
"Kau dikeluarkan!"
Seketika Orin menaruh sendok serta garpunya, matanya menatap laki-laki yang sedang duduk didepannya. Menatap matanya untuk melihat adakah kebohongan yang diucapkan oleh Marcel tapi sejauh ini mata tersebut menunjukkan keseriusan tidak ada bercandaan. Tiba-tiba nafsu makan Orin menguar begitu saja entah kemana. Sekarang makanan manis didepannya berubah menjadi hambar tidak berasa.
"You're kidding, right?" Tanya Orin masih tidak percaya dengan ucapan Marcel. Namun hanya helaan nafas serta gelengan kepala yang dia dapat. Itu berarti Marcel memang tidak bercanda.
Tidak. Ini pasti tidak mungkin! Dia dikeluarkan? Yang benar saja dia sudah kelas tiga sebentar lagi akan lulus. Lalu bagaimana nanti dia akan bilang masalah ini pada daddynya. Bagaimana tanggapan mommynya itu? Orin menggelengkan kepalanya masih tidak percaya dengan ini semua. Apalagi dia tidak akan mungkin bisa menghadapi raut kekecewaan dari mommynya.
"Semuanya sudah terlambat jika saja sejak awal aku mengetahui masalah ini, pasti aku akan berusaha sebisa mungkin agar hal ini tidak sampai terjadi!" Ucap Marcel lalu menatap lekat wajah kekasihnya. Sebenarnya dia merasa kasihan melihat wajah Orin yang tampak menyedihkan itu tapi mau bagaimana lagi, ini semua juga demi kebaikan Orin. Dia ingin gadis itu sepenuhnya percaya padanya dan tidak menyimpan masalahnya sendirian. Bukankah landasan dari sebuah hubungan adalah kepercayaan? Lalu kalau salah satu dari mereka tidak percaya bagaimana hubungan tersebut bisa berlanjut.
Sementara Orin merutuki kebodohannya, seharusnya dia tidak mempercayai ucapan Alex, si brengsek itu. Dan seharusnya dia lebih mempercayai Marcel ketika laki-laki itu bertanya apakah ada masalah. Ahh rasanya untuk saat ini Orin ingin benar-benar pindah ke planet Saturnus saja mengingat kebodohannya.
"Hwaa mommy... Orin mau sekolah mom hwaa!" Orin pun menangis sejadi-jadinya. Dia tidak ingin mengecewakan kedua orangtuanya tapi kalau sudah begini dia harus bagaimana lagi. Bodoh. Satu kata yang mewakilkan hidup Orin saat ini.
Mendengar suara tangisan Orin yang begitu kencang membuat beberapa karyawan Marcel hendak menghampiri tapi Marcel segera mengangkat telapak tangannya memberhentikan mereka dan menyuruh untuk kembali ke aktivitasnya saja.
"Mommy hiks hiks Orin mau sekolah, dad...!"
"Kenapa kamu nggak bilang masalah ini dari awal?" Tanya Marcel sembari memperlihatkan wajah kecewanya pada Orin.
"A-aku hiks aku nggak berani, Alex bilang kalau aku aku diem nanti dia juga nggak bakalan ngomong masalah foto itu ke siapapun!"
"Lalu setelah kamu menjauh dari aku, apa semua masalahnya selesai?" Orin menggelengkan kepalanya, masalahnya bukan selesai tapi malah semakin besar.
__ADS_1
"Jadi kamu lebih percaya pada Alex daripada aku?" Tanya Marcel lagi, suaranya sedikit dibuat lirih. Selama ini Marcel mempercayainya sepenuh hatinya, dia tidak pernah berfikir jika Orin macam-macam. Tapi sampai sekarang ternyata Orin belum sepenuhnya percaya padanya.
"Bu-bukan seperti itu, aku tidak mau kau berada dalam masalah!"
"Tidak mau membuatku dalam masalah tapi membuat dirimu sendiri terlibat dalam masalah?" Tanyanya tak percaya dengan sikap Orin. Marcel tidak menyukai Orin yang seperti ini. Marcel tidak mau seolah-olah Orin melindunginya. Yang dia inginkan adalah Orin selalu bergantung padanya. Itu yang Marcel harapkan dan dirinya harus berusaha keras untuk hal itu.
"Tidak seperti itu!" Katanya sambil mengacak rambutnya frustasi. Dia benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana respon mommynya mendengar berita ini. Padahal dia sangat menyukai sekolah jika seperti ini bisa-bisa mommynya menyuruhnya untuk homeschooling lagi. Tidak. Dia tidak mau. Homeschooling membosankan, hanya dirinya sendiri tidak ada teman.
"Lalu bagaimana, sungguh aku tidak mengerti denganmu Rin. Aku benar-benar sudah tidak bisa membantumu lagi. Seharusnya kau berkata jujur padaku!"
"Ma-af maafkan aku!" Ucapnya dengan takut. Bagaimana tidak takut Marcel menampilkan wajah dinginnya membuat Orin bergidik ngeri.
"Semuanya sudah terlambat!"
"Hahahaha...!" Marcel sudah tidak dapat menahan tawanya. Sungguh wajah frustasi Orin membuatnya begitu senang. Orin yang mendengar suara Marcel tertawa pun segera mengalihkan pandangannya.
"Kenapa tertawa?" Tanyanya namun tak mendapatkan jawaban dan Marcel hanya tertawa lagi.
"Kau mengerjaiku ya?" Tanyanya sambil menyipitkan matanya dan Marcel menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Ya Tuhan kau jahat sekali, aku sudah frustasi tahu gara-gara masalah ini!" Kesalnya kemudian melipat tangannya didepan dadanya.
Marcel pun menghentikan tawanya. "Maaf aku hanya bercanda!" Ucapnya kemudian mengatupkan kedua tangannya di depan dada.
__ADS_1
"Aku hanya ingin kau berbagi denganmu baik itu dalam senang maupun susah. Aku hanya mau kau percaya padaku. Jadikan aku kakakmu, kekasihmu dan juga sahabatmu dalam segala hal!"
Orin sebenarnya kesal karena Marcel mengerjainya tapi perkataan terakhirnya membuat hati Orin tersentuh. Marcel ingin menjadi segalanya untuknya. Marcel ingin Orin menyerahkan hidupnya sepenuhnya pada pria itu tapi Orin belum bisa.
"Maafkan aku!" Lirih Orin kini dirinya tidak berani untuk menatap Marcel. Ternyata laki-laki itu masih memiliki sisi dingin padanya.
"Jangan minta maaf, sebelum kau meminta maaf padaku aku sudah memaafkan kau terlebih dahulu! Aku hanya ingin kau berjanji untuk tidak mengulangi hal ini lagi dan berjanjilah apapun masalahmu kau akan berbagi padaku!"
Orin pun menganggukkan kepalanya tanda setuju. Dia sangat beruntung memiliki kekasih seperti Marcel. Marcel tidak pernah menuntut hal apapun padanya. Memang benar Marcel adalah sosok berharga untuknya, sikap Marcel yang dewasa dan pengertian sungguh membuat Orin takjub. Dia sadar jika selama ini mungkin dirinya masih kekanak-kanakan dan juga egois.
Jika Marcel seperti ini dia menjadi mengingat sosok lama yang ada dalam hidupnya dulu. Kak Angga. Menurutnya Marcel dan kak Angga memiliki sifat yang hampir sama, mampu menjaganya dalam hal apapun. Mereka selalu menjadi tameng sekaligus dewa penolong untuknya.
"Terimakasih!"
"Untuk apa?" Tanya Marcel sembari menautkan kedua alisnya tak mengerti.
"Sudah menolongku, aku tidak tahu lagi harus berterimakasih dengan apa lagi!"
"Lihat aku!" Ucapnya lalu mengangkat dagu Orin agar menghadapnya sebab sejak tadi gadis itu hanya menundukkan pandangannya.
"Tidak perlu berterimakasih, masalahmu adalah masalahku juga. Jika kau merasa khawatir aku pun sama. Setelah ini ku mohon jangan mengulangi hal ini lagi, aku tidak mau kehilanganmu dalam hidupku Rin!" Orin pun merasa trenyuh dengan ucapan Marcel. Sebegitu besarkah rasa cinta Marcel padanya. Dia merasa menjadi wanita paling beruntung saat ini memiliki kekasih seperti Marcel. Dia tampan, kaya, pengertian dan baik hati, bukankah itu sudah paket komplit?
"Baiklah." Ujar Orin sambil tersenyum.
__ADS_1
"Sekarang habiskan makanan yang sudah kau pesan, kau sungguh merepotkan karyawanku saja!" Orin hanya tersenyum malu melihat kembali seberapa banyak makanan yang sudah dia pesan.