Istri Tuan Arga

Istri Tuan Arga
S2-episode 76


__ADS_3

Keesokan harinya Orin kembali menjalani aktivitas seperti biasanya. Dia sedikit kesal dengan mommynya, sebab mommy Retha memberikan hukuman yang sangat kejam untuknya. Bagaimana tidak kejam mommy Retha melarang dirinya bertemu dengan Marcel sampai ujian selesai. Sungguh menyebalkan! Untung saja mommy Retha tidak menyita ponselnya juga, bisa-bisa dia mati berdiri sampai mommy menyita ponselnya.


Setelah menyelesaikan sarapannya Orin berpamitan pada kedua orangtuanya lalu pergi ke sekolah. Sebenarnya ada sedikit rasa khawatir pada Orin, dia tidak tahu harus bagaimana menanggapi teman-temannya nanti. Mungkin orang tua maupun Marcel bisa membungkam mulut kepala sekolahnya tapi tidak mungkin bisa membungkam seluruh siswa yang ada.


Sesampainya di depan gerbang sekolah, Orin segera keluar dari mobilnya. Sejak tadi malam Marcel mengatakan padanya, jika dia harus bersikap acuh pada teman-temannya. Toh sekarang dia juga bukan guru lagi, jadi mereka bebas mau berpacaran kapan saja.


Dan benar saja ketika Orin keluar dari mobil beberapa siswi menatapnya dengan sinis tapi Orin berusaha cuek saja. Mereka mungkin adalah fans garis keras Marcel dan merasa tidak terima saja jika orang yang mereka idolakan berpacaran dengannya bukan salah satu dari mereka. Orin tetap melangkahkan kakinya dengan anggun tidak ada rasa tidak percaya diri padanya bahkan rasa percaya dirinya malah semakin meningkat.


"Udah sampai lu?" Tanya Aneta ketika Orin sudah mulai memasuki kelasnya.


"Udah. Mana si Felys belum Dateng?"


"Belum, tau tuh paling lagi di kantin. Lu tau kan tuh anak kagak bisa tahan laper!" Orin hanya menganggukkan kepalanya, dia sudah hafal dengan tabiat sahabat yang satunya itu. Felys memang tidak jauh berbeda dengannya, gadis itu penyuka segala macam makanan sama seperti dengannya tapi sangat berbeda dengan Aneta yang sedikit pemilih soal makanan. Dan tidak jarang juga mereka berdebat mengenai apa yang akan dimakan. Terutama Felys dengan Aneta karena mereka sama-sama keras kepala juga.


"Eh iya gimana masalah kemarin udah selesai?" Tanya Aneta sebab gadis itu kemarin tiba-tiba hilang dan membuatnya panik. Tapi setelah itu Orin mengatakan jika dirinya pulang terlebih dahulu.


"Udah kok!"


"Katanya pak Marcel udah nggak ngajar disini lagi ya?"


"Iya sebenarnya dia udah lama sih buat mengundurkan diri tapi katanya sama pihak sekolah belum boleh tapi sekarang kayaknya dia udah bener-bener keluar!"


"Emang lu kagak tanya?"

__ADS_1


"Iya tanya sih tapi gue kagak enak aja, dia udah bantuin gue banyak hal eh malah guenyaa ngejauh dari dia!"


"Iya lu emang b*go sih!"


"Enak saja!" Kesalnya sambil mencubit lengan Aneta. Bisa-bisanya temannya itu bukan membelanya malah mengatakan dirinya bodoh.


Tak lama kemudian seorang gadis tampak memasuki ruang kelas tersebut, siapa lagi kalau bukan Felys. Gadis itu datang dengan dengan membawa beberapa camilan dan juga minuman. Orin hanya menggelengkan kepalanya, bukankah mereka sedang akan belajar tapi kenapa sahabatnya itu malah membawa camilan banyak dikira mereka sedang akan piknik!


"Lu ud-"


"Hust jangan banyak bicara sebaiknya cepat duduk karena sebentar lagi bel berbunyi!" Dan


Kringggg


Akhirnya bel keramat pun berbunyi kembali, bel yang sudah ditunggu oleh seluruh murid. Apalagi kalau bukan bel istirahat. Teman-teman Orin pun segera berlarian keluar kelas untuk kembali mengisi tenaganya sebelum pelajaran selanjutnya akan segera dimulai. Begitu pun Orin dan sahabat-sahabatnya, mereka juga ingin pergi ke kantin. Awalnya Orin sempat ragu ingin pergi ke kantin, tadi saja ketika baru sampai beberapa murid memandangnya dengan sinis tapi Aneta mengatakan jika dirinya harus cuek dengan keadaan karena ini bukanlah salahnya memang siapa yang bisa memprediksi kapan datangnya cinta.


Baru saja beberapa langkah meninggalkan ruang kelas, langkah Orin dan sahabat-sahabatnya harus berhenti. Vanessa dan kawan-kawannya menghalangi jalannya. Ah rasanya Orin ingin menjambak rambut wanita didepannya ini. Karena ulahnya dia harus berurusan dengan kepala sekolah. Ya dia tahu siapa yang menyebar fotonya itu adalah ulah Vanessa dan juga Edo. Tadi malam Orin mendapatkan informasi tersebut dari Marcel.


"Masih punya malu buat sekolah disini atau emang udah nggak punya muka?" Tanya Vanessa lalu diikuti gelak tawa meremehkan teman-temannya.


"Jangan terlalu ikut campur urusan orang lain, nggak baik!" Jawab Orin lalu hendak pergi meladeni orang-orang sinting itu tidak ada gunanya.


"Eh lu cewek murahan nggak punya muka, masih punya nyali juga ternyata!"

__ADS_1


"Heh lu nenek lampir gila nggak punya otak, lu nggak ngaca apa emang nggak punya kaca? Yang nggak punya muka itu lu! Dari kelas satu deket-deket sama Alex eh sampe sekarang Alex masih ogah sama lu!" Hardik Aneta mulutnya sudah gatal jika hanya diam saja.


Vanessa pun diam, sepertinya keadaan sekarang berbalik sebab yang dikatakan Aneta benar adanya. Dari dulu dia ingin menjadikan Alex kekasihnya tapi sampai sekarang Alex masih enggan menerimanya bahkan jika dia tidak memaksa ataupun memberinya sedikit ancaman mungkin Alex sudah menjauhinya sejak dulu.


"Cabut guys, ngomong sama orang nggak punya malu tuh nggak ada gunanya!" Ucap Vanessa berlalu pergi, rasanya Orin benar-benar ingin merobek mulut jahat milik Vanessa.


"Jangan ladenin orang gila nanti kita ikutan gila! Mending cus kantin aja yuk!" Kata Felys lalu menggandeng tangan sahabatnya itu untuk segera menuju ke kantin.


"Lu tuh ya Lis bukan bantuin malah diem aja!" Kesal Aneta.


"Lah lu nggak perlu bantuan gue buat ngadepin si lampir sebab lu sendiri aja cukup. Dan satu lagi jangan panggil gue Lis, lu kira gue Lilis?" Kini Felys yang kesal pada Aneta. Sudah ribuan kali dia mengatakan jika tidak suka dipanggil Lis tapi lihat sahabatnya itu tetap memanggilnya Lis, menjengkelkan.


Akhirnya mereka pun melanjutkan perjalanan menuju kantin yang sempat tertunda. Tak beberapa lama mereka sampai dan di kantin sudah banyak yang mengantri.


"Daripada lu pada ribut mending pesen gih! Gue kayak biasa oke!"


Aneta dan Felys pun menurut apa yang diucapkan Orin. Mereka berdua mengantri sedangkan Orin mencari tempat duduk. Tak lama kemudian setelah mendapatkan tempat duduk, mereka berdua pun juga sudah sampai dengan membawa pesanan yang mereka inginkan. Orin hanya menggelengkan kepalanya entah bagaimana caranya kedua sahabatnya itu mendapatkan makanan dengan cepat.


"Rin ada yang mau gue omongin?" Orin pun mendongakkan kepalanya disana dia melihat Alex dan juga teman-temannya. Orin tersenyum, Alex pasti ingin menjelaskan perihal kemarin dan dengan senang hati Orin menyuruh mereka semua untuk bergabung dengannya.


"Lu ngapain nyuruh curut itu duduk sini!" Bisik Aneta pada Orin.


"Husst niat baik bukannya harus disambut dengan baik juga?"

__ADS_1


__ADS_2