Istri Tuan Arga

Istri Tuan Arga
50


__ADS_3

Setelah makan siang selesai mereka memutuskan untuk kembali ke villa. Hampir setengah hari bermain di air laut membuat badan mereka terasa lengket. Hanya kebahagiaan yang mengiringi perjalanan mereka kembali dari restoran. Baik Retha maupun Arga merasa sangat bahagia bisa menghabiskan banyak waktu untuk bersama meskipun ada gangguan dari bocah kecil itu.


Pekerjaan dikantor membuat Arga terkadang menjadi lupa waktu. Menjadi billionare diusia muda membuatnya menjadi seorang pekerja keras. Sebetulnya Arga terkadang juga merasa lelah dengan pekerjaan yang menumpuk setiap harinya. Tapi mau bagaimana lagi semua kerajaan bisnis yang dimiliki papanya sudah diserahkan pada Arga sejak Arga lulus kuliah.


Mencuri waktu luang seperti inilah yang bisa Arga lakukan untuk menghindari kertas-kertas yang minta dibubuhi tanda tangannya. Meskipun dia tahu setelah ini pasti sudah ada berbagai macam pekerjaan yang harus dia selesaikan. Mungkin mulai dari rapat yang membosankan sampai perjamuan makan dengan para koleganya.


Tapi semenjak Arga menerima kehadiran Retha sebagai istrinya dia sudah jarang pergi ke perjamuan makan para kolega maupun acara-acara keluarga dari partner bisnisnya. Terkadang dia menyuruh Leo asistennya untuk datang tetapi jika mendesak terpaksa harus dia sendiri yang datang.


Semenjak menjadi istri dari tuan muda Arga Retha tidak pernah sekalipun ikut maupun diajak oleh Arga ke acara-acara bisnisnya. Arga memang sengaja tidak pernah mengajaknya bukan berarti Arga tidak menyayanginya tetapi hanya saja Arga menghindari berbagai kemungkinan yang mungkin akan menjadi bumerang untuk dirinya sendiri.


Menjadi seorang pembisnis terkenal membuatnya harus tetap waspada terhadap kawan maupun lawannya sekalipun. Terkadang kita tidak tahu mana yang berpura-pura menjadi teman maupun yang menjadi teman sesungguhnya.


Tak terasa mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di halaman villa. Segera Arga memasukan mobilnya ke garasi. Setelah itu mereka keluar dari mobil untuk segera membersihkan diri. Paparan sinar matahari serta asinnya air laut membuat tubuh mereka terasa lengket.


"Jerry mandi dulu ya setelah itu tidur, oke?" Tanya Retha.


"Oke ma." Jawabnya sembari berlalu memasuki kamar mandi yang ada dikamar utama.


Arga memilih untuk pergi ke dapur meneguk segelas air terlebih dahulu untuk membasahi tenggorokannya. Setelah itu dia berjalan menuju kolam renang untuk duduk dipinggiran kolam renang. Dia mengambil handphonenya untuk menghubungi seseorang.


"Nanti kau jangan lupa jemput Jerry!" Ucapnya sarkastik pada seseorang diseberang telepon sana.


"Maaf ga nanti ak-" Belum sempat Steffy melanjutkan ucapannya Arga sudah menyela terlebih dahulu.


"Jemput Jerry nanti malam atau aku akan menghancurkan semua pekerjaanmu dan Justin." Tanpa menunggu jawaban dari seberang Arga segera mematikan ponselnya. Bukan hal yang sulit bagi Arga untuk membuat Steffy maupun Justin kehilangan pekerjaannya.


Sebetulnya Arga bukan tidak mau jika Jerry ikut dengan mereka tetapi mereka tidak memiliki banyak waktu lagi untuk menghabiskan bulan madunya. Karena sudah banyak pekerjaan yang menantinya di ibukota sana.


"Ada apa?" Tanya Retha berjalan dengan membawa beberapa camilan dan jus untuk menemani obrolan mereka. Entah sejak kapan Retha sekarang menjadi seorang yang suka makan baik makan camilan maupun makanan berat.


"Tidak ada apa-apa, tadi aku menyuruh Steffy dan Justin untuk menjemput Jerry."

__ADS_1


"Kenapa?"


"Kenapa apanya?" Tanya Arga yang tidak mengerti dengan maksud istrinya itu.


"Kenapa menyuruh kak Steffy untuk menjemput Jerry mereka kan sedang sibuk."


Arga pun gemas dengan tingkah polos istrinya itu. Bagaimana bisa dia mempercayai ucapan Steffy begitu saja.


"Jangan terlalu polos sayang mereka kesini bukan untuk bekerja tetapi liburan sama seperti kita." Jelas Arga.


"Tapi kan-?"


"Sayang tolong mengertilah kita sebentar lagi juga harus kembali ke Jakarta kalau Jerry tetap ada disini kita tidak mempunyai banyak waktu untuk berdua." Ucap Arga sedikit memohon.


Akhirnya Retha juga menyadari jika tujuan awal mereka kesini untuk liburan sekaligus bulan madu.


"Hmm baiklah, oh iya kapan kita akan kembali ke Jakarta?"


"Dua hari lagi mungkin karena izinku hanya sampai dua hari lagi, tapi jika kau masih ingin disini lebih lama juga tak apa, aku masih bisa bekerja dari sini."


"Hei kau meremehkan suamimu ya? Aku tidak akan bangkrut walaupun menghidupi orang satu pulau ini." Ucapnya sombong.


"Sombong sekali kau tuan." Dengus Retha.


Arga pun terkekeh, kemudian dia teringat sesuatu.


"Sayang boleh aku tanya sesuatu?" Tanya Arga yang tampak ragu.


"Tanyalah selagi aku bisa menjawab pasti aku akan menjawab."


"Tapi kau harus berjanji, kau tidak boleh marah ataupun bersedih?"

__ADS_1


"Yaa aku berjanji."


Sebelum Arga mulai bertanya dia berdehem guna menetralkan suaranya.


"Emm itu dihari pernikahan kita, kau datang sendiri memangnya dimana ayahmu?" Tanya Arga penasaran dan juga hati-hati karena semenjak menikah Arga belum pernah bertanya mengenai keluarga Retha maupun kehidupannya dahulu.


Retha pun tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Arga. Retha mengerti sekarang mereka sudah menjadi suami istri jadi harus terbuka satu sama lain.


"Ayahku meninggalkan aku, ibu dan adikku, sebenarnya bukan meninggalkan lebih tepatnya mengusir kita dari rumah peninggalan kakek."


Arga mengamati sorot mata Retha banyak beban yang terlihat disana.


"Saat itu aku masih kecil dan adikku baru lahir, ayah mengusir kita lalu membawa istri barunya kerumah. Semenjak saat itu aku sudah tidak pernah bertemu dengan ayahku."


"Apa kau membenci ayahmu?" Tanya Arga.


"Tidak juga, bagaimanapun sikap ayah terhadap kami dia tetap ayahku tanpa adanya ayah mungkin saat ini aku juga tidak ada. Dan aku mungkin juga tidak bertemu denganmu." Ucapnya sembari tersenyum manis.


"Oh Tuhan lihatlah dia wanita tangguh yang pernah aku temui." Batin Arga.


"Apa kau sudah memaafkan perbuatannya?"


"Aku tidak tahu, banyak kesalahan yang sudah ayah perbuat apalagi kepada ibu. Selama ini ibu menderita karena ayah. Aku memang tidak membencinya tapi aku juga tidak tahu bisa memaafkan atau tidak."


Sebelum melanjutkan ucapannya Retha mengambil nafas panjang. "Kau tahu, dulu ibu menentang kakek demi untuk menikah dengan ayah. Kakek dari dahulu tidak menyukai ayah karena menurut kakek ayah bukanlah orang yang baik. Tetapi karena cinta buta ibu pada ayah kakek mengalah mengikuti permintaan ibu untuk menikahkan dengan ayah."


"Bagaimana jika suatu saat kau bertemu dengan ayahmu?"


"Aku tidak mungkin bertemu dengannya lagi, aku juga tidak mau bertemu dengannya lagi. Ayah sudah bahagia dengan keluarga barunya. Ayah sudah tidak mengharap kehadiran kita lagi."


Arga merengkuh tubuh Retha untuk masuk kedalam pelukannya. Dia tahu istrinya menahan air mata yang sudah hampir keluar mengaliri pipinya yang merah.

__ADS_1


"Menangis lah jika itu membuat bebanmu berkurang, bercerita lah padaku jangan kau simpan sendiri bebanmu. Aku suamimu apa yang kamu rasakan aku berhak merasakannya juga."


Retha pun terisak dalam pelukan suaminya. Dia sangat berterimakasih pada Tuhan yang sudah mengirimkan suami yang begitu dapat diandalkan dalam keadaan apapun.


__ADS_2