untuk menelan ludahnya, tubuh Orin yang begitu indah dan hampir telanjang kini berada tepat didepannya.
Ciuman Marcel perlahan turun sampai di perpotongan tulang leher Orin. Dengan satu tarikan kini tubuh bagian atas Orin sudah tidak menggunakan sehelai benang pun. Marcel benar-benar sudah berada di puncak hasratnya. Marcel kembali menyusuri tubuh Orin dengan bibirnya. Saat tiba di salah satu gundukan kenyal milik Orin, Marcel berhenti untuk merasakan nikmatnya benda kenyal dan juga menggoda itu.
"Ahh...!" Desah Orin ketika Marcel ******* gundukan miliknya. Marcel bagaikan bayi kecil yang sedang kehausan hingga dengan rakusnya dia melahap dari gundukan satu kegundukan yang lainnya.
Selesai dengan permainan tubuh bagian atas Orin Marcel meperturunkan ciumannya lagi. Kini wajahnya tepat di tubuh bagian bawah Orin yang masih terbungkus kain berbentuk segitiga itu. Marcel segera menurunkan pembungkus itu dan membuangnya segala arah. Pemandangan inti Orin membuat tubuh bagian bawahnya tegang seketika bak tersengat aliran listrik ribuan volt.
Tak mau kalah Marcel segera melepaskan kaos dan juga celananya. Setelah itu dia kembali mendekatkan wajahnya di bagian inti Orin. Marcel mencium inti tubuh bawah Orin dimana membuat Orin merasakan sensasi yang menggelikan.
"Ahhhhh!"
Sudah tidak tahan lagi, Marcel segera mengarahkan pusaka miliknya kebagian inti Orin. Karena pertama kali melakukan hal itu tentu saja Marcel merasakan kesulitan memasukkan pusakanya pada inti Orin. Setelah beberapa menit dan dengan usahanya yang cukup keras akhirnya pusaka Marcel sepenuhnya memasuki inti Orin berbarengan dengan teriakan Orin.
"Awww sak-sakit!" Rintihnya dan bahkan matanya sudah berkaca-kaca. Marcel segera membungkam bibir Orin dengan menciumnya untuk mengalihkan rasa sakit pada intinya.
Marcel mulai memaju mundurkan pinggulnya sementara Orin hanya mengikuti yang Marcel lakukan. Sakit dan nikmat Orin rasakan secara bersamaan.
Setelah melakukan pelepasan beberapa kali, akhirnya tubuh mereka sama-sama terkulai lemas. Kini Marcel membaringkan tubuhnya disamping tubuh telanjang Orin. Mendekap wanitanya menyalurkan cinta yang begitu besar pada istrinya.
"Terimakasih sayang, kau sangat memabukkan!" Katanya kemudian mencium bahu telanjang Orin. Sementara gadis itu hanya menganggukkan kepalanya, tenaganya benar-benar habis sekarang.
AKHIRNYA AUTHOR BISA MENULIS PART ++ INI! Gimana menurut kalian masih kurang hot atau udah bikin haruedang? 🤣🤣🤣
__ADS_1