Istri Tuan Arga

Istri Tuan Arga
S2-episode 77


__ADS_3

"Ada apa?" Tanya Orin penasaran sebab disana juga ada Edo dan bukankah Edo sudah mengkhianati Alex.


"Ada yang mau Edo omongin ke lu!"


Sebelum mengutarakan maksudnya, Edo lebih dulu menarik nafasnya dalam-dalam. "Rin, gue mau minta maaf sama lu!"


"Untuk apa?"


"Jadi sebenarnya yang nyebarin foto itu bukan Alex, tapi gue sama Vanessa. Gue bener-bener nyesel Rin, dan gue juga terpaksa lakuin itu semua karena ancaman Vanessa!"


Orin tersenyum, ternyata Edo tidak benar-benar mengkhianati persahabatan mereka. Edo hanya keledai yang dijadikan kambing hitam oleh Vanessa. Setidaknya Orin merasa lega, teman-teman Alex memang orang-orang baik dan juga bertanggungjawab begitu juga dengan Alex.


Sementara itu Aneta dan Felys membulatkan matanya mendengar ucapan Edo. Ternyata penyebabnya masih sama nenek lampir itu. Batin mereka.


"Iya gue tahu, gue udah maafin lu kok. Gue seneng karena persahabatan kalian masih baik-baik saja meskipun setelah adanya masalah ini!"


"Lo beneran maafin gue Rin?" Tanya Edo tak percaya sebab karena ulahnya lah Orin hampir saja dikeluarkan dari sekolah dan Orin memaafkan perbuatannya begitu saja.


"Iya Do, lagian lu terpaksa juga lakuin ini!"


Alex semakin kagum dengan sosok Orin yang sekarang, jika dulu Orin adalah gadis kecil yang tampak rapuh sekarang Orin sudah menjelma menjadi sosok yang begitu dewasa dalam menghadapi masalah.


"Wah si nenek sihir emang bener-bener perlu digulung nih!" Ucap Aneta sambil bersungut-sungut tak lupa tangannya meremas tissue yang ada didepannya.


"Bener Nyet, kayaknya tuh si nenek sihir perlu di lempar ke laut biar otaknya asin nggak cuma pahit doang!" Kini Felys juga menimpali ucapan Aneta. Raut wajah mereka sudah merah padam menahan amarah yang rasanya sudah sampai di ubun-ubun. Para laki-laki sahabat Alex sampai bergidik ngeri melihat keduanya.


"Lebih baik memaafkan kan daripada harus menyimpan dendam yang setiap harinya akan membuat hati kita semakin sakit!" Kata Orin kepada dua sabatnya itu dimana membuat Aneta dan juga Felys membelalakkan matanya. Ini Orin nggak habis salah minum obat kan? Kenapa jadi bijak benget!


"Lu Orin kan atau jangan-jangan robot yang mirip Orin?" Tanya Felys sambil memeriksa tubuh Orin siapa tahu ada sesuatu yang mencurigakan.

__ADS_1


"Lu gila ya!" Kesalnya hancur sudah sifat dewasa yang selalu Marcel ajarkan jika menghadapi kedua sahabatnya yang sedikit sinting itu.


"Habisnya lu kagak kayak biasanya! Atau jangan-jangan kepala lu habis kejedot ya!"


"Gigi lu tuh yang kejedot!" Jawab Orin membuat teman-temannya yang ada disana tertawa.


"Gue tuh nggak mau aja banyak musuh lagipula bentar lagi kita juga lulus!"


Ternyata Marcel memang membawa pengaruh baik padanya dan itu juga yang dirasakan oleh Orin. Marcel mengatakan jika menjadi seseorang yang pemaaf bukan berarti kita pecundang melainkan sebaliknya. Memaafkan kesalahan orang lain adalah hal yang hebat yang berarti kita mampu berdamai dengan diri kita sendiri.


"Rin gue mau min-" Belum sempat Alex melanjutkan ucapannya Orin terlebih dahulu memotongnya.


"Lex ada yang mau gue omongin berdua aja bisa?" Alex pun menganggukkan kepalanya kemudian berdiri mengikuti Orin dari belakang. Mereka berjalan keluar kantin, Alex masih mengekori Orin sampai mereka berada di taman belakang sekolah yang biasa digunakan anak-anak untuk membolos jam pelajaran.


"Duduk Lex!" Perintahnya dia tahu Alex pasti merasa tidak enak padanya sekarang dan dia tidak ingin ada jarak diantara mereka. Meskipun mereka tidak bisa menjalin hubungan yang lebih dari itu tapi bisa berteman bukankah hal yang baik.


"Lu nggak perlu minta maaf Lex bahkan sebelum lu minta maaf gue udah maafin lu kok!" Alex menatap Orin tak percaya sebegitu luas hati gadis disampingnya ini.


"Disini gue cuma mau minta sama lu buat lu hapus perasaan lu sama gue. Gue tahu mungkin lu anggap gue ini jahat, nggak pernah mikir gimana perasaan lu! Tapi itu semua nggak bener Lex, justru karena gue sayang lu sebagai temen, gue nggak mau bikin lu terluka lebih lama lagi. Lex gue yakin suatu saat lu bakalan dapetin yang lebih dari gue karena gue tahu lu itu orang yang baik!"


Ya dia tahu Alex adalah orang baik itu semua dari Marcel. Awalnya dia sangat membenci Alex karena menurutnya sikapnya itu sangat mengganggunya tapi dibalik itu semua ada sesuatu hikmah yang dapat dia ambil. Selama ini tidak pernah ada yang berani menggangunya sebab semua orang tahu terutama kaum laki-laki jika Orin adalah milik Alex, mana mau mereka berurusan dengan Alex dan gengnya.


Selain itu Alex tidak pernah macam-macam dengan dirinya. Alex masih sebatas wajar dalam menggapai hatinya. Mungkin jika Alex adalah orang yang jahat dan tidak berperasaan, Alex sudah memaksa Orin untuk menjadi kekasihnya namun laki-laki itu tidak melakukannya. Alex terkesan lebih ingin mendapatkan hati Orin sepenuhnya terlebih dahulu.


Dan juga jika Alex orang yang tidak tahu diri, dia pasti sudah memaksa opa dan omanya untuk melamar Orin setelah acara perjodohan mereka yang gagal. Selama ini pula Alex tak pernah melakukan kekerasan fisik padanya.


"Apa emang udah nggak ada harapan lagi buat gue Rin?" Tanya Alex memastikan sebelum dia mengambil langkah selanjutnya.


"Gue bener-bener minta maaf Lex, tapi gue nggak bisa. Lu udah gue anggep kayak saudara gue sendiri dan gue nggak akan lupa kok kalau lu pernah jadi pahlawan gue dulu!" Ucap Orin sambil terkekeh mengingat masa akan remaja mereka.

__ADS_1


Dimana dulu Orin adalah murid yang sama di sekolah Alex. Orin yang notabenenya anak homeschooling membuatnya jadi sulit untuk mendapatkan teman karena terbiasa sendiri dan menganggap dirinya bisa melakukan apa-apa dengan sendiri. Namun suatu saat beberapa temannya membulynya karena Orin yang lebih banyak diam. Tentu saja itu menjadi santapan empuk untuk teman-temannya membulynya. Dan saat itulah Alex menolongnya dan mereka menjadi teman dekat. Tapi selama itu pula Orin hanya menganggap Alex sebagai temannya dan tidak lebih.


"Gue ikut seneng Rin kalau lu seneng, semoga pak Marcel yang terbaik buat lu ya!" Ungkap Alex meski hatinya sedikit nyeri mengatakan itu namun dia harus merelakan Orin meraih kebahagiaannya sendiri meskipun itu tanpanya.


Orin pun menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan ucapan Alex, sebelum itu dia juga berkata "Gue harap lu juga bakalan tegas sama Vanessa. Dia anak yang nekat. Kalau emang lu nggak suka mending lu langsung ngomong apa adanya aja karena gue nggak mau ada Orin-Orin selanjutnya kayak gue gini! Mungkin kalau gue masih bisa hadapin itu Lex, gue punya orang-orang yang dukung gue sepenuhnya tapi kita nggak bakal tahu sama siapa lu bakalan Deket setelah ini dan gue nggak mau sampai kalau orang yang Deket sama lu bakalan dia kata-katain kayak gue!"


"Iya Rin, gue rasa gue juga harus lakuin itu sebelum Vanessa benar-benar merusak semuanya. Makasih banyak ya Rin, ternyata lu tumbuh dewasa lebih cepat daripada gue!" Katanya sambil mengacak rambut Orin. Setidaknya sekarang dia merasa lega meskipun tidak mendapatkan hati Orin tapi menjadi teman sekaligus pelindung gadis itu adalah hal yang terbaik.


"Hahaha sebenarnya gue nggak sedewasa itu kok, beberapa waktu ini aja banyak hal yang tiba-tiba terjadi sama gue dan itu membuat gue jadi harus berfikir dewasa!"


"Gue setuju sama lu, masalah lah yang mendewasakan kita. Boleh peluk?"


Orin tak langsung mengiyakan, dia masih menatap Alex menelaah maksud dari sahabat barunya itu.


"Hanya pelukan persahabatan?"


Tanpa menjawab Orin pun langsung memeluk Alex, dia tahu Alex memang orang baik buktinya dia bisa berlapang dada menerima keputusannya.


"Kayaknya gue tahu deh Lex orang yang cocok sama lu!" Ucapnya setelah melepaskan pelukan Alex.


"Siapa?" Tanya Alex penasaran.


"Aneta. Gue rasa cocok kok sama lu!"


"Big no Rin, meskipun dia wanita terakhir di dunia ini, gue bakal pikir-pikir dulu buat nikahin dia. You know that the sound is like slamming firecrackers?"


Orin pun tertawa mendengar ucapan Alex yang mengatakan jika suara sahabatnya itu seperti petasan banting.


"Ya udah balik yuk! Pasti anak-anak udah pada nunggu!"

__ADS_1


__ADS_2