
Tak lama kemudian beberapa waiters datang dengan mendorong beberapa troly berisikan macam-macam jenis makanan yang sudah khusus Marcel pesan. Marcel sendiri tampak mengulum senyumnya ketika melihat beberapa orang yang diundang menatap kagum pada restoran yang dia punya. Setelah itu para waiters itu menyerahkan makanan tersebut keatas meja. Mereka pun makan diselingi oleh canda tawa. Semuanya larut dalam obrolan yang mereka ciptakan tanpa ada ujungnya itu. Bahkan Oma Rani tampak begitu antusias mengobrol dengan teman-teman Orin yang notabenenya jarak usia mereka jauh.
"Berbicara dengan kalian mengingatkan masa muda Oma saja!"
"Benarkah Oma? Bagaimana masa muda Oma menyenangkan?"
"Menyenangkan sekali karena Oma mempunyai sahabat baik seperti neneknya Orin, tapi sayang kami berpisah cukup lama!" Jawab Oma Rani mengenang dulu pertemanannya dengan ibu Mira.
Mereka pun kembali larut dengan percakapan percakapan yang kadang membuat perut tergilitik. Tidak hanya itu saja Oma Rani tidak henti-hentinya bercerita tentang masa muda Daddy Arga yang terkenal badboy itu. Sementara itu Marcel hanya diam saja terkadang menanggapi hal tersebut dengan tersenyum. Bukannya tidak tertarik dengan percakapan mereka hanya saja dia sedang menata ucapan dan hatinya tentang apa yang akan dia ucapkan nanti.
"Gimana keadaan restoran dan kafe kamu Cel?" Tanya Daddy Arga memecah lamunan Marcel.
Marcel tersenyum sebelum menjawab "Baik-baik saja dad!"
"Apa rencana kamu kedepannya?"
"Untuk saat ini mungkin hanya akan menambah beberapa menu baru dan merenovasi desain-desain yang sudah tidak menarik lagi!"
"Tidak mau buka cabang lagi?"
__ADS_1
"Belum dad, kemarin baru buka kafe di Bali. Aku rasa waktunya belum tepat dan aku juga masih belum menemukan tempat yang cocok,"
"Jika butuh sesuatu jangan sungkan-sungkan untuk meminta bantuan Daddy hmm?"
"Tentu dad tapi untuk saat ini mungkin aku belum meminta bantuan masalah pekerjaan dan mungkin masalah lain!" Ucapnya sambil mendorong piring yang isinya sudah dia habiskan.
Daddy Arga tampak mengerutkan keningnya "Masalah lain apa?"
"Aku belum tahu masalahnya dad!" Jawabnya terkekeh dimana membuat Daddy Arga mendengus kesal. Tadi dia sempat berpikir mungkin jika calon menantunya itu mendapatkan masalah ternyata tidak.
"Apa kamu sudah memikirkan perihal resiko dengan keputusan yang akan kamu ambil hari ini?" Tanya Daddy Arga bukan dia tidak yakin dengan keputusan Marcel hanya saja dia sedikit sanksi dengan resikonya.
"Semoga hubungan kalian abadi sampai maut memisahkan!" Do'a Daddy Arga bagaimanapun juga Orin adalah putri satu-satu yang mereka miliki. Kebahagiaan Orin adalah segalanya untuk mereka. Dan kesedihan Orin adalah hal yang paling mereka hindari.
Dulu setelah mengalami penculikan, jiwa Orin benar-benar terguncang. Orang yang baru bertemu mungkin akan menyangka jika Orin kecil mengalami gangguan kejiwaan sebab saat itu hanya menangis dan histeris yang Orin lakukan. Padahal gadis itu hanya mengalami shock berat atas apa yang menimpanya dan lambat laun kehadiran Angga lah yang mampu mengembalikan keceriaan Orin. Perlahan tapi pasti Orin kembali ke semula gadis kecil yang akan merajuk dan mengerucutkan bibirnya ketika keinginannya tidak terpenuhi. Orin sangat bergantung pada Angga dan hanya Angga lah satu-satunya orang kepercayaan dan juga mengerti akan dirinya.
"Thanks dad, your family is everything to me. Thank you for your trust in looking after Orin and thank you for the love that Daddy Arga and Mommy Retha have given so far. I'm lucky to have you guys behind me. When everyone looks down on me for not having a family but you all are happy to make me one of you. I love all of you! "
"Menyayangi kami atau menyayangi putri kami?" Tanya Daddy Arga sambil mengangkat kedua alisnya.
__ADS_1
"Aku menyayangi kalian tapi aku juga mencintai putri kalian. Dasar aku serakah!"
"No no. You are the best for my daughter! "
"Thank you so much dad!"
Setelah sedikit berbincang-bincang dengan Daddy Arga, Marcel segera memanggil beberapa waiters untuk membersihkan meja bekas makan mereka dan menggantinya dengan dessert yang memang sudah Marcel pilih sendiri.
Sejak tadi kakinya tidak bisa tinggal diam, laki-laki menggerak-gerakan kakinya untuk mencari ketenangan atas kegugupannya. Selalu seperti itu jika dirinya merasa gugup kakinya seolah-olah bergerak-gerak sendiri untuk menetralisir rasa gugupnya.
"Em mohon minta perhatiannya semua!" Ucap Marcel mengalihkan semua perhatian orang-orang pada dirinya.
Marcel membuang nafasnya untuk mengurangi detak jantungnya yang berdegup dengan cepat. "Jadi emm aku umm...!" Semua orang tampak menunggu ucapan Marcel selanjutnya begitu pula dengan Orin yang berada disebelah Marcel. Gadis itu tampak mengerutkan keningnya heran melihat beberapa bulir keringat membasahi kening sang kekasih. Kenapa dia segugup itu? Apa yang ingin diucapkan oleh pria yang beberapa waktu terakhir ini mengisi hari-harinya?
"Ada apa?" Tanyanya sambil meremas sebelah telapak tangan Marcel yang berada dibawah meja seolah-olah memberikan sebuah ketenangan pada pria itu.
"Sebelumnya aku berterimakasih kepada semuanya yang telah menyempatkan waktunya untuk makan malam bersama disini. Sebenarnya ini semua adalah ide dariku karena aku mempunyai sesuatu yang ingin aku katakan pada kalian semua."
"Disini aku ingin meminta restu pada Daddy Arga dan juga mommy Retha. Dengan setulus hati, aku ingin melamar putri kalian untuk menjadi satu-satunya wanita yang selalu menemaniku dalam keadaan apapun. Menjadi satu-satunya wanita pertama yang kulihat ketika ingin menutup mata dan membuka mata kembali. Atas kebesaran hati kalian, apa kalian mengizinkan aku untuk menjadi bagian dari hidup Orin kedepannya?" Ucapnya dengan sekali tarikan. Dia sudah belajar merangkai kata beberapa hari ini. Setelah mengatakan itu Marcel segera memanggil seorang pelayan. Pelayan itu pun datang dengan membawa sebuah nampan yang berisikan sebuah kotak beludru dan satu buket bunga mawar mewah.
__ADS_1
Semua yang ada disana pun membelalakkan matanya kecuali kedua orang tua Orin yang sudah mengetahui rencana ini sebelumnya. Semua orang terkejut mendengar lamaran dari Marcel yang terkesan datang begitu cepat. Begitu pula dengan Orin, gadis itu masih seplechess dengan apa yang dia dengar barusan. Dia tidak sedang bermimpi bukan? Tidak. Sebab dia merasakan sakit ketika dia mencubit tangannya sendiri.