
Terhitung sudah sejak satu bulan setelah perbincangan mereka di kafe tersebut, kini hubungan mereka sudah semakin dekat seperti dulu lagi. Dan sekarang Marcel tidak perlu lagi harus pulang pergi Jakarta-Bandung setiap harinya cukup satu Minggu sekali di akhir pekan.
Seperti halnya akhir pekan hari ini, ketika matahari masih tampak malu-malu untuk menampakkan sinarnya Marcel sudah menginjakkan kakinya di Bandung lebih tepatnya di teras rumah Tante Metha. Entah semalam laki-laki itu tidur atau tidak Orin pun juga tidak tahu.
"Masuk dulu kak!" Sapa Orin ketika gadis itu baru membukakan pintu untuk Marcel. Orin benar-benar tidak habis pikir dirinya saja baru bangun tidur tapi laki-laki di depannya ini sudah rapi dan siap untuk berpergian. Bukannya Orin malas hanya saja hawa kota Bandung sangat berbeda dengan Jakarta, jika di Jakarta terasa panas lain halnya dengan di Bandung kita akan merasakan hawa yang sejuk dimana itu semua membuat Orin betah untuk bergelung dengan selimut.
Setelah menyuruh Marcel masuk, Orin segera kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Sementara Marcel laki-laki itu duduk di ruang keluarga bersama dengan om Viky suami Tante Metha. Karena sudah terbiasa dengan hawa dingin jadi keluarga kecil Tante Metha pun sudah terbiasa untuk bangun sepagi mungkin apalagi akhir pekan seperti ini. Udara sejuk pagi hari sangat cocok untuk berolahraga.
"Berangkat dari jam berapa Cel?" Tanya om Viky sembari meminum teh hangat yang sudah disiapkan oleh istrinya.
"Tadi berangkat jam empat om, takut kalo berangkat kesiangan nanti kejebak macet."
Obrolan antar laki-laki pun terjadi dimana obrolan tersebut hanya berisi tentang pekerjaan. Om Viky yang bekerja sebagai manajer salah satu mall terbesar di Bandung yang tak lain adalah milik keluarga Daddy Arga.
"Sayang sarapannya udah siap!" Itu suara Tante Metha yang sejak tadi sibuk untuk menyiapkan sarapan bersama satu asisten rumah tangganya dan juga dibantu oleh Orin meskipun Orin sendiri tak banyak membantu.
"Cel ayo sarapan dulu! Tante kamu udah masak banyak kayaknya hari ini!"
"Baik om," Marcel pun mengekor dibelakang om Viky menuju ruang makan. Disana sudah ada Orin, Tante Metha dan juga si kecil Naura tak lupa dengan hidangan yang sudah disiapkan oleh para wanita itu.
"Sini Cel, sarapan dulu!"
"Terimakasih Tante, jadi nggak enak ngerepotin Tante datang langsung makan!"
"Kamu kayak sama siapa aja sih Cel!" Jawab Tante Metha.
Acara sarapan keluarga di hari Sabtu pagi ini pun dimulai. Tidak ada yang bersuara hanya dentingan sendok dan garpu saja yang terdengar sebab di keluarga mereka sudah menjadi tradisi jika sedang makan untuk tidak mengeluarkan suara.
Setelah acara sarapan selesai, mereka segera kembali ke aktivitas masing-masing. Om Viky membersihkan diri dan setelah itu pergi bersama Tante Metha ke salah satu kebun binatang yang ada di sana sebab sejak kemari Naura merengek untuk pergi ke kebun binatang.
Sementara Orin dan Marcel mereka juga akan segera pergi ke suatu tempat yang sudah mereka sepakati beberapa hari yang lalu yaitu sebuah tempat wisata yang cukup terkenal di Bandung. Kawah putih.
Kawah putih adalah salah satu tempat wisata di Jawa barat yang terletak di kaki gunung Patuha. Kawah putih sendiri merupakan sebuah danau yang terbentuk dari letusan gunung Patuha. Tanah yang bercampur belerang di sekitar kawah ini berwarna putih, lalu warna air yang berada di kawah ini berwarna putih kehijauan, yang unik dari kawah ini adalah airnya kadang berubah warna.
Setelah menempuh perjalanan sekitar dua jam akhirnya mereka pun sampai di tempat tersebut. Hari ini mereka ingin benar-benar quality time hanya berdua saja maka dari itu Marcel juga memutuskan untuk mengendarai mobilnya sendiri tanpa sang sopir. Setelah mendapatkan tiket mereka segera memutuskan untuk masuk ke dalam. Mereka sudah tidak sabar untuk melihat keindahan yang kawah putih sajikan.
"Wahh indah banget sih!" Puji Orin, gadis itu benar-benar merasa sangat bahagia dapat menikmati pemandangan alam seperti ini. Maklum sebagai nona muda keluarga kaya yang hidup di ibu kota tentu saja sebagian hidupnya dihabiskan di untuk keluar masuk gedung bertingkat yang bernama pusat perbelanjaan atau istilah lebih kerennya mall.
"Emang sih Bandung ini tempat wisatanya banyak banget, udah gitu bagus-bagus lagi!" Pujinya lagi sambil berdecak kagum. Sementara itu Marcel sendiri tidak begitu menikmati pemandangan alam yang ada dia lebih menikmati pemandangan wajah gadis di hadapannya itu.
"Iya cantik sepertimu!"
Orin pun terkekeh, sekarang tidak ada Marcel yang dingin dan kaku hanya ada Marcel yang ramah dan murah senyum. Oh satu lagi sifat yang dimiliki Marcel, dimana laki-laki itu sekarang menjadi penggombal.
Mereka pun kembali berkeliling, menyusuri sepanjang perjalanan sembari saling menautkan jari-jari mereka. Sepanjang perjalanan mereka tak henti-hentinya bercerita tentang apa saja yang telah mereka lalui ketika mereka tidak saling bertemu.
"Lebih baik kita pulang sekarang, nanti takut jalannya macet sampai rumahnya kemalaman!" Ujar Marcel sembari menengok jam dipergelangan tangannya.
Akhirnya mereka pun meninggalkan wisata kawah putih tersebut untuk kembali ke Jakarta karena ada hal yang ingin mereka sampaikan kepada Daddy Arga dan juga mommy Retha tetapi sebelum itu mereka memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu salah satu restoran yang menjadi ciri khas kota Bandung yaitu Bebek Unti yang katanya menjadi icon wajib dikunjungi setelah pergi ke kawah putih.
Bebek Unti sendiri adalah salah satu restoran yang menggabungkan konsep keindahan seni patung atau ukir batu dengan alam yang asri. Sesuai namanya menu unggulan yang ditawarkan tentu saja aneka sajian bebek. Daging bebek disini pun terkenal karena memiliki tekstur yang lembut dan bumbunya yang meresap ke dalam dagingnya.
"Mau pesan apa mbak mas?" Tanya salah satu pegawai yang menghampiri mereka setelah mendaratkan bokongnya di salah satu kursi yang sudah disediakan.
"Sayang kamu mau pesan apa?" Tanya Marcel dengan lembut dimana membuat pegawai perempuan itu merasa iri dengan kedekatan mereka.
__ADS_1
Setelah melihat buku menu Orin pun memilih untuk memesan bebek goreng dengan sambal terasi sementara Marcel laki-laki itu lebih memilih untuk menikmati bebek panggang yang konon katanya begitu menggiurkan itu.
"Dirantos sakedap neng sama akangnya!" Ucap pegawai tersebut kemudian meninggalkan Orin dan juga Marcel.
"Menurutmu Daddy akan marah padaku atau tidak?" Tanya Orin sambil menunggu pesanan mereka tiba.
"Marah? Karena apa?"
"Aku yang masih belum dewasa dan kekanakan!"
"Hey lihat sini!" Katanya sambil menarik dagu Orin untuk menatap wajahnya. "Daddy sangat mengerti dan aku yakin Daddy pasti sangat memakluminya!"
"Tap-"
"Shuttt percayakan semuanya padaku!"
Setelah itu mereka pun segera menyantap makanan yang sudah tersaji. Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk menghabiskan makanannya, entah karena memang lapar atau karena memang rasanya yang begitu menggoyang lidah.
Sekarang mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju ibu kota lebih tepatnya rumah besar Orin. Hari ini mereka akan mengatakan untuk melanjutkan pernikahan mereka yang sempat tertunda beberapa waktu lalu. Sebenarnya bukan tertunda sebab masih ada satu bulan sebelum waktu pernikahan yang sudah ditentukan.
Setelah menempuh perjalanan selama tiga jam akhirnya mobil yang mereka tumpangi pun memasuki wilayah kota Jakarta. Kota yang hampir tidak pernah tidur itu. Selama perjalanan Orin menghabiskan waktunya untuk tidur. Mau bagaimana lagi gadis itu memang sangat mudah tertidur ditempat manapun.
Tak lama kemudian mobil yang di kemudikan oleh Marcel sudah memasuki halaman rumah mewah milik keluarga Daddy Arga. Setelah itu dia segera membangunkan Orin karena sudah sampai.
"Sayang bangun! Kita sudah sampai!" Kata Marcel sambil menepuk pelan pipi Orin. Sementara gadis itu hanya menggeliat tanpa berniat untuk membuka matanya.
"Sayang ayo masuk dulu, nanti mommy nungguin lho!"
"Hmm iya!" Jawabnya sambil membuka matanya yang terasa amat sangat berat itu. Marcel hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah gadisnya itu.
"Masuk rumah itu beri salam bukan teriak-teriak! Kamu ini kebanyakan main sama Naura jadi ikut-ikutan kayak Naura ya?" Gerutu mommy Retha sambil mencubit pipi gadisnya yang kian membulat itu.
"Aww sakit mom!"
"Salah sendiri! Kamu kesini sama siapa?"
"Sama kak Marcel, tuh dia lagi parkir mobilnya. Daddy belum pulang ya?" Tanyanya sambil celingak-celinguk mencari keberadaan daddynya.
"Belum paling juga sebentar lagi," Tak lama kemudian Marcel pun masuk kedalam rumah tersebut untuk menyapa calon mommy mertuanya.
"Sore mom!" Sapanya sambil mencium tangan mommy Retha layaknya calon menantu idaman.
"Sore Cel, kalian kenapa nggak bilang kalau hari ini pulang hmm?" Tanya mommy Retha sembari menyuruh Marcel duduk di ruang keluarga sementara Orin menuju ke kamarnya terlebih dahulu untuk membersihkan tubuhnya.
"Biar surprise mom!" Mommy Retha pun mencebik mendengar alasan Marcel. Orin sendiri memang jarang sekali untuk pulang ke rumah karena katanya jika pulang dia akan malas untuk kembali ke Bandung lagi.
"Ya sudah kamu juga mandi dulu sana di kamar tamu bawah sebelum Daddy pulang nanti kita makan malam sama-sama!"
*****
Makan malam pun tiba, meja makan yang biasanya hanya diisi oleh dua orang kini tampak berbeda ada dua anggota baru yang sekarang juga sedang menikmati makan malam mereka.
"Dad ada yang ingin Orin bicarakan!" Kata Orin setelah menyelesaikan makan malamnya.
"Masalah serius?" Orin pun mengangguk sebab memang masalah yang ingin dibicarakan adalah masalah serius.
__ADS_1
"Kita bicarakan di dalam ruangan kerja Daddy saja! Mom nanti suruh bibi buat anterin teh ke ruangan kerja Daddy!"
Setelah makan malam benar-benar selesai, Orin dan Marcel segera mengekor dibelakang Daddy Arga. Entah bagaimana perasaan keduanya tapi sangat terlihat jika mereka berdua sedang gugup.
"Jadi apa yang ingin kalian bicarakan?" Tanya Daddy Arga yang sekarang sudah duduk di kursi kebesarannya.
"Tentang pernikahan dad, Orin ingin melanjutkan pernikahan Orin sama kak Marcel. Maaf jika kemarin sifat Orin yang tidak dewasa!"
"Kamu benar ingin menikah di waktu dekat?"
"Iya dad kami memutuskan untuk melanjutkan pernikahan kita yang sempat tertunda." Kini Marcel ikut bersuara untuk menyampaikan pendapatnya.
"Daddy tidak melarang jika kalian akan menikah di waktu dekat hanya saja Daddy tidak mau baik Orin maupun Marcel meninggalkan kewajiban yang harus kalian selesaikan,"
"Maksud daddy bukanlah sekarang Orin sedangkan melanjutkan pendidikannya di Bandung sedangkan Marcel juga harus menjalankan usahanya yang ada disini. Setelah menikah kalian mempunyai kewajiban lain lagi sebagai pasangan suami istri. Dan jika kalian saling berjauhan seperti itu bagaimana cara kalian untuk memenuhi hak dan kewajiban sebagai pasangan yang sudah menikah. Daddy hanya ingin Orin melanjutkan pendidikannya karena itu dulu keputusan yang sudah Orin ambil sedangkan Marcel memindah usaha tidak semudah itu apalagi kalian tidak akan menetap di Bandung,"
"Daddy tidak bermaksud jahat pada kalian, hanya saja Daddy menegaskan tentang keputusan kalian terutama untuk Orin. Bukankah dulu kamu sendiri yang ingin kuliah di Bandung jadi sekarang kamu harus memperjuangkan keinginanmu bukan? Lebih baik kalian pikirkan kembali rencana kalian karena menikah tidak sama dengan orang yang sedang berpacaran, setelah menikah kalian akan memiliki hak dan kewajiban masing-masing!"
"Kalian bisa berdiskusi lebih dulu dan berikan jawabannya setelah kalian sudah benar-benar siap!"
Setelah mengatakan itu Daddy Arga keluar ruang kerjanya meninggalkan dua manusia yang sedang bergelut dengan pikirannya masing-masing.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
..
.
.
.
__ADS_1
Satu chapter lagi menjelang end guys! Gimana nih menurut kalian?