Istri Tuan Arga

Istri Tuan Arga
S2-episode 49


__ADS_3

"Mati saja kalian ba*Ingan!" Desisnya setelah melumpuhkan salah satu dari mereka.


"Marcel tolong aku!" Teriak Orin, dirinya sudah tidak perduli dengan norma kesopanan yang memanggil Marcel hanya dengan namanya tanpa embel-embel 'pak', sungguh dirinya sudah sangat kalut saat ini. Dia juga sangat bersyukur Marcel datang disaat yang tepat entah apa yang terjadi jika Marcel datang terlambat beberapa menit saja.


Marcel pun mengarahkan pandangannya pada Orin, terlihat wajah cantik Orin sudah berubah pucat pasi. Marcel benar-benar tidak bisa memafkan dirinya sendiri jika sesuatu yang buruk menimpa Orin. Seharusnya tadi dia mengantar Orin dan meninggalkan pekerjaannya di sekolah.


Marcel segera melumpuhkan dua orang yang badannya lebih besar darinya itu. Tak lama kemudian dua orang tersebut sudah tersungkur di kerasnya aspal jalanan. Marcel sedikit meringis karena tingkahnya sendiri yang tanpa sengaja menendang kaca spion mobil Orin. Sungguh dirinya terlihat sangat kacau.


Tanpa di duga seorang perampok tersebut mengeluarkan pisau dari kantung celananya lalu langsung mengarahkan ke leher Orin dimana membuat Orin berteriak histeris.


"Jangan...Jang...an lakukan ini kau pasti akan menyesal!" Peringat Orin pada satu-satunya perampok yang masih tersisa itu.


"Heh kau pikir aku bodoh! Kalah dengan bocah ingusan seperti kalian!"


"Lepaskan pisau itu!" Hardik Marcel, dia harus waspada apa yang akan terjadi kedepannya.


"Kau ingin aku lepaskan bukan? Sekarang mundur!"


"Tidak aku tidak akan pernah mundur!" Jawab Marcel dan bukannya mundur pria itu melangkahkan kakinya mendekati mereka. Sementara Orin meringis, harap-harap cemas kalau benar-benar perampok itu akan melukainya.


"Aku akan memberikan apapun yang kau minta tapi lepaskan gadis itu!" Perintah Marcel kini suaranya tidak sekeras tadi. Dia harus segera berfikir tindakan apa yang akan diambilnya.


"Jika aku meminta wanitamu ini bagaimana?" Tanya perampok tersebut sambil memiringkan senyumnya melihat wajah Marcel yang sudah merah padam sepertinya dia sudah bisa memancing amarah pria didepannya ini. Dan sekarang dia juga tahu bahwa gadis yang nyawanya berada ditangannya inilah kelemahannya.


"Tutup mulutmu ke*art!" Marcel semakin geram dan semakin mendekati Orin.

__ADS_1


sret...


Darah segar tampak keluar dari leher Orin. Pria itu benar-benar melakukan apa yang dia ucapkan. Marcel yang melihat itu pun berhenti ditempat seketika. Dia sudah tidak bisa membayangkan bagaimana gadisnya itu ketakutan.


Darah tampak sedikit menghiasi leher Orin, meskipun hanya sebuah goresan tapi karena leher Orin putih goresan sedikitpun pasti akan terlihat.


"Berhenti disana! Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku anak muda!" Perintah orang itu lagi, kini dia mulai membawa Orin untuk lebih dekat dengan mobilnya. Namun saat akan membawa masuk Orin kedalam mobilnya, tiba-tiba saja Orin menggigit lengan pria itu dimana membuat pria berteriak kesakitan.


"Awwww...!" Pekik orang tersebut merasakan nyeri pada lengannya. Karena merasa situasi sudah lebih aman Orin segera berlarian menghampiri Marcel. Dia segera memeluk erat tubuh Marcel.


"Tenanglah! Ada aku sekarang! Sekarang sembunyi dulu di belakangku!" Perintah Marcel kemudian menyuruh Orin untuk berdiri dibelakangnya.


"Ahh ternyata aku terlalu berlama-lama bermain dengan kalian!" Dan dalam sekejap pria itu menyerang Orin dan juga Marcel. Tapi Marcel sudah berjanji akan dirinya sendiri jika apapun yang terjadi Orin adalah prioritas utamanya.


Dengan sebisanya Marcel pun menendang pria tersebut dengan sekuat tenaga. Meskipun dirinya bukan laki-laki pemegang sabuk hitam taekwondo atau apapun itu tapi masa kecilnya yang keras sudah mampu membentuk pertahanan sendiri untuknya. Dengan sekali tendangan pria itu sudah tersungkur ke belakang. Marcel langsung menendang pisau yang jatuh dari tangan pria itu.


"Jangan menangis, sudah ada aku sekarang!" Ucap Marcel pria itu ikut bersimpuh sembari satu kakinya ditekuk untuk menahan tubuhnya. Orin sudah merosot ke aspal. Dirinya benar-benar ketakutan.


"Tolong tolong aku takut!" Ujar Orin sambil masih meneteskan air matanya. Marcel pun merengkuh tubuh ringkih Orin ke dalam pelukannya. Tanpa sadar dia juga ikut meneteskan air matanya melihat wajah sedih dari Orin. Orin sesegukan dalam pelukan Marcel.


"Jangan sedih lagi, kau sudah aman sekarang!" Kata Marcel dengan Orin masih dalam pelukannya. Lama mereka berpelukan untuk menguatkan satu sama lain. Setelah beberapa menit berpelukan, Marcel tak lagi merasakan tangisan Orin hanya terdengar sedikit isakan.


"Orin kita pulang dulu ya!" Hening. Orin tak menjawab ajakan Marcel. Marcel pun menautkan kedua alisnya, apa yang terjadi dengan Orin kenapa dia hanya diam saja.


Dilepaskannya pelukan Orin dan gadis itu hanya diam saja. Marcel pun segera meraih dagu Orin yang sejak tadi tertunduk. Seketika jantung Marcel rasanya berhenti berdetak, Orin memejamkan matanya. Pikiran-pikiran buruk langsung menghiasi kepalanya.

__ADS_1


"Orin bangun sayang!" Ujar Marcel, pria itu menepuk pipi Orin pelan namun gadisnya masih setia untuk memejamkan matanya.


Marcel pun segera mengangkat tubuh Orin memasukannya kedalam mobil Orin lalu merebahkan tubuhnya di samping kemudi tak lupa dia memakaikan seatbelt pada tubuh Orin agar dia tidak terjatuh.


"Baj*Ngan!" Geram Marcel kemudian dia menendang salah satu perampok yang menghalangi jalan mobilnya. Sebelum pergi dia menghindar beberapa orang untuk membereskan para perampok yang sekarat tak berdaya itu.


Marcel segera memacu kendaraannya membelah jalanan yang terdapat beberapa genangan air. Dalam perjalanan Marcel sempat berpikir kemana dia akan membawa Orin. Awalnya dia ingin membawa Orin ke rumah sakit tapi mengingat hal-hal yang dulu Marcel pun mengurungkan niatnya. Dia lebih baik membawa Orin ke rumah orang tuanya saja.


"Bertahanlah sayang!" Pinta Marcel sembari menggenggam jemari Orin yang dingin itu. Dia tidak dapat membayangkan bagaimana jika dirinya telat sedikit saja.


"Aku tahu kamu gadis yang kuat jadi bertahan ya! Aku nggak mau kehilangan kamu!" Ucap Marcel dengan nada sedih yang kentara. Dia pun mencium jari-jari lentik milik Orin.


Marcel kembali memacu mobil Orin dengan kecepatan penuh. Dia sudah tidak memikirkan motornya yang ditinggal, lagi pula tadi dia sudah mengirim beberapa orang untuk membereskan semuanya. Tak lama kemudian mobil tersebut pun sudah memasuki halaman rumah mewah. Untung saja beberapa penjaga di rumah Orin segera membuka pintu gerbangnya dengan cepat.


Setelah memarkirkan mobilnya di sembarang tempat, Marcel segera membawa Orin masuk ke dalam rumahnya. Salah satu asisten rumah tangga yang melihat Marcel membopong Orin pun berteriak karena terkejut.


"Ya Tuhan, apa yang terjadi dengan nona Tuan?"


Sementara itu dilain tempat, Daddy Arga benar-benar dibuat naik pitam oleh ke empat orang itu. Setelah ini dia tidak akan membiarkan orang-orang itu menghirup udara segar. Dia segera memanggil asisten Leo yang sedang berada di luar ruangannya itu.


"Leo...!" Teriak Daddy Arga dari dalam ruangannya. Laki-laki itu sudah menyambar jasnya. Asisten Leo pun segera menemui majikanya itu.


"Ya tuan?"


"Cepat datang ke tempat yang sudah aku kirim alamatnya di wa kamu. Dan pastikan orang-orang itu akan membusuk dipenjara. Diana juga sudah ada beberapa orang."

__ADS_1


"Baik tuan!" Jawab asisten Leo sebenarnya dia penasaran apa yang terjadi tapi sekarang dia harus menjalankan perintah tuan mudanya apalagi melihat wajah Daddy Arga yang sudah merah padam itu. Setelah mengatakan itu Daddy Arga segera keluar dari ruangannya dengan tergesa-gesa. Sebelum pergi Daddy Arga lebih dulu memberitahu pada sekretarisnya jika saat ini dirinya tidak dapat diganggu.


__ADS_2