
Selesai memberikan kabar pada orang tua gadis tersebut, Angga pun memasuki ruang perawatan Orin. Sebab sejak tadi dokter mengatakan jika gadis kecil tersebut tak kunjung berhenti menangis.
"Kakak...!" Teriak Orin ketika melihat Angga masuk ke dalam kamar rawatnya. Angga pun segera lari menuju ranjang tempat Orin berbaring sebelum gadis tersebut benar-benar menghancurkan kamarnya sendiri. Lihat saja padahal Angga baru meninggalkan kamarnya sebentar tapi barang-barang sudah bertebaran tidak pada tempatnya. Angga pun segera merengkuh tubuh kecil Orin. Memberikan kehangatan serta kenyamanan.
"Husst... tenanglah! Sekarang kakak sudah ada disini. Sekarang katakan siapa namamu hm?"
"Orin." Jawabnya masih dengan isakan. Dia benar-benar takut ditinggal sendirian.
"Sekarang Orin kau bisa tidur lebih dulu! Aku sudah menghubungi orang tuamu sebentar lagi mereka sampai disini!"
"Jangan tinggalkan aku kak! Aku takut mereka pasti masih mencari ku!" Ucap Orin, gadis tersebut tak henti-hentinya menitikkan air matanya.
"Aku tidak akan meninggalkanmu lagi. Sekarang kau bisa beristirahat!" Perintah Angga lalu mengurai pelukan Orin. Namun bukannya melepaskan pelukannya, Orin malah mengeratkan pelukannya sembari menggelengkan kepalanya.
"Nanti kepalamu sakit jika tidur dengan posisi seperti ini!" Kata Angga dia benar-benar tidak mengerti kenapa sekarang jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Apalagi sentuhan tangan kecil Orin seperti menyalurkan sengatan listrik tersendiri untuknya. Padahal dia juga kenal dengan gadis-gadis cantik teman sekolahnya tapi dia tidak pernah merasakan hal seperti ini ketika bersentuhan dengan mereka. Sementara Orin hanya menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju dengan usulan Angga.
"Baiklah, begini saja biarkan aku duduk disampingmu, kakiku akan kesemutan jika berdiri seperti ini terus-menerus." Kata Angga lalu menundukkan dirinya di samping Orin sementara Orin tak melepaskan pelukannya pada Angga barang sedikitpun.
"Sekarang pejamkan matamu dan tidurlah, ini sudah terlalu larut malam bahkan sudah hampir pagi!"
Angga berharap agar Orin cepat tertidur dan keluarganya segera datang. Dia takut meninggalkan neneknya sendirian di rumah tuanya. Apalagi sebelumnya dirinya tidak pernah pulang terlambat seperti sekarang. Jika pun dia pulang terlambat, pasti dia akan meminta izin terlebih dahulu agar neneknya tidak menghawatirkan kepergiannya.
Angga pun menoleh, melihat Orin yang masih setia memeluk pinggangnya. Cantik. Itulah kata pertama saat dirinya melihat Orin. Meskipun masih kecil tapi Orin seperti memiliki magnet tersendiri untuk menarik orang-orang disekitarnya. Angga menghela nafasnya ketika melihat kaosnya yang basah akibat air mata Orin. Sebegitu takutnya kah gadis kecil ini! Begitulah pikirnya.
Setelah cukup lama menunggu akhirnya Orin pun tertidur, mungkin karena mengantuk ataupun juga karena lelah. Lelah karena menangis. Angga mulai mengendurkan pelukan Orin kemudian dia dengan hati-hati meletakkan kepala Orin di bantal yang sudah disediakan.
"Huft akhirnya tidur juga!" Ucap Angga kemudian merenggangkan otot-ototnya.
__ADS_1
Tak beberapa lama kemudian terdengar suara ribut-ribut dari arah luar kamar.
"Ya Tuhan kenapa mereka ribut sekali, tidak tahu apa kalo disini ada bayi singa yang baru saja tertidur!" Gerutunya kemudian melangkah keluar untuk melihat kondisi luar ruangan.
Baru saja dia akan membuka pintu, tiba-tiba saja seseorang mendorong pintu tersebut hingga membuatnya terjengkang ke belakang. Dan akhirnya pantatnya yang indah menurut teman-temannya itu menyentuh dinginnya lantai rumah sakit.
"Paman jangan ribut-ribut disini! Atau dia akan terbangun lagi. Dia baru saja beristirahat!" Kesal Angga pada orang itu yang seenaknya sendiri.
"Ah ya ya aku tidak melihatmu, aku tidak sabar ingin bertemu dengan putriku!" Jawab Daddy Arga kemudian berjalan meninggalkan Angga yang masih terduduk di lantai.
"He? Bahkan dia tidak meminta maaf karena telah menjatuhkan ku?" Gerutu Angga kemudian bangkit dan mengikuti orang tersebut.
Daddy Arga hanya bisa melihat Orin dari jarak agak jauh, ingin sekali memeluk tubuh putrinya tapi dia juga tak ingin mengusik ketenangan dari wajah damai Orin. Daddy Arga hanya mampu menghela nafasnya melihat kening Orin yang sedang di perban dan beberapa luka lebam di lengannya.
"Bagaimana Le? Apa istriku udah perjalanan ke sini?" Tanya Daddy Arga pada asisten Leo yang sedari tadi mengekor di belakangnya.
Setelah itu dia mengamati laki-laki di sampingnya tersebut. Laki-laki yang tadi mengaku menyelamatkan putrinya..Dia bisa menebak laki-laki tersebut mungkin berusia sekitar enam belas tahun. Huft Daddy Arga menghela nafas, dia tidak tahu bagaimana caranya mengucapkan terimakasih pada laki-laki tersebut sebab dirinya tidak pernah mengatakan terimakasih pada bawahannya sekalipun.
"Emm jadi kamu yang sudah menyelamatkan putri saya?" Angga pun mendongakkan kepalanya menghadap Daddy Arga.
"Benar paman." Sementara itu Daddy Arga mengerutkan keningnya, bisa-bisanya bocah disampingnya ini memanggilnya paman.
"Saya tidak tahu harus mengucapkan terima kasih seperti apa!"
"Ah ya?" Tanya Angga tidak mengerti dengan ucapan orang di depannya itu. Apakah orang kaya sesulit itu jika ingin mengucapkan terimakasih?
"Saya akan memberikan apapun yang kamu mau sebagai tanda terima kasih telah menyelamatkan Orin!" Ucapnya kini mereka duduk di kursi samping ranjang Orin.
__ADS_1
"Tidak perlu paman, saya senang bisa membantu orang lain. Dan karena paman sudah datang saya permisi untuk pulang terlebih dahulu. Kasihan nenek di rumah pasti sudah menunggu!"
"Begini saja saat ini saya belum bisa memberi kamu apa-apa tapi nanti jika urusan putri saya sudah selesai saya pasti akan menemui mu lagi. Dan saya akan menyuruh sopir saya untuk mengantarmu pulang!"
"Tidak perlu tuan, saya tadi membawa motor sendiri." Jawab Angga tak enak. Lagipula dia sudah terbiasa berkendara sendiri.
"Bodyguard saya akan mengantarmu. Ini permintaan saya jadi saya mohon kamu untuk tidak menolak!"
"Baiklah jika paman memaksa. Saya permisi selamat malam!" Ucap Angga undur diri kemudian Daddy Arga menyuruh beberapa bodyguardnya untuk mengantar Angga pulang. Selang beberapa lama kemudian mommy Retha pun sampai di rumah sakit tersebut.
"Dad bagaimana keadaan putri kita?" Tanya mommy Retha sembari mengatur nafasnya yang terengah-engah.
"Dia baik-baik saja mom hanya beberapa luka saja. Tapi dokter tadi mengatakan jika Orin mengalami kecemasan yang berlebih dan dokter takut jika itu akan menyerang psikisnya." Mommy Retha pun hanya bisa menghela nafasnya setidaknya dia masih bisa menemukan putrinya.
Pagi hari ruangan Orin benar-benar sudah dibuat kacau oleh suara tangisan dari gadis itu. Sejak membuka matanya Orin tak pernah henti-hentinya menyebutkan nama 'Kak Angga' dimana membuat orang-orang disana tidak mengerti. Memang siapa kak Angga itu?
"Sayang tenangkan dirimu!" Ucap mommy Retha sambil memeluk Orin agar gadis itu lebih tenang.
"Orin mau kak Angga mom, kak Angga pokoknya kak Angga!" Teriak Orin sembari melempar beberapa barang yang dekat dengannya.
"Disini tidak ada kak Angga oke? Hanya ada mommy dan Daddy!" Ucapnya, mommy Retha masih sangat terkejut ketika tadi Orin terbangun dan melihat beberapa orang bodyguard yang berada di dalam ruangannya bukannya senang tetapi gadis tersebut malah ketakutan dan sebab itulah Daddy Arga menyuruh mereka untuk menuggu diluar saja. Dan sekarang mommy Retha mengerti jika putrinya akan takut bertemu dengan orang-orang asing.
"Aku sepertinya tahu siapa kak Angga! Mommy tunggu disini dulu, jaga putri kita!"
"Sayang Daddy akan bawakan kak Angga untukmu!" Ucap Daddy Arga lalu melangkahkan kakinya keluar dari ruangan putrinya.
Dan mulai saat itulah Angga menjadi semakin dekat dengan keluarga Orin. Bahkan mereka memboyong Angga dan juga neneknya untuk tinggal di paviliun samping rumah mereka. Awalnya tentu saja Angga menolak, merasa tidak enak dan juga berlebihan. Tapi melihat sorot memohon dari mata Orin, Angga pun tak kuasa. Laki-laki itu menuruti semua yang diinginkan Orin.
__ADS_1