
Saat hendak membuka pintu mobilnya, tiba-tiba saja seseorang menutup pintunya kembali dan membuat Marcel terkejut. Dia segera membalikkan badannya, melihat siapa gerangan yang menghentikannya.
"Bu Salsa?" Tanya Marcel terkejut.
"Pak Marcel saya tahu foto itu pasti hanya editan bukan? Saya tahu bapak tidak mungkin melakukan itu." Ucapnya dengan nada sedih. Tentu saja sedih setelah ini Marcel tidak mengajar lagi di tempat tersebut dan kemungkinan bertemu pasti akan sangat sulit padahal semenjak Marcel ada di sekolah ini Bu Salsa sudah mati-matian berusaha untuk lebih dekat dengan Marcel tapi laki-laki itu terlalu sulit untuk dirayu.
"Tapi sayang sekali Bu itu adalah saya!" Jawabnya sambil tersenyum miring dimana membuat Bu Salsa membulatkan matanya.
"Maaf Bu saya masih sekali urusan, jadi sampai berjumpa lagi di lain waktu!"
"Itu juga kalau ketemu dan aku harap tidak akan pernah bertemu dengan wanita tidak tahu malu ini lagi!" Batinnya kemudian masuk ke dalam mobilnya dan segera meninggalkan area parkir sekolah tersebut untuk pergi ke kafenya dan menemui Orin.
__ADS_1
Setelah cukup lama perjalanan akhirnya mobil yang ditumpanginya pun sampai di tempat parkir area kafe tersebut. Ini masih pagi dan tentu saja kafenya masih tutup dan sepi meskipun begitu karyawannya sudah berdatangan untuk menyiapkan segalanya sebelum kafe tersebut buka.
Ini adalah salah satu kafenya yang ada di Jakarta, tempatnya bisa dibilang cukup luas dan nyaman maka dari itu kafe ini jarang sekali sepi pelanggan sebab selain tempatnya yang enak juga karena menu yang lezat. Disini dia hanya menjual minuman serta beberapa camilan dan dessert sebab konsepnya berupa kafe untuk anak milineal bukan restoran seperti tempat lain yang pria itu miliki.
Marcel mengedarkan pandangannya mencari sosok yang sudah membuatnya kesal dan juga khawatir secara bersamaan siapa lagi kalau bukan gadisnya itu. Dia hanya mampu menggelengkan kepalanya ketika melihat Orin sedang duduk di tempat yang dekat jendela. Bukan itu yang membuatnya ingin tertawa tapi melihat meja Orin yang dipenuhi dengan berbagai macam makanan. Entah bagaimana nasib para karyawannya menghadapi Orin tadi dan sepertinya setelah ini dia harus memberikan uang bonus pada karyawannya. Dia sangat tahu jika Orin adalah gadis keras kepala dan semua keinginannya selalu ingin dituruti.
"Ehem!" Suara Marcel membuat Orin sedikit mendongakkan kepalanya namun tidak lama kemudian dia kembali menatap semua makanan dan minuman yang ada di mejanya.
"Hem." Jawabnya kemudian duduk di depan Orin dan sekali lagi gadis itu tampak tak terganggu dengan kehadirannya. Marcel sedikit menarik sudut bibirnya, dari dulu Orin tidak pernah berubah gadis itu tetap menyukai apa saja yang berhubungan dengan kata manis.
Marcel sempat dibuat geleng-geleng kepala dengan nafsu makan kekasihnya itu. Orin tidak pernah memikirkan mengenai berat badannya yang terpenting adalah kenyang. Sebab seberapa banyak gadis itu makan berat badannya bahkan tidak bertambah sedikitpun. Di depan meja Orin sudah terdapat beberapa sajian dessert seperti Caramel pudding, apple pie, ice cream, eclairs dan salad buah.
__ADS_1
"Coba ceritakan sekarang bagaimana semua itu bisa terjadi?" Tanya Orin dimana membuat Marcel mengerutkan keningnya, bukankah seharusnya dia yang mengatakan itu tapi kenapa sekarang malah keadaanya menjadi terbalik.
"Bukankah seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu?"
"Oh begitu ya?" Ucapnya sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ah melihat itu membuat Marcel gemas. Tidak. Dia harus sedikit memberi pelajaran pada Orin agar gadis itu percaya padanya dan terbuka padanya. Dia juga tak ingin masalah ini akan muncul lagi dikemudian hari.
"Kau dikeluarkan!"
*******************
Sabar ya readersku semua, karena aku sedang sibuk jadi hari ini aku upnya sedikit besok pasti dilanjut kok ❤️✌️
__ADS_1